Kali ini aku benar-benar dibuat mematung oleh lelaki berbaju abu-abu itu. Benar-benar tak pernah ku yakini bahwa ia kini nyata hadir di depanku. Setelah 12 tahun pertemuan terakhir, sekarang kembali pertemuan terjadi di tempat yang tak pernah ku sangka sedikitpun. Pertemuan yang langka ini tak ingin ku sia-siakan. Segera saja aku mengambil tempat duduk di belakangnya, tepat. Kebetulan saja sejak tak lama aku duduk, kursi di belakang Reihan kembali kosong.
Tepat di belakangnya. Inilah posisi tempat duduk yang sudah sejak beberapa hari lalu ku inginkan, namun baru saat ini aku bisa mendapatkannya. Duduk di belakangnya tak membuatku langsung melancarkan sebuah percakapan dengannya. Aku merasa frozen dengan tubuhku sendiri. Melihat tengkuknya, kepalanya, rambutnya, telinganya, sebagian punggungnya.
'Tuhan, dia seperti tak banyak berubah. Hanya lebih tinggi daripada pertemuan 12 tahun silam. Ya Tuhan, apa saat ini benar-benar nyata?'gumamku sambil menepuk-nepuk pipiku sendiri. Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini aku tak sedang bermimpi.
'Auu..' Benar, kali ini aku tak sedang bermimpi. Kemudian ku tengok arloji di tangan kiriku. Rupanya masih 10 menit perjalanan. Itu artinya, aku masih bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan sejak beberapa hari lalu. Kali ini keberuntungan berpihak padaku. Kursi di samping lelaki itu kosong. Kesempatan ini harus aku gunakan sebelum aku menyesalinya. Segera saja aku duduk di sampingnya.
Awalnya, lelaki itu tak menengok padaku. Tampak keacuhannya yang masih sama, tak berubah. Untuk itu, aku berpikir untuk menyapanya terlebih dulu.
"Rei..han?"tanyaku pelan. Lelaki itu segera menoleh ke arahku pelan-pelan. Tak lama, ia memandangiku sambil mengernyitkan dahinya tanda kebingungan. Ya, ia pasti bingung, kemungkinan besar ia tak mengenaliku saat ini. Aku sudah cukup berbeda dibandingkan pada saat 12 tahun lalu, sementara dia, masih hampir sama. Rambutnya, garis wajahnya, warna kulitnya, dan.. senyumnya. Hampir tak berubah.
Melihat responnya yang masih keheranan melihatku, segera saja aku berinisiatif membantunya untuk mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang duduk di sampingnya ini."Zinda. Zinda Soraya Hidayati."
Tiba-tiba saja matanya sedikit terbelalak. Ia sontak kaget mendengarku mengucapkan 3 frase nama lengkapku. Ekspresi itu tak lama berlangsung. Air mukanya kali ini berubah tersenyum. Ya, senyum yang tadi sempat ku lihat. Senyum yang sangat ku rindukan selama 12 tahun ini. Senyum menenangkan dari pemilik nama Reihan itu.
"Zinda? Temen SMPku?"tanya dia dengan air muka yang masih dengan senyum menenangkannya. Aku segera saja mengangguk sedikit keras. Anggukan tanda setuju dan tanda senang. Hatiku benar-benar plong. Senang mengetahui bahwa ia masih mengingatku, meski aku harus membantunya untuk mengingat.
"Iya, Rei." sahutku pelan. Kali ini giliran aku yang melemparkan sebuah senyuman padanya. Senyuman paling manisku pagi ini ku suguhkan pada lelaki ini.
"Haiiiii. Gimana kabarmu? Wah, gak nyangka kita bisa ketemu di kota ini, ya?"
"Iya, Rei. Aku baik. How's your life? Kayaknya uda makin keren aja ni?"
"Ah, kamu bisa saja. Aku di sini kerja, Zi. Di salah satu instansi pemerintah di Jakarta ini. kantorku tinggal deket lagi. Kamu gimana? Di sini kerja atau gimana?" rentetan pertanyaannya membuatku senang. Itu artinya dia ingin tahu kehidupanku saat ini di sini.
"Ohh. Aku juga kerja di sini, Rei. Aku kerja di salah satu perusahaan swasta di sini. Kantorku juga gak jauh dari sini. Tapi, kenapa jam segini kamu baru berangkat?"
"Iya, beberapa hari ini aku ada sedikit perlu di tempat lain, ngurus beberapa dokumen penting, jadi aku ijin untuk berangkat agak siang. Yaah daripada ijin gak masuk, Zi."
"Ohh, iya iya. Oh iya, kamu tinggal dimana di sini?"
Dan bla bla bla bla.. Percakapan yang memakan waktu cukup singkat karena kami harus segera bekerja di kantor masing-masing. Seperti adegan-adegan film, obrolan singkat, dan berakhir dengan bertukar nomor ponsel.
Ah, pertemuan yang manis sekali. Pertemuan singkat yang membuatku ingin berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan yang selanjutnya. Yap. Malam ini, sebelum pulang ke rumah kost, aku telah membuat janji dengannya untuk dinner bareng di salah satu restoran di wilayah antara tempat kostku dan kontrakannya. Namun, satu yang masih mengganjal di dalam hatiku. Apakah... dia sudah memiliki tambatan hati untuk saat ini? Pertanyaan inilah yang menjadi misi selanjutnya bagiku dan harus aku pecahkan sesegera mungkin. Harus.
****