Laman

Minggu, 06 Oktober 2013

Karena Gak Semua Orang Sama

Kali ini bukan pertama, kedua, atau ketiga kalinya. Ini beberapa kalinya.. Namun, yang ada hanya diam, mencoba mendinginkan isi kepala. Entah bagaimana seseorang belajar terhadap orang lainnya. Bukan meminta mereka untuk memahami kita, dan kita memang tidak harus memahami seseorang. Tak ada aturan yang menetapkan mereka harus mengerti kita, tak ada aturan pula kita harus mengerti mereka. Lalu bagaimana? Diam? Tak ada kata-kata? Tak ada interaksi? Bukan, bukan begitu.
Sama sekali juga bukan merasa benar sendiri, sama sekali juga bukan merasa nelangsa sendiri, dan juga bukan merasa ini yang terbaik sendiri. Hanya mengingatkan diri dan orang yang masih mau mengingat, bahwa kita hidup dengan berbagai macam orang. Tak ada yang sama, tak ada yang identik. Semua yang tercipta memiliki kekhasan sendiri, karena itulah individual differences.  Tak pernah mencoba memaksa mereka meminta memahami saya, namun tak juga memaksa saya memahami saya. Yang saya lakukan, hanya mencoba menyelaraskan berbagai perbedaan yang akan menjadi sebuah kekayaan dalam memandang hidup. Memberi saya kekayaan bagaimana saya beropini dengan kaca mata orang lain. Tak ada yang benar, begitu pula tak ada yang salah, karena sebenarnya kita lah yang menciptakan dua dikotomi itu, bukan semesta. 
Sekali lagi, bukan saya memaksa mereka membenarkan atau menyalahkan diri saya. Saya adalah pribadi yang sedang saya perankan kali ini.  Saya punya aturan, mereka juga. Semua punya aturan yang mereka ciptakan sendiri. Norma? itu kesepakatan, bukan masalah benar atau salah. Jadi, boleh kah saya beropini "baik" menurut saya, seperti opini "baik" menurut mereka?
Dan kali ini, sekali lagi, saya hanya mencoba mengingatkan diri saya dan siapapun yang masih mau mengingat, bahwa tidak semua orang sama, sehingga tak ada respon yang benar-benar sama ketika seseorang mendapat sebuah perlakuan tertentu.





Jumat, 27 September 2013

Feeling and Thinking




      Salam,

      Wahh, lama gak ngeblog nih. Ini kali kedua setelah sekian lama blog jadi usang selama beberapa bulan. Bukan alasan sih, tapi memang beberapa waktu terakhir ini jadi agak susah buat nyari "me time". Biasa, mahasiswa lagi kebanjiran tugas, hehe. Yahh hari ini meski jadwal padat merayap dari pagi, saya berusaha maksain diri sendiri buat ngeluangin sedikit waktu buat share lagi buat readers blog ini. Kali ini bahasan kita adalah sesuai dengan gambar yang saya postkan di atas. Bener banget, ngebahas masalah feeling dan thinking. 2 kata di atas ini sering saya bahas tiap pertemuan kuliah pastinya. Hayo, sapa yang tahu makna dari 2 kata di atas? 2 Kata itu pastinya hampir kita pakai dalam berkomunikasi sehari-hari secara sadar atau gak. 
         Dimulai dari kata pertama, yaitu feeling. Menurut Chaplin(1972), feeling atau perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi yang berasal dari stimulus, baik internal maupun eksternal. Gampangannya, feeling adalah aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan perasaan. Sifat dari feeling itu sendiri adalah subyektif berdasarkan pengalaman masing-masing individu. Oleh karena itu, erat kaitan antara feeling dan emosi. Biasanya nih ya, biasanya, orang yang sangat penuh dengan perasaan selalu beraktivitas dengan mempertimbangkan perasaan diri sendiri dan orang lain, bener gak?hehe *maksa*
       Berbeda dengan feeling, thinking adalah aktivitas mental yang melibatkan kerja organ otak kita. Nah, biasanya orang yang beraktivitas ini lebih dominan menggunakan logika-logika dalam menemukan penyelesaian sebuah masalah atau problem atau bahkan ketika ia akan melakukan aktivitas tertentu. Berbicara mengenai thinking, otak memiliki mekanisme kerja tertentu lho, siapa yang tahu bahwa  awal mulanya, manusia hanya memiliki 1 sel saja, yakni stem cell. berangkat dari 1 sel yang berisi sifat-sifat genetik ayah dan ibunya inilah terjadi perkembangan menuju kepada terbentuknya manusia dengan kompleksitas yang tinggi. Melalui 1 sel ini, akhirnya membelah menjadi 2 sel, kemudian 4 sel, lalu 8 sel, dan begitulah seterusnya sampai bermilyar-milyar sel di tubuh manusia yang memiliki fungsi yang bervariasi.  Dari struktur otak kita aja uda bisa tahu kalo otak kita itu jauh luar biasa daripada komputer atau gadget manapun yang sophisticated. Nah, di sinilah kita menggunakan satu organ tubuh kita untuk berpikir. untuk itu, gak ada alasan buat kita untuk gak bisa mikir, yang ada mah males buat mikir, hehe. 
      Feeling dan thinking memiliki peranan masing-masing dalam kehidupan sehari-hari kita karena kedua hal tersebut adalah cara kita memahami diri sendiri dan sekitar kita. kedua hal tersebut adalah fungsi dasar dari tiap individu. Oleh karena itu, kita gak bisa ngebedain apakah lebih penting feeling atau lebih penting thinking. Kalo kita memandang bahwa feeling itu gak penting, bagaimana kita bisa menentukan harus bersikap seperti apakah kita terhadap orang lain, apa yang harus kita lakukan ketika orang lain sedang mengalami sebuah kesusahan tertentu, atau bahkan kita tidak memiliki kepekaan pada diri kita sendiri. Begitu pula dengan pentingnya thinking, kita tidak akan pernah menemukan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan yang kita ajukan setiap hari. Bayangin aja, kita lagi ada masalah berat, terus kita males mikir, apa jadinya? Pasti masalah kita gak bakalan kelar-kelar. Nah, contoh nyata nih, kalo kita ujian semesteran, kita gak pake belajar(karena belajar juga melibatkan aktivitas thinking), apa jadinya nilai ujian kita? Pasti uda ketebak lah ya.  Yah, uda bisa dibayangin, apa jadinya kalo kita gak pernah menggunakan 2 aktivitas mental tersebut, bakal gak jauh beda sama zombie lah kita, hehe
       Berkaitan dengan pilihan kita mau menggunakan yang mana, mana yang mendominasi, itu tergantung kita lagi. Kita lebih bisa mengkondisikan pada yang mana. Yaaah bisa lah dinamakan kontekstual, tergantung kita nya butuhnya yang mana. Salah satu contohnya, seorang psikolog yang sedang menangani klien, klien bercerita tentang masalahnya ke psikolog tersebut. Eeehh tiba-tiba si psikolognya bengong nyimak doank, tanpa menampakkan perasaannya(ya gak lebai ala-ala sinetron juga sih, hhe), apa yang bakal terjadi? Yang ada kita tidak bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh klien, bagaimana perasaannya ketika ia sedang mengalami masalah tersebut. Begitu juga dengan thinking. Kalau ada klien datang ke psikolog minta sebuah penyelesaian dari masalahnya, eehh psikolognya cuman diem sambil ngedengerin cerita kilen dan akhirnya ceritanya  cuman sekedar lewat aja di kuping kanan/kiri, gimana tuh? bahasa gaulnya: ZOOONK banged kan?! hehehe..
      Menyadari pentingnya dua aktivitas mental di atas, banyak yang harusnya kita ketahui supaya kita bisa jauh mengoptimalkan apa yang Tuhan berikan pada kita selama ini. Jangan pernah sia-siakan atau menyepelekan kebermanfaatan kedua kata di atas. Yap, sepeti kata orang bijak, gunakanlah logikamu ketika kau berhadapan dengan diri sendiri, dan gunakanlah hatimu untuk bisa berhadapan dengan orang lain"


Salam , 
*FYI: kalo pengen iseng-iseng baca buku di atas, bisa mengunjungi perpustakaan UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA karena buku itu lagi bertengger di sana :)

Sabtu, 21 September 2013

Lapang sebelum Sempit

            Sabtu malam lagi. Postingan kali ini cuman sekedar sharing hal ringan sih, gak banyak, dan gak terlalu berat. Ya, setidaknya tidak seberat hal yang sedang dan AKAN aku hadapi nantinya. Yap. Masalah waktu. Dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan ini, hidupku serasa berputar 180 derajat. Beberapa bulan lalu, masih aja aku keliatan gelimbang-gelimbung gak jelas di atas kasur, nerawang rencana-rencana untuk jangka waktu pendek utamanya. Akan seperti apa rupaku sebulan ke depan, setahun ke depan? Dan bla bla bla yang lain. Terlintas di kepalaku untuk kembali melakukan aktvitas yang selama ini sempat berhenti semenjak hidupku hanya terisi untuk pendidikan formal. Yap, sejak perkuliahan dimulai, aku bahkan mengesampingkan hal-hal yang kusukai, salah satunya adalah berkarya melalui tulisan. 
         Selintas saja aku menitikberatkan untuk itu, kembali menyuarakan ide-ideku, mengasah kembali hal yang selama ini Tuhan titipkan padaku, namun tak pernah ku rawat. Akhirnya, sempat beberapa kali memposting tulisan-tulisan di blog ini, iya, blog yang lagi kamu baca ini, bukan blog sebelah yang entah sudah seperti apa sekarang. Waktu demi waktu kelewat. Sembari menunggu pengumuman, aku belajar menulis kembali, ada yang terpublish, ada yg tersimpan rapi di memori laptop saja. Bahkan meletakkan dimana cerita itu akan kubagi saja itu pilihan. Hingga akhirnya Tuhan menjawab waktu penantianku. Alhasil, aku kembali terdampar di dunia perkuliahan lagi. Bahkan kembali di tempat belajarku semula. 
     Seperti dugaanku sebelumnya, hidup kali ini, keinginanku akan kembali kubenamkan. Keinginanku untuk melakukan hal-hal yang tertunda selama ini harus ku pojokkan di sudut waktu yang entah kapan aku akan mengunjunginya. Kali ini, aku memang berhadapan dengan screen berukuran 14 inchi lagi, namun dengan aktivitas yang berbeda, content ketikan yang berbeda. Kali ini aku mendapat kesempatan untuk menunaikan hal yang baru saja aku mulai. Tuhan mengulurkan tanganNya melalui arah yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama, yaitu menginginkanku untuk menjadi lebih bermanfaat.
       Seperti yang aku katakan tadi, gak banyak yang bisa aku katakan kali ini. Hanya ingin berbagi, bahwa lakukan apapun hal yang ingin kamu lakukan selama itu memang positif dan bermanfaat. Selagi bisa memiliki waktu, lakukan, sebelum waktu-waktumu akan tersita oleh hal-hal yang tak akan bisa kamu elak lagi untuk memilihnya. Karena who knows, itulah awal dari langkah masa depanmu untuk bisa menjadi lebih baik dari apa yang kamu impikan, meski berbeda jalan dari rencanamu.
  Regards without any regret,





Senin, 22 Juli 2013

Why are you afraid what tomorrow will be?

"Manusia berencana, namun Tuhan lah Maha Penentu"

       Sering kita mendengar kata-kata itu selintas. Terlebih bulan-bulan puasa ini. Banyak sekali kata-kata motivasi, kata-kata bijak bertebaran, entah di televisi, di radio, di media sosial, dll. Namun tahukah, bahwa kata-kata seperti di atas bukanlah sebuah bualan belaka. Jika kita mau merenungi, betapa dalam kata-kata itu memiliki arti. Terlebih jika kita sedang menghadapi sebuah situasi tertentu yang memaknai positif kata-kata di atas.
       Tak ada yang salah dengan rencana. Tak sekalipun salah. Karena dengan rencana, hidup kita memiliki tujuan, dinamis, terorganisir, dan memiliki ritme, setidaknya jika rencana kita berjalan smoothly. Setiap manusia memiliki harapan bahwa setiap rencananya bisa terwujud, walaupun terkadang ada kerikil-kerikil yang menyandung. Semua manusia pasti menginginkan itu. 
       Namun, apa yang terjadi, jika salah satu, bahkan semua hal yang kita rencanakan tiba-tiba saja tak ada yang terwujud? Bahkan seberapa kerasnya usaha kita. Mungkin rasa kecewa, bahkan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri dan hal yang berkaitan dengan rencana kita adalah menjadi kemungkinan terburuk untuk terjadi. Hal ini karena manusia terlalu banyak menaruh harapan pada rencananya. 
    Seketika ada yang terlupa oleh manusia. Ia lupa bahwa segala rencananya terjadi atas campur tangan Tuhan, Allah. Mereka lupa bahwa ada yang lebih Maha Berencana daripada mereka sendiri, sekalipun yang mereka rencanakan adalah jalan hidup mereka sendiri. Bermain analogi, rencana kita seperti proposal kegiatan yang kita ajukan pada Sang Penentu, Sang Pemilik hak prerogatif. Kita boleh merancang sebaik-baiknya rancangan versi kita. Mau menjadi biasa saja atau menjadi luar biasa. Mau kita isi dengan kegiatan bermanfaat atau hanya sekedar menikmati nafas dengan santai, itulah yang kita tuliskan dalam proposal hidup kita di tiap harapan dan doa kita.
       Kemudian, kita meminta Acc pada yang lebih berhak untuk hidup kita seraya merayunya dengan doa, ikhtiar, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, bagaimana jika proposal tersebut ditolak olehNya? hanya ada kemungkinan tiga cara untuk kita merespon. Pertama adalah mencoba kembali, terus mencoba dengan segala upaya kembali sampai benar-benar kita merasa mendapatkan kode dariNya bahwa proposal kita tidak akan terlaksana. Kedua, kita mengajukan proposal lain, yang menurut kita itu adalah plan B. Menyusun dari awal, mengajukan lagi, berikhtiar lagi, dan merajuk lagi. Dan yang terakhir, kita benar-benar menjalani apa adanya. Ketika Dia berkata tidak, kita hanya menyerah pada proposal kita, dan lebih memilih untuk menjalani rancangannya tanpa kita berencana bagi hidup kita. Lagi-lagi, semua pilihan itu hak kita. Mau merespon seperti apa, itu pilihan kita. 
      Seperti salah seorang yang pernah berpesan padaku, ketika aku pernah mengalami masa-masa sulit karena salah satu rencanaku tak berjalan dengan lancar. Ia mengatakan bahwa Tuhan menjawab doa kita dengan tiga cara. Pertama, Dia menjawab langsung dengan mengatakan iya pada apa yang kita rencanakan. Dengan begitu, kita pasti merespon dengan senyuman puas, bangga, dan tentu kita bersyukur. Kedua, Tuhan menjawab tidak secara langsung, melainkan di lain hari, di waktu yang menurutNya jauh lebih tepat. Pada jawaban ini, kita dituntut untuk lebih sabar dalam mendapatkan jawaban iya dariNya. Hanya terbentur masalah waktu saja. Dan yang ketiga, Dia menjawab tidak, namun ada yang lebih baik menurutNya. Tahukah, bahwa Dia telah menyiapkan yang jauh jauh dan jauh lebih baik untuk kita. Ada yang lebih baik versiNya. Mungkin inilah yang kadang membuat kita kecewa. Menurut kita, rencana kita adalah yang terbaik bagi kita. Namun, ada yang jauh lebih baik menurutNya. Jangan lupa, Dia tahu yang terbaik bagi kita lebih dari yang kita tahu. 
      Saya menuliskan artikel ini bukan berarti saya tak pernah kecewa dengan hidup saya. Saya sering merasa kecewa, seperti yang kalian pernah rasakan. Namun mungkin seperti yang kalian lakukan, saya selalu berusaha menyembuhkan kekecewaan saya dengan merenungi pemaparan di atas. Betapa indahnya Dia berencana. Hanya saja, mungkin kita belum menyadari itu atau bahkan kita menyangkal hal itu. Tapi, itulah kenyataan. Tuhan, Allah, itu Maha Baik. Dia akan memilihkan mana yang terbaik untuk kita dan hidup kita. Bahkan saat kita sering salah menilai kebaikannya. Yakin saja, bahwa rencananya yang telah tersimpan untuk hidup kita memang pantas bagi kita. Therefore, Why are you afraid what tomorrow will be?




Minggu, 23 Juni 2013

Mimpi Itu ...(Fourth Part)

        Kali ini aku benar-benar dibuat mematung oleh lelaki berbaju abu-abu itu. Benar-benar tak pernah ku yakini bahwa ia kini nyata hadir di depanku. Setelah 12 tahun pertemuan terakhir, sekarang kembali pertemuan terjadi di tempat yang tak pernah ku sangka sedikitpun. Pertemuan yang langka ini tak ingin ku sia-siakan. Segera saja aku mengambil tempat duduk di belakangnya, tepat. Kebetulan saja sejak tak lama aku duduk, kursi di belakang Reihan kembali kosong. 
          Tepat di belakangnya. Inilah posisi tempat duduk yang sudah sejak beberapa hari lalu ku inginkan, namun baru saat ini aku bisa mendapatkannya. Duduk di belakangnya tak membuatku langsung melancarkan sebuah percakapan dengannya. Aku merasa frozen dengan tubuhku sendiri. Melihat tengkuknya, kepalanya, rambutnya, telinganya, sebagian punggungnya. 
         'Tuhan, dia seperti tak banyak berubah. Hanya lebih tinggi daripada pertemuan 12 tahun silam. Ya Tuhan, apa saat ini benar-benar nyata?'gumamku sambil menepuk-nepuk pipiku sendiri. Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini aku tak sedang bermimpi.
         'Auu..' Benar, kali ini aku tak sedang bermimpi. Kemudian ku tengok arloji di tangan kiriku. Rupanya masih 10 menit perjalanan. Itu artinya, aku masih bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan sejak beberapa hari lalu. Kali ini keberuntungan berpihak padaku. Kursi di samping lelaki itu kosong. Kesempatan  ini harus aku gunakan sebelum aku menyesalinya. Segera saja aku duduk di sampingnya. 
         Awalnya, lelaki itu tak menengok padaku. Tampak keacuhannya yang masih sama, tak berubah. Untuk itu, aku berpikir untuk menyapanya terlebih dulu.
        "Rei..han?"tanyaku pelan. Lelaki itu segera menoleh ke arahku pelan-pelan. Tak lama, ia memandangiku sambil mengernyitkan dahinya tanda kebingungan. Ya, ia pasti bingung, kemungkinan besar ia tak mengenaliku saat ini. Aku sudah cukup berbeda dibandingkan pada saat 12 tahun lalu, sementara dia, masih hampir sama. Rambutnya, garis wajahnya, warna kulitnya, dan.. senyumnya. Hampir tak berubah.
    Melihat responnya yang masih keheranan melihatku, segera saja aku berinisiatif membantunya untuk mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang duduk di sampingnya ini. 
                  "Zinda. Zinda Soraya Hidayati."
       Tiba-tiba saja matanya sedikit terbelalak. Ia sontak kaget mendengarku mengucapkan 3 frase nama lengkapku. Ekspresi itu tak lama berlangsung. Air mukanya kali ini berubah tersenyum. Ya, senyum yang tadi sempat ku lihat. Senyum yang sangat ku rindukan selama 12 tahun ini. Senyum menenangkan dari pemilik nama Reihan itu.
    "Zinda? Temen SMPku?"tanya dia dengan air muka yang masih dengan senyum menenangkannya. Aku segera saja mengangguk sedikit keras. Anggukan tanda setuju dan tanda senang. Hatiku benar-benar plong. Senang mengetahui bahwa ia masih mengingatku, meski aku harus membantunya untuk mengingat.
       "Iya, Rei." sahutku pelan. Kali ini giliran aku yang melemparkan sebuah senyuman padanya. Senyuman paling manisku pagi ini ku suguhkan pada lelaki ini. 
         "Haiiiii. Gimana kabarmu? Wah, gak nyangka kita bisa ketemu di kota ini, ya?"
        "Iya, Rei. Aku baik. How's your life? Kayaknya uda makin keren aja ni?"
      "Ah, kamu bisa saja. Aku di sini kerja, Zi. Di salah satu instansi pemerintah di Jakarta ini. kantorku tinggal deket lagi. Kamu gimana? Di sini kerja atau gimana?" rentetan pertanyaannya membuatku senang. Itu artinya dia ingin tahu kehidupanku saat ini di sini. 
      "Ohh. Aku juga kerja di sini, Rei. Aku kerja di salah satu perusahaan swasta di sini. Kantorku juga gak jauh dari sini. Tapi, kenapa jam segini kamu baru berangkat?"
       "Iya, beberapa hari ini aku ada sedikit perlu di tempat lain, ngurus beberapa dokumen penting, jadi aku ijin untuk berangkat agak siang. Yaah daripada ijin gak masuk, Zi."
       "Ohh, iya iya. Oh iya, kamu tinggal dimana di sini?"
       Dan bla bla bla bla.. Percakapan yang memakan waktu cukup singkat karena kami harus segera bekerja di kantor masing-masing. Seperti adegan-adegan film, obrolan singkat, dan berakhir dengan bertukar nomor ponsel.
       Ah, pertemuan yang manis sekali. Pertemuan singkat yang membuatku ingin berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan yang selanjutnya. Yap. Malam ini, sebelum pulang ke rumah kost, aku telah membuat janji dengannya untuk dinner bareng di salah satu restoran di wilayah  antara tempat kostku dan kontrakannya. Namun, satu yang masih mengganjal di dalam hatiku. Apakah... dia sudah memiliki tambatan hati untuk saat ini? Pertanyaan inilah yang menjadi misi selanjutnya bagiku dan harus aku pecahkan sesegera mungkin. Harus.


**** 

Senin, 17 Juni 2013

Mimpi Itu ... (third part)

          Sudah 3 hari berturut-turut ini aku bertemu dengan lelaki yang sama di bis itu. Sejak 3 hari yang lalu, bahkan aku masih mengenalinya walaupun ia mengenakan warna baju yang berbeda. Punggungnya yang cukup tegap, postur tubuhnya yang agak tinggi, dan potongan rambutnya yang rapi, menjadi sebuah ciri yang sudah terpatri dalam ingatanku. Hanya satu yang ku sayangkan, aku masih belum mampu melihat wajahnya dari depan, terlebih mengetahui namanya. 
          "Ah, siapa, sih, dia? Apa memang dia benar-benar... Ah, tidak mungkin. Tapi, sapa yang bisa menjamin itu bukan dia. Aaaahhh.. tauk ah. Pusing malahan kepalaku kalo mikirin siapa dia." gerutuku kesal. Pikiranku masih saja melayang di antara tumpukan kertas laporan dan laptop unguku. Tidak biasanya aku membiarkan "PR" kantor sampai berhari-hari belum ku selesaikan. Padahal, menurut orang-orang di kantor, aku adalah salah seorang pegawai yang cukup rajin dalam menyelesaikan laporan-laporan. Tapi kali ini, mungkin jabatan itu sementara harus ku tanggalkan dulu demi sebuah rasa penasaran yang terus menghantuiku sejak 3 hari yang lalu.
    "Lhaaaa......ternyata yaaa..." Terlalu asyiknya aku larut dalam dunia penasaranku, membuatku tak sadar bahwa Anita ternyata sudah tepat berada di sampingku.
       "Haduuuh. Elu ini kenapa bikin kaget orang aja, sih?"tanyaku kesal sembari merapikan serakan kertas laporan yang sudah entah seperti apa bentuk berantakannya saat ini.
        "Lha elu, gue panggil dari tadi dari pintu kamar lu yang kebuka, elu kagak juga nyautin gue. Kan gue pengen tahu, elu lagi ngerjain apa'an sampe gak denger gue panggil-panggil dari tadi." papar Anita.
        "Eh, enggak, gue bingung sama kerjaan gue ini. Biasa, kebanyakan "PR", hehe."sahutku sambil meringis.
       "Bentar, sejak kapan elu punya banyak "PR" kayak gini, sih? Setahu gue, bukannya elu termasuk pegawai yang dielu-elukan karena kerajinan elu, ya?"
         "Hehehe..."aku tak sanggup menjawab. Ada rasa sungkan untuk menjelaskan penyebab menimbunnya "PR"ku kali ini. Tiba-tiba tatapan Anita berubah. Ia mulai menyadari bahwa ada yang aku sembunyikan dari dia. 
       "Hmmm...Gue tahu, gue tahu. Elu lagi ada sesuatu yang elu pikirin, ya? Kenapa, sih? Cerita, donk. Gue pengen tahu, nih. Apa yang bisa ngebikin elu gak fokus gini sama kerjaan elu. Sampe segitunya." Anita terus mendesakku untuk menceritakan apa yang sebenarnya aku alami beberapa hari ini.
      Memang benar apa yang dikatakan Anita. Gak semestinya aku memikirkan hal yang bahkan sebenarnya sama sekali tidak jelas. Entahlah. Hal yang aku pikirkan berhari-hari ini cukup mengganggu rutinitasku. Beberapa laporan terpaksa harus aku bawa pulang karena aku tak cukup fokus mengerjakannya di kantor. Anita pun ternyata bisa mengamati perubahanku 3 hari ini. Itu artinya, dengan terpaksa, aku menceritakan apa yang aku alami sejak 3 hari lalu. Tak terkecuali mimpi aneh yang sempat menghampiriku. 
         "Ya ampun, Zinda sayang. Jadi selama beberapa hari ini kamu kepikiran hal kayak gitu? Elah, Zi, gue bilangin, ya. Itu cuman mimpi, Zi, bunganya tidur doank. Gak lebih. Elu selalu make feeling elu mulu, sih. Forget that, girl. Gak ada gunanya. "tutur Anita.
       "Iya, gue tahu, Nit. Tapi.. Ah, gue gak bisa jelasin. Firasat gue bilang, akan ada sebuah kejadian yang bisa ngerubah hidup gue sebentar lagi."tukasku.
       "Ya, semua  hidup orang bakalan berubah kali, Zindaaaa."
      "Aaahh... Elu kagak paham, sih. Makanya elu bisa ngomong gitu."
       "Oke, sekarang kamu maunya gimana? Kamu mau cuman mikirin ini doank? Mikirin terus sapa cowok yang elu liatin di bis itu?"
       "Gak, gue harus berbuat sesuatu."
      "Berbuat apa'an?"
      "Let's see tomorrow morning, yah." sahutku sambil tersenyum menggoda Anita.
       "Aaahh.. elu mesti gitu. Apa'an, sih?"
      "Misi rahasia gue donk."ucapku sambil tersenyum lebar.
                "Aaaaahh Zindaaa, kasih tauuuuu..."
      Tiba-tiba saja suasana malam itu menjadi berubah. Seakan aku menemukan sebuah cara untuk menjawab rasa ingin tahuku yang cukup tinggi ini. Ya, besok pagi lah yang akan menjawabnya.


****

      7.30.
     Bukan. Kali ini bukan baru saja aku terbangun dari tidur. Tapi kali ini aku bahkan sudah siap untuk berangkat ke kantor.  Berdandan lebih rapi dari hari-hari sebelumnya. Lengkap dengan memakai setelan hem berlengan pendek, blazer hitam, dan celana panjang hitam. Pakaian paling rapiku dalam seminggu ini ku persembahkan di hari ini, hari Jumat. Hari terakhir ngantor untuk minggu ini. 
    Kali ini aku berangkat lebih awal ke arah halte bis di depan gang rumah kostku. Tak jauh, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk bisa sampai di halte depan. Sesampai di halte, aku sempat merasa aneh sendiri. Tidak biasanya aku berangkat agak lebih pagi. Biasanya, aku mengambil waktu berangkat yang cukup mepet dengan masuk jam kantor. Tapi hari ini, khusus hari ini, aku melakukan sebuah usaha lain selain tujuan tidak terlambat ke kantor. Ya, hal yang paling menghantuiku 4 hari yang lalu. Aku ingin segera mengetahui siapa lelaki itu.
    Bis yang biasanya ku tumpangi ke kantor akhirnya lewat juga. Segera saja ku rapikan rambut dan bajuku. Setelah itu segera aku masuk ke dalam bis itu. Kali ini aku melihat kepala itu lagi. Tak banyak berpikir, aku segera mengambil tempat duduk ketiga dari depan. Bukan karena tempat itu yang dekat dari si pemilik kepala itu saja, tapi hanya itu saja kursi yang masih tersisa di bis.
      Masih dengan perasaan ingin tahu. Ku lemparkan pandanganku terus kepada lelaki yang memakai hem abu-abu di bangku paling depan itu. Hatiku masih terus bertanya-tanya.
      'Tuhan, ijinkan aku untuk memastikan siapa lelaki itu. Kalaupun dia bukan lelaki yang ku maksud, aku mohon, ijinkan aku memastikannya.' gumamku dalam hati. 
       Entah kenapa, beberapa saat setelah aku bergumam seperti itu, tiba-tiba saja lelaki yang sedari tadi aku amati, memutarkan tubuhnya 45 derajat ke kiri. Rupanya desakan dari seorang lelaki bertubuh besar yang berdiri di samping kirinya membuatnya tak nyaman, karena itulah ia memutarkan tubuhnya untuk melihat lelaki yang membuatnya tak nyaman itu. 
       Samar-samar aku menengarai wajah lelaki berbaju abu-abu itu. Dan.. tiba-tiba saja mataku terbelalak spontan. Jantungku berdegup semakin kencang. Mulutku tiba-tiba menganga kecil. Aku merasa sangat mengenal siapa lelaki itu. Dia .. Tuhan. Rupanya dia.

**** 

Minggu, 16 Juni 2013

Mimpi Itu .. (second part)


      Angan-angan yang tergambar di langit-langit kamar mulai buyar. Tak bersisa, bahkan satu bayangan pun. Merasakan bahwa sinar matahari yang memasuki celah dari lubang angin-angin kamarku mulai terasa panas, aku memutuskan untuk segera bangkit. Kembali pada rutinitas biasa, berangkat ke kantor. 
     "Zinda .. Zi.." sebuah suara memanggilku dari balik daun pintu kamar. Belum puas dengan panggilannya, suara itu terus memanggilku sambil mengetuk pintu kamar.
                  Tok tok tok tok ....

                  "Zinda .. elu uda bangun belum, sih?"
        "Anita. Ah.. kenapa selalu dia, sih yang bangunin gue tiap pagi? Uda ngalah-ngalahin mak gue aja dia." gerutuku kesal.
       "Iya, iya, Nit. I'd woke up, Nit."sahutku keras. Segera saja aku terbangun dari tempat tidur dan merapikan selimut serta sprei dan bantal guling. Yah, tak begitu berantakan sebenarnya karena perilaku tidurku yang kata orang-orang gak sebanyak waktu bangun. Ya wajar, sih. Orang namanya tidur ya anteng. Seusai merapikan tempat tidur, ku buka pintu kamar yang dari tadi jadi pusat tempatnya keberisikan pagi ini di kamarku.
        "Elu uda bangun dari tadi?" tanya Anita. Perempuan berkulit kuning langsat dan berambut pendek sebahu ini cukup cerewet kalau berbicara masalah kedisiplinan. Karena itulah dia jadi tukang bangunin anak-anak di kostan ini.
        "Gak juga, sih. Gue bangun sekitar setengah jam yang lalu. Emang kenapa?"
       "Lhah, uda bangun dari setengah jam lalu, kenapa elu masih acak-acakan gini mukanya? Elu kagak ngantor?"
      "Ya ngantor, Nit. Ini kan hari Senin." jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.
        "Yaudah, elu nunggu apalagi sekarang? Kan elu masuk jam 9, masih aja belom siap-siap."
       "Iya, iya baweeeeelll." ucapku seraya mencubit pipi tembem Anita. Perempuan di depanku ini sebenarnya berusia hampir sama denganku, hanya terpaut 3 bulan di bawahku. Tahun ini menginjak seperempat abad. Tapi beruntungnya dia, wajahnya masih seperti anak baru lulus SMP. Aku menyebutnya Cubi-cubi lalalalililii. Lucu memang.

 ****
       Sial! Benar kata Anita, gak akan bisa cukup waktu untuk berangkat ke kantor jika aku bangun saja jam 7.30. Terlebih, aku yang tak langsung mandi, melainkan masih menjalankan sebuah kegiatan yang... Ah, kembali teringat lagi. Lebih sial lagi. Kenapa di saat crowded di bis kayak gini aku harus teringat mimpiku semalam. Harusnya yang ada di kepalaku saat ini hanya satu kata. Kantor.
       Tak beberapa lama setelah proses teringat mimpi semalam di bis, aku merasa menikmati munculnya ingatan-ingatan semasa 12 tahun silam yang bahkan tak pernah sedetik pun terusik, sampai mimpi semalam yang benar-benar membuatku berpikir. Tak biasanya aku memimpikan hal yang tak pernah aku pikirkan sebelum tidur. 
        "Mbak, karcis."
       Aku bahkan tak sadar ada seorang petugas karcis yang berjalan di sampingku untuk menarik karcis penumpang. Segera saja aku merogoh uang di saku tas paling depan. Seperti biasa, sudah kusiapkan uang kecil untuk membayar karcis dan memberikan sedikit recehan pada penyanyi jalanan di bis. 
         "Ini, Pak."
         "Tumben agak siang, Mbak?"tanya petugas karcis di sampingku seraya melemparkan senyumnya yang terlihat sangat tulus. 
       "Eh, iya, Pak. Kesiangan bangun, hehe." jawabku seraya meringis malu. Sudah 1 tahun lebih bis kota ini jadi langgananku untuk menuju kantor. Tak ayal, bapak berusia sekitar 50 tahunan di sampingku ini sampai menghapalku dan jam-jam aku berangkat kerja. 
        Sembari menunggu uang kembalian membayar bis, aku mengalihkan pandangan mataku di bangku depan sambil melihat-lihat keadaan jalan raya di depan. Bolak-balik ku putar arah pandangan mataku, sampai aku menemukan sesosok lelaki berbaju biru muda, lebih tepatnya mengenakan hem biru muda dan memiliki potongan rambut yang cukup rapi untuk dilihat dari  sisi belakang.
        Melihat pemandangan itu, aku mengernyitkan dahiku sambil berpikir siapa lelaki yang ada di depan itu. Aku merasa familiar dengan potongannya. Namun, logikaku berpikir bahwa yang memiliki potongan seperti itu mungkin bukan hanya dia saja, tapi hampir semua lelaki berbaju kerah resmi seperti itu, dituntut untuk memiliki potongan rambut yang agak rapi. Tak urakan.
      "Ini, Mbak, kembaliannya." 
       "Eh, oh, iya, Pak. Terima Kasih, Pak." sahutku dengan gelagapan. Ya. Gelagapan karena terlalu asyik aku menanggapi hadirnya sosok lelaki familiar di bangku paling depan bis.
       "Ah, pasti bukan dia. Mana mungkin dia di sini. Mana mungkin saat ini aku bisa bertemu dia. Dan, mana mungkin ..." batinku bergumam, bertanya, dan ingin tahu, siapa pemilik baju berkerah warna biru yang duduk tenang di bangku depan itu. Mungkin... 
 ****

Mimpi Itu

             07.30.
        Ku buka mataku dengan sedikit malas. Ya, kali ini pagi menjemputku kembali dengan sinarnya yang sudah sangat terang untuk gelapnya dunia mimpiku. Seperti biasa, masih ku gulatkan tubuhku dengan kasur empukku dan guling yang sedari malam lalu berada tepat di sampingku. Ku peluk erat-erat sembari mengumpulkan kesadaranku dari mimpiku. 
         Mimpi. Yap. Aku teringat kembali rangkaian cerita apalagi yang menghiasi mimpiku semalaman. Singkat sekali durasinya, hingga aku sampai tak sadar bahwa aku harus segera melanjutkan rutinitasku pagi ini. Masih terpekur dalam proses mengingat. Mataku menerawang jauh di langit-langit kamar mengharapkan aku dapat mengingat kembali apa yang menjadi bunga tidurku semalam.
          Rupanya kali ini usahaku berhasil! Ya, aku mengingatnya. Semua cerita dalam mimpi yang telah terekam dalam ingatan, mendadak terproyeksi jelas tepat di putihnya langit-langit kamarku.
         Reihan. Ya, Reihan Firdaus Pambudi. Ternyata dia yang menjadi tokoh sampingan dalam mimpiku semalam. Aku mengingat lagi, cerita apa yang terangkai dengannya semalam dalam bunga tidurku. 

****

        Entah apa yang membuat Reihan berani melamarku. Aku yang bahkan seorang perempuan yang terlalu biasa baginya. Dia seorang pemimpi yang hebat. Salah seorang pemimpi yang juga mampu membuat setiap mimpinya menjadi nyata. Pendeknya, aku mengenalnya karena dia adalah salah seorang temanku di bangku SMP. Namun, tak ada yang menyangka bahwa aku memiliki tendensi yang berbeda dengan kebanyakan teman sekelasnya. Ya, aku mengaguminya. Bukan, aku bahkan sudah menyukainya. Perasaan lebih dari seorang teman sejak aku mengenalnya untuk pertama kali. 
           Tak pernah ku sangka, kali ini ia berani datang ke rumahku untuk mengajakku menikah. Menikah? Ku pikir, kapan aku memiliki hubungan khusus dengannya? Bahkan kemungkinan besar, dia tak tahu perasaanku yang sebenarnya padanya. Anehnya, tetiba saja dia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Ah, bodo amat. Bukankah ini yang aku inginkan dari dulu. 
       
          "Hei, kamu serius?
         
         "Seriously, I just want to marry u, Zi. Ini adalah mimpiku sedari dulu. Aku menunggu saat-saat seperti ini dari dulu."
          "Wait. Dari dulu?"
         
         Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil padaku. Ah, senyumnya yang begitu manis. Senyumnya yang membuat hatiku serasa tergetar ketika aku berusia 13 tahun. Meski hanya dengan mengingat senyumnya, dapat membuatku tersenyum juga, dulu. 
          "Sejak kapan, Rei?"
        "Sejak kita menjadi teman sekelas. Ya, sejak saat itu, aku begitu teracuni oleh keceriaanmu. Keceriaan seorang gadis berusia 13 tahun yang sedikit tomboi. Keceriaan yang membuatku berani untuk bermimpi sampai saat ini."
     Kali ini wajahku kembali memerah. Sumpah, ungkapannya kali ini membuatku bahagia sekali. Tak pernah sekalipun aku merasa seperti ini. Aku merasa ini bukan hanya sebuah rayuan manis lelaki biasa. Ini adalah ungkapan tulus darinya. Aku tahu siapa dia, tak mungkin ia mengeluarkan kata-kata seperti itu jika tak benar-benar merasakannya.
       "Jadi, kamu pun merasakannya dari dulu?"
       "Iya,Zi."
       Aku tersenyum kembali. Tapi tunggu, ini... bukan mimpi, kan? Aku menepuk pipiku
       beberapa kali. 
       "Awww..."

*****

     Ya, akhirnya aku mengingatnya. Cerita singkat semalam. Cerita singkat selama 2 jam tidurku. Sialnya aku terbangun sebelum aku tahu endingnya. Tapi, entah kenapa sebangun tidur, cerita berkesan itu malah hampir terlupakan begitu saja. 
        "Ah, harusnya aku tidak bangun sebelum aku tahu akhirnya.. ahhhh... Sekarang, mana  bisa mimpi itu terulang bahkan sesuai dengan yang ku mau.." gerutuku kesal sambil mengusap-usap rambutku. 
      Mimpi semalam, benar-benar sebuah harapan palsu bagiku. Aku berharap itu menjadi nyata karena hanya di mimpi itulah aku bisa bertemu dengan sosok lelaki berkulit sawo matang, bermata tajam, beralis tebal, sedikit cuek, yang bernama Reihan itu. Rasanya ada sedikit harapan bahwa dia benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku dulu. Tapi, untuk apa? Untuk mengenang bahwa aku pernah memenangkan hati lelaki berhati beku itu. Ah.. sayang, itu hanya mimpi.
        "Poor me.." ucapku lirih.


*****

Rabu, 29 Mei 2013

Saat Sayapku Terpatahkan

Tak pernah sekalipun aku punya bayangan untuk mengenalnya. Ya, Emil. Sebuah nama pendek yang selama 3 tahun ini menghiasi relung hatiku. Sayang, aku tak pernah tahu apakah hal itu terjadi sebaliknya atau tidak.

“Nir, aku punya sesuatu untukmu.”ucap Emil.

“Apa, Mil?”

“Ini, undangan pernikahanku dengan Ratna.” Jawab Emil.

Deg! Undangan pernikahan? Secepat ini? Bahkan…

“E.. memangnya, kapan kalian akan menikah?” tanyaku.

“Minggu depan.” sahutnya pelan.

Aku tahu, perasaan senang tak dapat dia sembunyikan dari semburat wajahnya.

Hal yang berlainan dengan hatiku. Tak sedikitpun dia tahu, betapa hati ini serasa tak berbentuk. Sakit. Sakit sekali. Perasaan yang selama ini tersembunyikan rapi dan selalu ku sangkal, sudah tak dapat ku simpan lagi. 

Sejak detik ini. Sejak undangan biru ini melayang di tanganku.

“Kau akan datang, kan, Nir?”tanya Emil sembari menatap mataku.

Datang? Ke pernikahannya? Bukan hal yang mudah! Hal yang hanya akan membuat hatiku semakin kacau. Bahkan sebelum ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ah, sayapku mulai retak sedikit demi sedikit, dan... patah!

“Eh… “aku hanya menjawab sembari mengembangkan senyum dusta. Ya, bagiku senyum dusta. Tak seorangpun yang tahu makna senyumku. Tak terkecuali lelaki bertubuh tegap dan bermata teduh di depanku ini.

Entah apa yang harus aku lakukan. Mimpiku lenyap. Bahkan sebelum aku mengembangkan sayapnya sedikitpun. Masih hanya tertahan di dahan. Melengkapi perasaan yang akan usang sampai nanti, tanpa ada yang mengusiknya. Sampai kapanpun.


Sesempurna Itu

Hujan masih mengalun sunyi di luar. Deras sekali. Tak ada yang bergerak di luar. Mungkin mereka enggan berkejar-kejaran dengan air hujan, atau mungkin bahkan ada yang alergi untuk sedikit berbagi cerita dengan hujan.

“Ema, apapun yang terjadi, aku masih akan tetap menunggumu. Kapanpun kau butuh, aku akan tetap berada di sampingmu. Mungkin memang, aku tidak bisa menjadi seperti Rama, lelaki yang kau idamkan selama ini. Namun, aku akan buktikan bahwa aku sangat mencintaimu.” papar Indra.

Aku ingat terakhir kali saat Indra mengatakan apa yang ingin diungkapkannya selama ini. Tak ada yang salah dengan Indra. Ia lelaki yang baik, sabar, mapan. Bahkan semua wanita di kampus memuja dan mengejarnya. Bahkan ada yang sampai rela bertahun-tahun menunggunya dan memberi perhatian padanya hanya demi dapat memenangkan hatinya.
Saat ini, Indra menjatuhkan pilihannya padaku. Seorang perempuan yang bahkan tak pernah memilihnya untuk menjadi pendamping hatinya. Aku bahkan tak sebanding dengannya. Ia terlalu sempurna.

“Maaf, Ndra. Tapi aku tetap tak bisa memilihmu. Kamu tahu, betapa aku mencintai Rama. Aku sangat mencintainya melebihi cintaku pada diriku sendiri.”ucapku

“Aku tahu, Ma. Aku mungkin tak dapat memenangkan hatimu.”

“Maaf, Ndra.”

“Tak apa, Ma. Aku hanya ingin kamu mengetahui bahwa aku tak sedikitpun berpaling darimu. Karena sejak pertama bertemu, aku telah memilihmu.”


Hujan masih terus mendongeng di luar sana. Menyerbu hatiku seperti cara Indra mencintaiku. Seperti tak lelahnya Indra untuk meyakinkan hatiku bahwa ia yang terbaik untukku. 

Minggu, 26 Mei 2013

Transformasi untuk Keempat Kalinya

Sore ini, saya memiliki sebuah misi perjalanan baru, yang akan berlangsung selama 1 bulan ke depan.

Bukan misi rahasia, namun misi yang mungkin bisa menjadi sebuah prolog bagi misi-misi selanjutnya dalam segmentasi hidup saya nantinya. 

Tepat jam setengah 4 sore, saya menginjakkan di kota baru yang akan menjadi kota singgah saya sampai saya bertemu satu purnama lagi nanti.

Luas, cerah, ramai. Ya, begitulah kesan pertama saya dengan tempat ini. Ini bukan kali pertama saya berpindah tempat tinggal, namun ini adalah kali keempat saya berpindah tempat demi menjalankan sebuah misi.

Misi kali ini, saya ingin menenggelamkan diri saya sementara dan kembali pada apa yang harusnya saya dapatkan dari dulu, yaitu menimba ilmu lebih dalam mengenai bahasa asing. 

Berat memang tiap kali meninggalkan rumah, untuk menuju kota lain yang tidak dalam waktu singkat saja. Di sini, saya bertemu dengan orang-orang baru lagi. Banyak sekali. Tempat ini terdiri dari 2 lantai, dan saya tepat berada di kamar pojok lantai atas. 

Tempat baru lagi, penyesuaian diri lagi, berkenalan dengan berbagai macam jenis orang lagi. Ya, harusnya ini merupakan tantangan menyenangkan bagi saya. Namun, ada satu arti yang terpendam di sudut hati saya. Ada beberapa ketakutan, harapan, dan mungkin imaji-imaji yang telah terdeksripsi di otak saya. 

Ah, tak apa, hanya satu bulan saja, kan? Belajar tidak mengenal kata terlambat. Yang terpenting adalah tidak putus asa untuk terus belajar :)







Pemandangan Bangun Tidur yang Tak Lagi Sama :)

Rabu, 22 Mei 2013

Sekotak Mimpi Besarku

                Kotak kecil biruku masih tersudut di sana, di pojok tempat tidur.  Telah lama sebenarnya aku tahu ia hanya akan terpojok di sana, karena pada akhirnya, aku telah kalah oleh waktu.
                “Harusnya kamu dulu terima tawaran Rian untuk bekerja di Jakarta, banyak yang akan kau dapat di sana nanti.” Ucap Fatin.
                “Aku hanya ingin menjadi apa yang aku mau dari kecilku, Tin. Bukan menjadi apa yang diinginkan orang lain. Menjadi penulis adalah impian terbesar dan tergilaku. Aku tahu, tak banyak hal yang bisa menjanjikan kesuksesanku nanti.” terangku kesal.
                Masih dengan kotak biruku, penuh dengan berbagai macam buku tulis yang berisikan tulisan tangan dari semua cerita yang aku ciptakan sendiri dalam khayalku sejak usia bangku Sekolah Dasar. Bangku yang cukup belia untuk memulai melantik diri sebagai seorang penulis. Konsisten. Setidaknya itulah sifat impianku. Aku tak mau kalah oleh apa yang orang lain paksakan padaku.
                “Nan, kau harus realistis, dunia gak akan kau kuasai hanya dengan menjadi seorang penulis. Kau lihat sendiri, betapa banyaknya penulis yang dengan bangga mendeklarasikan bahwa ia adalah penulis handal. Namun apa, kau lihat? Tak banyak yang akhirnya bisa benar-benar bisa memenangkan pertarungannya.” Tukas Fatin
                “Aku tahu, itulah yang harus aku ubah, Tin. Aku tahu aku pemula. Di sinilah titik perjuanganku untuk bisa menjadi di antara mereka. Dan aku pasti bisa menjadi di antara mereka!” ucapku dengan penuh kesal.
                Masih terngiang-ngiang apa yang Fatin katakan padaku satu tahun yang lalu. Ia sama saja dengan Rian, lebih memilih untuk menyuruhku menjadi seorang  pegawai kantoran yang stagnan dengan tumpukan laporan dan proposal. Namun, hari ini aku kembali memikirkan apa yang Fatin katakan padaku. Memang, tak seharusnya aku gegabah untuk sok bisa meraih apa yang tidak mudah. Terbukti, kali ini aku kalah. Aku kalah oleh waktu. Aku kalah karena idealismeku.
                Masih ku raba kotak biruku. Berpikir untuk menjadikan apa isi dari tumpukan itu? Sudah banyak penerbit telah menolaknya. Dan kini mataku mulai terbelalak terhadap realita.
                Braaakkkkk!!!
                Ku jatuhkan kotak biru itu dengan sengaja di lantai. Aku tahu, saat ini pun mimpiku terjatuh dengan bebas, sangat bebas, demi mempertahankan isi kotak biruku yang non sense. Ah, entahlah. Aku harus bermimpi apalagi setelah ini. 

Kamis, 16 Mei 2013

Dreaming, Planning, and Motivator






Salam ..

        Wah, postingan kali ini late nite yah. Gapapa kan ya? asal gak basi aja. Kali ini ada topik yang cukup menyenangkan buat dipost di blog. About dreaming and planning. Yap! Impian dan rencana. Siapa di antara kalian yang gak pernah bermimpi? Atau setidaknya berencana, ya walaupun sekedar rencana kecil dan sederhana. Misal, besok pagi mau ngapain gitu, maen, ngampus, nugas, atau sekedar menghabiskan waktu di depan layar mesin ketik ini. Yap. Itu termasuk salah satu rencana dalam hidup kita. Gak ada sesuatu yang tiap harinya terjadi tanpa kita rencanakan. Atau bahkan saja rencana tinggal rencana?
        Begitu juga dengan mimpi. Sedari kecil, pasti kita semua pernah ditanyain, apa cita-cita kita? kayak pengalamanku waktu KKN dulu nih...



Ni dua anak yang kena hukuman nyanyi karena kalah dalam game "I wanna be ", mereka kena hukuman nyanyi di depan :D





Let's play I wanna be! :D








Ngasih instruksi sama anak-anak SD ini musti banyak sabarnya deh, hehehe :p







Nah, tuh, ada yang asik sendiri pas dijelasin instruksi gamenya :p






Nah yang grup deret ini pada merhatiin, asiiikk :D :p






Ngejelasin intisari dari game I wanna be buat jadi refleksi :)



      Yap! Sejak kecil kita sudah terbiasa bermimpi, berkeinginan, sampai terbawa menjadi sebuah motivasi untuk kita melakukan apapun dalam tiap harinya menuju goal yang kita tentukan. Mimpi tersebut bisa kita tanamkan terus secara konsisten hingga tercapai, atau kadang harus ada beberapa mimpi yang disubstitusi atau bahkan dieliminasi untuk menyesuaikan dengan realita. Beberapa orang tetap bertahan untuk terus menjadi pemimpi, beberapa ada yang mewujudkannya, dan beberapa ada yang menyerah begitu saja. 




Bahkan instrukturnya sempet bingung ngejawab pertanyaan anak-anak, hihihi :p





      One, Two, Three, yeahhh... I wanna be a (diomongin sendiri-sendiri)! :DD



      Kalau ada yang menanyakanku, apa mimpiku? Aku punya banyak impian, yang bahkan sampai sekarang ada yang telah tersubstitusi, ada yang tetap diam tak bergeming di langit-langit sana, dan bahkan ada yang telah terbuang begitu saja. Kadang pada suatu masa, impian kita berbenturan dengan realita, dan seberapa kerasnya kita mencoba, tapi tetap tak mengubah apapun untuk mengalahkan realita, kita musti bagaimana? Ada yang berusaha untuk introspeksi, ada yang menyalahkan diri sendiri, atau memilih untuk lebih bersahabat dengan kenyataan. Tak ada yang salah dengan pilihan-pilihan itu. Karena apapun yang kita pilih, itulah yang menurut kita baik, ya begitulah kata seseorang kepadaku.

      Ngomong-ngomong tentang mimpi, setidaknya ada peran sosok motivator dibalik itu semua. Motivator dapat berupa semangat dari seseorang, iming-iming yang bahkan diberikan oleh orang lain atau diri sendiri, atau bahkan motivasi itu dari diri kita sendiri yang membangun karena alasan logis tertentu. Sekali lagi, tak ada yang salah mengenai motivator, entah itu bersifat internal atau eksternal. Semua motivator sah-sah saja. Nah, bagi yang sudah menemukan itu, maka pertahankanlah. Seraplah hal-hal baik yang bisa kita serap. Namun, apabila belum menemukan, mungkin akan berbeda lagi.

       Bagi yang belum menemukan motivatornya, mungkin harus ada langkah sebelum kita memperjuangkan mimpi dan rencana kita supaya konsisten. Itu harus supaya dapat menjaga kelangsungan mimpi dan rencana kita. Buatku pribadi, motivator itu sangat membantu. Sebagai tempat sharing atau bertanya mungkin. Setidaknya itu adalah bentuk motivator dari orangtua, teman, sahabat, atau dari orang yang dekat dengan kita. Sedikit banyak mereka telah memberikan banyak motivasi bagi kita. Namun, tak apa jika kita tak punya. Toh kita masih punya Tuhan, yang bahkan lebih setia menemani kita dimanapun kita berada, siap membantu kita kapanpun kita membutuhkanNya. So, jangan pernah merasa jika tak ada motivator, maka mimpi dan rencana gak akan jalan. Mungkin Dia masih menyimpan jawabannya, dan akan memberi tahukan pada kita bahwa "The dream will really come true because I have another beautiful planning to u":).






Tuban, masih di atas tumpukan bantal di malam hari 
:)





Senyum mereka yang tiap kali menjadi semangat dan motivasi tersendiri bagiku :')





Selasa, 14 Mei 2013

Me Time dan Stik Coklat

         





          Malam ini begitu dingin. Jalanan mulai sepi, sunyi, dan tak seorang pun yang lewat. Tempatku tinggal sejak sore tadi cukup berbeda dengan kemarin. Bahkan sangat berbeda. Malam ini tak ada bisingnya kendaraan, tak ada penatnya lalu lintas, tak ada lampu-lampu semarak gedung pencakar langit. Malam ini hanya ada berisiknya jangkrik yang terus-terusan bersahutan mencoba menyemarakkan suasana malam, kumpulan bintang yang terus bermain mata denganku, secangkir mocacino hangat, dan beberapa batang stik coklat. Sungguh suasana yang cukup jarang untukku. Terhitung jari untukku dapat menemui suasana selengkap ini. Aku menyebutnya dengan Me Time

           Mungkin Me Timeku kali ini sedikit berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Malam ini tak ada layar 14 inchi, tak ada Air Conditioner, dan tak ada gadget-gadet canggihku yang sudah jadi barang biasa untuk mengisi hari-hariku. Aku bisa menikmati hari-hari seperti ini hanya sebentar saja, 3 hari. Ya, 3 hari saja aku bisa memilikinya, tak lebih. Padahal, Me Time seperti inilah yang ku tunggu dari dulu. Segalanya boleh tak ada, namun jangan untuk satu hal, ya.. batangan stik coklatku. Banyak yang mengidentikkanku dengan batangan stik coklatku. Aku dan batangan-batangan stik coklatku. 

          "Riri..." panggil nenek dari pintu ruang tamu.

          "Oh, iya, Ni."sahutku segera. Ya, Me Timeku kali ini adalah di rumah nenek. Tak ada yang lebih menyenangkan untukku ketimbang kembali ke kampung halaman, di rumah nenek, sebuah desa di kawasan Cibiru, Bandung. 
    "Nini kira kamu dimana, Neng, Ieu cauna geus asak, didahar heula, Neng. Keburu dingin." terang nenek.
           Nenek selalu tahu, selain menikmati batangan stik coklat, aku juga suka sekali menghabiskan malam dengan menikmati potongan pisang goreng buatannya. Pisangnya yang bahkan hasil dari kebun sendiri. 
           "Iya, Ni." sahutku sembari tersenyum senang. Segera saja ku lahap sebuah pisang goreng yang masih mengepul panas. Nikmat sekali. Masih sangat renyah dan manisnya yang cukup, semanis suasana malam ini. 

           Tiiitiiiitiiiiitt.....

           Tetiba saja nada dering ponselku berbunyi. Sial! Aku lupa mematikan ponselku. deringnya membuatku sangat terganggu, terlebih aku sudah menduga siapa yang menelponku saat ini. Dengan mulut yang masih mengunyah bongkahan pisang di mulut dan tangan yang masih memegang pisang berbalut tissue, aku hanya menengok layar ponsel yang ku letakkan tepat di meja sampingku untuk memastikan siapa yang berani mengganggu Me Timeku malam ini.

Fernando_office
        Ah, jelaslah dugaanku, tepat sekali. Pasti dia, Malas sekali rasanya menjawab panggilan darinya. Sudah pasti dia hanya akan membahas masalah kontrak dengan klien, desain di project selanjutnya, dan bla bla bla. Di dalam otakku kembali berimajinasi obrolan seperti apa yang akan terjadi jika aku menjawab panggilan itu. Sama sekali tak asik!

"Kok gak dijawab, Neng?" tanya Nenek keheranan.
"Mbung, Ni. Pasti rek ngomong masalah kantor deui. " sahutku santai.
       Masih dengan mulut yang penuh dengan pisang goreng yang belum tergerus habis. Nenek hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum dan mengelus kepalaku. Mungkin ia berbicara dalam batin mengenai perilakuku yang satu ini. "Kabur" dari kantor dan rumah. Hal yang sudah 3 kali ini aku lakukan saat aku benar-benar sangat tidak tahu akan membenamkan diriku kemana lagi. Rumah nenek untukku tak hanya sekedar rumah, namun sama seperti batangan stik coklatku. Sangat manis, walaupun kecil, namun ia seperti magis, seketika dapat membuatku lupa akan hidupku di kota yang benar-benar sudah terhitung sumpek. Rumah nenek yang seperti batangan stik coklatku, selalu mampu mengembalikan moodku dan menjadi tempat pelarian di saat aku sudah sangat kacau dengan kehidupan di Jakarta. Seperti saat ini.


Kamis, 09 Mei 2013

Mendadak Cinta Brontosaurus





Salam ...

Hay temen-temen ...
Lagi pada liburan ya hari ini, kan tanggal merah gitu. By the way ngapain aja nih seharian? Bengong aja kah di rumah?Pulang kampung kah buat yang merantau? Atau nothing to do hari ini? Sama aja sih, aku juga hari ini gak ada rencana kemana-mana gitu, mengingat hari ini pasti jalanan dan tempat-tempat hiburan bakalan rame seru, hehe
Sampe tadi pagi-pagi temenku ada yang ngajak nimbrung di acaranya dia sama temen-temennya buat sekedar jalan aja keluar, meski belum ada rencana juga kemana. Ku pikir gak ada salahnya juga ngikut deh, apalagi gak ada kegiatan apa-apa, daripada bengong gitu. Akhirnya, sekitar jam 10an kita cabut ke Tunjungan Plaza(TP), Surabaya. Meski blank, aku uda punya gambaran di sana karena udah dibilangin temenku acara intinya mau ngapain. Yaaa buat jaga-jaga aja, akhirnya aku bawa santapanku semalem yang belom kelar baca(bakal jadi tema posting berikutnya deh, hehe).
Nyampe di sana, kita langsung cabs ke food court, buad nongkrong bentar sambil nungguin temenku yang sempet janjian nemenin kakaknya dulu buat belanja. Sampe di food court, sempet nongkrong sendirian sih, karena temennya temenku ambil duit di ATM dulu. Nah, sambil nongkrong bentar itu, aku baca-baca aja deh buku yang ku bawa itu. Gak lama setelah itu, mereka semua pada balik lagi ke tempat aku nunggu. Di tengah asyiknya diskusi mau kemana, ada yang nyaranin buat nonton Iron Man 3. Tapi setelah ditimbang-timbang karena antriannya yang gak nguatin, kita akhirnya milih nonton film di bioskop 21 aja, ya film Indonesia. Akhirnya kita mutusin buat nonton film baru Cinta Brontosaurus punya Raditya Dika. Dari beberapa resensi sinopsis, kayaknya lucu juga itu film, yaa kayak gak jauh beda sama model-model Malam Minggu Miko. Jelas genrenya komedi percintaan, hehehe
Selanjutnya, setelah pesen tiket, kita sempetin isi bensin dulu sebelum perut teriak-teriak di dalem ntar. Sekitar jam 12.46 kita masuk ke gedung bioskop. Dari situ, cerita dimulai. Jadi sinopsisnya gini:
Raditya Dika yang disitu berperan jadi dirinya sendiri mulai hopeless sama  kisah percintaannya yang kandas terus di tengah jalan, sampai yang terakhir dia diputusin sama pacarnya Nina (Pamela Bowie). Dari situ Dika ngambil kesimpulan bahwa cinta itu kadaluarsa, gak bisa tahan lama dan bakalan berakhir. Sementara itu, Dika punya temen deket sekaligus agen tulisan Dika, Kosasih (Soleh Solihun), yang selalu ngasih support ke Dika bahwa masih ada cinta sejati, seperti Kosasih yang yakin pada cinta istrinya, Wanda (Tyas Mirasih). Usaha itu, membawa Dika ke dalam beberapa perkenalan. Sampai suatu hari di sebuah restoran makanan, Dika ketemu sama cewek cantik yang punya pemikiran unik sama kayak Dika, yaitu Jessica (Eriska Rein). Melalui perkenalan itulah, Dika akhirnya deket sama Jessica, sampai akhirnya dia jadian sama Jessica. Di sisi lain, Mr. Soe Lim (Ronny P. Tjandra), menawarkan Dika untuk memfilmkan karyanya, yang berjudul "Cinta Brontosaurus". Merasa tertarik dengan tawaran itu, Dika berusaha untuk menulis skrip film tersebut. Masalah mulai muncul saat di tengah jalan, Mr. Soe Lim mencoba untuk mengubah naskah asli buatan Dika menjadi film horor yang sedang booming. Dari situlah mulai muncul juga permasalahan Dika dengan Jessica juga dalam hubungannya.
 Penasaran sama cerita lengkapnya? Mending kalian tonton langsung aja deh filmnya, sumpah kocak abiz. Gak boong!Oke?

Salam,

Selamat Berlibur ^_^


Film "Cinta Brontosaurus" :

  • Sutradara : Fajar Nugros
  • Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
  • Penulis Naskah : Raditya Dika
  • Pemain : Raditya Dika, Eriska Rein, Tyas Mirasih, Pamela Bowie, Ronny P. Tjandra
  • Genre : Drama
  • Produksi : Starvision Plus
  • Tanggal Rilis Perdana : 8 Mei 2013


Ini salah satu adegan Dika yang diputus sama pacarnya Nina


Ini Dika lagi kencan sama Jessica






Sumpah ini salah satu adegan absurd yang bakal kalian temui di dalam film ini, antara Dika dan Jessica


 Ini juga salah satu adegan absurd dalam film ini X_X

Rabu, 08 Mei 2013

Demi Sepiring Rawon Bungkul!

Salam ...


Wuah...udah hari Rabu, sudah hampir tengah minggu lho sekaligus menjelang tanggal merah di esok hari. Wahh.. momen yang gak ditemui bulan lalu, hihihi..
Betewe tanggal merah, aku mau cerita dikit tentang "Kebodohan Ba'da Maghrib" hari ini. Jadi gini nih, rencananya malem ini aku ada janji sama temenku mau makan bareng, yaa udah lama juga aku sama temenku gak ngumpul sambil sharing-sharing gak garing, hehehe. Rencananya malem ini sebenernya kita mau nyobain makanan di Richesee Factory(Entah bener ato salah ini nulisnya) di Royal Plasa, Surabaya. Tapi, berhubung ada sedikit kendala, akhirnya kita mutusin buat pindah tempat makan. Gak papalah, yang penting ngumpulnya itu masih bisa.
Akhirnya, jam 18.30 kita cabut ke Rawon Sedap Malam yang ada di Taman Bungkul, Surabaya. Perjalanan kesana kalo normal sih cuma makan waktu 15 menitan. Itu uda agak lama. Kalo lewat belakang, malah bisa cuman 10 menitan aja. Tapi gak tau kenapa temenku ini ambil jalan yang di depan, lewat daerah Bambu Runcing, daerah yang bisa diprediksikan agak macet kalo jam-jam pulang kerja. Dan ternyataaa.... wahhh.. lebih parah dari yang kita bayangin, jalanan ternyata maceeeett banged dah. Kita baru nyadar pas uda jalan lumayan jauh buat puter balik lagi. Yasudah lah ya, kita jalanin aja apa yang ada di depan mata, realita(mendadak filsuf, hehehehe). Perjalanan yang lumayan syusyaahh gara-gara macetnya ampuuuunnn.. Sempet kita ngomongin orang di sekeliling kita selama perjalanan, entah tentang egoismenya orang borju yang isi mobilnya gak lebih dari 3 orang, tentang orang-orang yang kurang tertib berkendara(bahkan naek trotoar pake motor, ckckck), dan bahkan tentang pejalan kaki di samping kita, hahahaha(kurang kerjaan banged buat ngilangin bad mood).
Sedikit pendalaman sih, jalanan yang macet itu mendewasakan lho sebenernya. Gimana gak, kita berlatih mengontrol emosi kita di tengah hiruk pikuknya jalanan yang gak sepi. Mencoba nahan amarah, nyoba sabarrrr sesabar-sabarnya. Di tengah cobaan crowdednya jalan itu, gimana cara kita untuk bisa tetep berkendara dengan safety dan nyaman. Macem-macem sih cara nyiasatinnya, ada yang pake earphone, ada yang sambil telponan(yang ini jangan yaaa...), and anything else. Kalo yang kendaraannya lebih dari satu orang, bisa tuh disiasati sambil guyonan ringan pas macet sampe gak jalan kendaraannya, asal jangan curcol di tengah jalan, hahahah(bisa-bisa mewek sambil nyetir,hehe).
Setelah sekitar 30 menitan lebih, nyampelah kita di tempat tujuan. Sepiring rawon yang ditempuh penuh dinamika mood dan tenaga sampe keringatnya kayak orang abis gowes, hehehe.. demi.. sepiring rawon dah!! Yappp!! Akhirnya, karena perut uda minta diisi, kita cepetan pesen deh ke abangnya yang jualan, dua nasi rawon dan es teh plus telur asin. Sip! Pesenan pun datang. Tanpa ba-bi-bu lagi, kita siap menyantapnya, hehehe...Selamat menikmati!


Salam Ngulinerrr!!!
^_^

Mblakrak nge-PARE

Yay!
Hari ini ada sedikit cerita baru yang mau aku bagi sama temen-temen semua. Pagi ini, aku sama temenku rencananya mau survey kursus bahasa inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Rencana ini uda lama sebenernya, cuma baru hari ini bisa terlaksana deh, makanya dari kemaren pagi, aku uda balik surabaya buat barengan ke Pare sama temen kostku.
Pagi ini kita niatnya berangkat dari surabaya jam 6.30. Niatnya sih biar gak kesiangan nyampe sana, soalnya lagi panas-panasnya suhu sekarang ini. Eee.. yang ada jam 6.30 baru bangun gara-gara semalem pada gak bisa tidur karena kepanasan.hahahaa.. Ciyaan :p
Alhasil, jam 7.30 kita baru cabut dari kostan deh buat ngangkot. Tujuan kita ke terminal Bungurasih, karena di sana busnya lebih lengkap daripada di TOW(Terminal OsoWilangun). Sebelum ngebus,kita sempet oper dulu naek bus kota menuju terminal bungurasih. Perlu waktu sekitar 1,5 untuk sampe sana karena ngetemnya lama. Tapi, untung aja kita dapetnya bus DAMRI AC, jadi gak percuma juga nunggu lama. Nyampe di Bungurasih, kita sempet clingak-clinguk gara-gara gak tau bus ke Pare ada di jalur mana. Yaaa bagi yang sudah tau terminal bungurasih, pasti ngerti suasananya di sana bener-bener rame banget. Akhirnya, kita mutusin buat nanya sama petugas terminal yang pake seragam biru itu, bukan orang-orang bagian tiket yang seragamnya beeerbagai macam(uda kayak kampanye aja). Setelah kita nanya, dapet deh kita nomor jalur busnya. Pas menuju bus, kita sempet panik gara-gara prasangka kita dari info temen-temen yang sebelumnya pernah ke Pare, kejadian, yaitu bejubel banged penumpangnya. Setelah deket bus, ada tulisan PATAS AC di kaca bus. Alhamdulillaaaahhh..dapet bus AC, dan ternyata busnya masih kosong banyak, gak jadi berdiri deh kita :p
Perjalanan yang lumayan lama, 3jam_an lah baru bisa nyampe ke sana. Selama perjalanan, banyak tidurnya, jadi gak terlalu ngeh sama jalan menuju ke sana, apalagi kena macet di sekitar kota Mojokerto. Sekitar jam 12an baru deh nyampe di tujuan. Dari tempat turunnya kita, ternyata gak jauh dari kampung inggris.cuman butuh angkutan becak atau bahkan jalan kaki juga bisa buat muterin situ. Tapi, berhubung panas dan kita juga harus langsung balik surabaya nantinya, jadi kita milih pake tenaga becak. Pengennya pake becak motor, siapa tau lebih murah. Tapi ternyata gak ada, jadinya yaa kita pake becak biasa deh. Orangnya nawar 20ribu perorang puter-puter. Ya sudah deh, kita turutin.
Pertama kali kita langsung survey ke BEC(lupa kepanjangannya,hehehee). Sampai di BEC kita minta brosur dan nanya-nanya program apa aja yang ditawarin. Ternyata di sana cuma nawarin program langsung satu semester alias 6 bulan(sekolah bangeeeed,hahahaaha). Kita sih mikir-mikir lagi, soalnya kita pengennya ikut yg holiday aja, jadi yaa gak sampe 6 bulan. Paling lama 2 bulan. Yauda deh, kita cancel yg BECnya. Plus di BEC itu islami banged, jadi gak bisa sembarangan siswanya. 

Setelah dari BEC, kita langsung ke pilihan tempat kursus selanjutnya, yaitu Elfast. Nahh.. di sini ini kita akhirnya nemu program yang cocok sama apa yang kita cari. Setelah diskusi, kita akhirnya mutusin buat ikutan program yang Basic II, yaaa semacam grammar lanjutan gitu, maklum, agak lupaan gitu masalah grammar, yaa namanya juga terakhir SMA ketemu mata pelajaran bahasa inggris, hehehe... Lumayan murah sih harganya, cuman 160.000 ajah.hehehe.. Setelah registrasi, jadilah kita puter-puter cari tempat kostan.
Pas baru mau keluar dari Elfast, mendadak ketemu sama adik angkatan di kampusku, jadilah kita saling tuker informasi, terutama mengenai tempat kostan. Kalau dia, dapet sih tempat kostan seharga 300 ribuan, tapi itu plus ada program juga di tempat kostnya dia. Sesuai dengan infonya, kita akhirnya dikenalin ke satu temennya yang kostannya lumayan enak lah. Nah, dari situ kita dapet referensi tempat kostan yang ada di sana. Puter-puter, cari lagi. Berbagai macam bentuk dan harga tempat kostan variatif banget di sana. Mulai dari kisaran 125 sampe 300 ribuan ada. Yaaa kita sih standard aja, gak yang paling mahal, gak yang paling murah juga. Soalnya rata-rata yang harganya murah-murah, fasilitasnya juga perlu dipertimbangkan. Ada juga yang kamar itu sebenernya garasi rumah, tapi disewain. Ada juga yang baguuus banged dan adem. Ada juga yang biasa-biasa aja, yaa ada harga ada barang lah ya.heheheh
Setelah puter-puter plus nyatetin CPnya masing-masing, kita akhirnya mutusin buad stopin pencarian, karena kalo mau dirunut lagi, masih buanyaaaakk bangedd.hahaha. padahal kita naek becak lo, kasian pak becaknya gempor, hihihi
Setelah nyampe pucuk, jadi deh kita mutusin buad mempertimbangkan lagi ntarnya, yang penting ada CPnya, jadi bisa booking lewat telepon. Setelah itu, kita bayarin pak becaknya. Rada di luar dugaan sih, tadinya mintanya 20 ribu peranak, eh, naik jadi 30 ribu peranak. Wuiihhh.... Ya sudahlah ya, namanya juga make tenaga manusia, jadi kasian. Selanjutnya, kita tancep isi bensin dulu, seharian belum ngejamah nasi setelah jam 1 siang. Kita putuskan untuk jalan kaki aja nyari makannya, toh gak perlu jauh-jauh, yang penting murmer dan kenyang, hihihi(motto anak kost bangeeddd). 
Kita berdua nyari makannya sambil jalan kaki sampe akhirnya nemu warung nasi yang, yaahh... keliatannya lumayan. Nyampe situ kita langsung pesen makanan. Pesennya nasi pake sayur lodeh 2 porsi sama lauk telur bali dan ikan lele. Lahap banged makannya, kecuali temenku, gara-gara dianya sakit gigi, hihihi(kasiann). Kelar makan, kita langsung bayar. Yang paling ngagetin, harga makanannya. Ku pikir hampir sama kayak di Tuban atau Surabaya, ternyata bedaaa banget. 
"Pinten, bu?"
"7000 kalih, mbak."
Hah???? 7000 buat dua porsi nasi sama lele bin telur??? karena gak percaya, aku nanya lagi takut salah denger. Dan ternyata emang bener, 7000 itu harga buad total makanan yang kita pesen. Ampuuunn... murah banget. Aku sama temenku langsung berkicau, wuaahhh... gila, recommended tuh!hahahah
Gak lama nunggu bus lewat, akhirnya datang juga bus yang kita tunggu. Sekitar jam setengah 3 sore, cabutlah kita balik surabaya. Nyampe di kostan kita sempet koar-koar soal makan murmer. Yaa boleh lah ya buat referensi buat 1 bulan ntar kalo mau hemat, hihihi...
Ada cerita lagi tentang Pare dan seisinya?? bisa share gih di bawah

Salam mblakrak!!! :)

*episode tanpa pict ya, tapi no hoax :)