Laman

Kamis, 13 Maret 2014

Surat Untuk Ibuku ...

Berat, tapi kaki harus terus melangkah, karena sebuah keputusan telah dibuat beberapa bulan lalu. Kini masanya menikmati tiap langkah yang ada, menikmati hembusan nafas dalam setiap prosesnya, menikmati rasa dalam tiap lininya. Tak pantas harusnya aku mengeluh. Ibu di kampung berjuang mati-matian untuk bertahan demi mampu menyekolahkanku dan adek-adekku. Aku, harusnya menjadi seorang anak yang paling bangga dengan kondisiku. Tuhan memberiku kepercayaan untuk belajar kembali, yang artinya aku mampu menyelesaikannya nanti. Aku pasti mampu dengan Tuhan memampukanku. Meski aku sendiri, aku tak pernah sendiri. Iringan doa ibu selalu berada di sisi. Menjadi yang terbaik untuk masa depanku. Harapan itulah yang ibu ingini padaku. Ia tak menuntut apa-apa, hanya mau bertanggung jawab dengan pilihan dan keputusanku.
Aku hanya berbekal sebuah doa yang tak pernah putus dari ibu, tiap menggelar sajadah, aku tahu dia selalu menyambung doaku tanpa ku pinta, tanpa ku rajuk. Aku tahu itu. Meski di rumah ibu sering cerewet dan marah, aku tahu ibu hanya berharap satu, menginginkan aku menjadi orang yang baik, menjadi yang terbaik. Hanya itu. Harusnya aku bersyukur karena ibu masih peduli padaku. Kini aku sangat merindukannya. Saat-saat terhimpit seperti ini, entah kenapa aku selalu membatin dia, meskipun saat di rumahpun aku hanya berdebat panjang dengannya dan menyimpulkan bahwa sebenarnya aku tak cocok dengannya. Namun aku sadar itu hanya emosi sesaat. Justru ketidakcocokan kami makin saling menguatkan kami. Saat ibu terseok, aku berusaha membuatnya menjadi seorang ibu yang harus terus tegar, mencoba menguatkannnya meskipun aku selalu membuatnya marah dan kesal. Begitupun sebaliknya, ketika aku terseok, ibu selalu menguatkanku dengan nasehatnya yang begitu cerewet. Tapi entah kenapa itu membuatku ketagihan. Mungkin memang kesal ada, tapi hal itulah yang ku rindukan saat ini.
Aku selalu berangan, seandainya aku tak harus belajar jauh dari rumah, mungkin saat ini aku sudah melihat rautnya di saat hatiku terasa gundah. Saat ini adalah masa-masa terberatku dan ibu. Kami sama-sama berjuang demi kehidupan selanjutnya. Sudah sewajarnya kami saling menguatkan, memberi ucapan semangat untuk tak mudah menyerah pada keadaan meskipun sebegitu rumitnya untuk dijalani. Meski berjauhan, kami saat ini saling bergandeng tangan melangkah bersama menuju arah yang sama, menatap ke depan. Meskipun terkadang ada ragu dan getir, tapi kami terus menyambung harapan kami, supaya kami tidak terjatuh sendiri. Bu, tunggulah masa dimana kita bisa tersenyum bersama. Tunggulah masa dimana kita bisa benar-benar tersenyum bahagia dan bangga. Kita harus bisa sama-sama melalui ini untuk meraih senyum itu. Senyum yang belum pernah kita dapat sebelumnya.

Bu, aku kangen ibu..

Bu, aku sayang ibu..

Ibu baik-baik ya di rumah .. 
 Love u as always,