Laman

Minggu, 23 Juni 2013

Mimpi Itu ...(Fourth Part)

        Kali ini aku benar-benar dibuat mematung oleh lelaki berbaju abu-abu itu. Benar-benar tak pernah ku yakini bahwa ia kini nyata hadir di depanku. Setelah 12 tahun pertemuan terakhir, sekarang kembali pertemuan terjadi di tempat yang tak pernah ku sangka sedikitpun. Pertemuan yang langka ini tak ingin ku sia-siakan. Segera saja aku mengambil tempat duduk di belakangnya, tepat. Kebetulan saja sejak tak lama aku duduk, kursi di belakang Reihan kembali kosong. 
          Tepat di belakangnya. Inilah posisi tempat duduk yang sudah sejak beberapa hari lalu ku inginkan, namun baru saat ini aku bisa mendapatkannya. Duduk di belakangnya tak membuatku langsung melancarkan sebuah percakapan dengannya. Aku merasa frozen dengan tubuhku sendiri. Melihat tengkuknya, kepalanya, rambutnya, telinganya, sebagian punggungnya. 
         'Tuhan, dia seperti tak banyak berubah. Hanya lebih tinggi daripada pertemuan 12 tahun silam. Ya Tuhan, apa saat ini benar-benar nyata?'gumamku sambil menepuk-nepuk pipiku sendiri. Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini aku tak sedang bermimpi.
         'Auu..' Benar, kali ini aku tak sedang bermimpi. Kemudian ku tengok arloji di tangan kiriku. Rupanya masih 10 menit perjalanan. Itu artinya, aku masih bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan sejak beberapa hari lalu. Kali ini keberuntungan berpihak padaku. Kursi di samping lelaki itu kosong. Kesempatan  ini harus aku gunakan sebelum aku menyesalinya. Segera saja aku duduk di sampingnya. 
         Awalnya, lelaki itu tak menengok padaku. Tampak keacuhannya yang masih sama, tak berubah. Untuk itu, aku berpikir untuk menyapanya terlebih dulu.
        "Rei..han?"tanyaku pelan. Lelaki itu segera menoleh ke arahku pelan-pelan. Tak lama, ia memandangiku sambil mengernyitkan dahinya tanda kebingungan. Ya, ia pasti bingung, kemungkinan besar ia tak mengenaliku saat ini. Aku sudah cukup berbeda dibandingkan pada saat 12 tahun lalu, sementara dia, masih hampir sama. Rambutnya, garis wajahnya, warna kulitnya, dan.. senyumnya. Hampir tak berubah.
    Melihat responnya yang masih keheranan melihatku, segera saja aku berinisiatif membantunya untuk mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang duduk di sampingnya ini. 
                  "Zinda. Zinda Soraya Hidayati."
       Tiba-tiba saja matanya sedikit terbelalak. Ia sontak kaget mendengarku mengucapkan 3 frase nama lengkapku. Ekspresi itu tak lama berlangsung. Air mukanya kali ini berubah tersenyum. Ya, senyum yang tadi sempat ku lihat. Senyum yang sangat ku rindukan selama 12 tahun ini. Senyum menenangkan dari pemilik nama Reihan itu.
    "Zinda? Temen SMPku?"tanya dia dengan air muka yang masih dengan senyum menenangkannya. Aku segera saja mengangguk sedikit keras. Anggukan tanda setuju dan tanda senang. Hatiku benar-benar plong. Senang mengetahui bahwa ia masih mengingatku, meski aku harus membantunya untuk mengingat.
       "Iya, Rei." sahutku pelan. Kali ini giliran aku yang melemparkan sebuah senyuman padanya. Senyuman paling manisku pagi ini ku suguhkan pada lelaki ini. 
         "Haiiiii. Gimana kabarmu? Wah, gak nyangka kita bisa ketemu di kota ini, ya?"
        "Iya, Rei. Aku baik. How's your life? Kayaknya uda makin keren aja ni?"
      "Ah, kamu bisa saja. Aku di sini kerja, Zi. Di salah satu instansi pemerintah di Jakarta ini. kantorku tinggal deket lagi. Kamu gimana? Di sini kerja atau gimana?" rentetan pertanyaannya membuatku senang. Itu artinya dia ingin tahu kehidupanku saat ini di sini. 
      "Ohh. Aku juga kerja di sini, Rei. Aku kerja di salah satu perusahaan swasta di sini. Kantorku juga gak jauh dari sini. Tapi, kenapa jam segini kamu baru berangkat?"
       "Iya, beberapa hari ini aku ada sedikit perlu di tempat lain, ngurus beberapa dokumen penting, jadi aku ijin untuk berangkat agak siang. Yaah daripada ijin gak masuk, Zi."
       "Ohh, iya iya. Oh iya, kamu tinggal dimana di sini?"
       Dan bla bla bla bla.. Percakapan yang memakan waktu cukup singkat karena kami harus segera bekerja di kantor masing-masing. Seperti adegan-adegan film, obrolan singkat, dan berakhir dengan bertukar nomor ponsel.
       Ah, pertemuan yang manis sekali. Pertemuan singkat yang membuatku ingin berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan yang selanjutnya. Yap. Malam ini, sebelum pulang ke rumah kost, aku telah membuat janji dengannya untuk dinner bareng di salah satu restoran di wilayah  antara tempat kostku dan kontrakannya. Namun, satu yang masih mengganjal di dalam hatiku. Apakah... dia sudah memiliki tambatan hati untuk saat ini? Pertanyaan inilah yang menjadi misi selanjutnya bagiku dan harus aku pecahkan sesegera mungkin. Harus.


**** 

Senin, 17 Juni 2013

Mimpi Itu ... (third part)

          Sudah 3 hari berturut-turut ini aku bertemu dengan lelaki yang sama di bis itu. Sejak 3 hari yang lalu, bahkan aku masih mengenalinya walaupun ia mengenakan warna baju yang berbeda. Punggungnya yang cukup tegap, postur tubuhnya yang agak tinggi, dan potongan rambutnya yang rapi, menjadi sebuah ciri yang sudah terpatri dalam ingatanku. Hanya satu yang ku sayangkan, aku masih belum mampu melihat wajahnya dari depan, terlebih mengetahui namanya. 
          "Ah, siapa, sih, dia? Apa memang dia benar-benar... Ah, tidak mungkin. Tapi, sapa yang bisa menjamin itu bukan dia. Aaaahhh.. tauk ah. Pusing malahan kepalaku kalo mikirin siapa dia." gerutuku kesal. Pikiranku masih saja melayang di antara tumpukan kertas laporan dan laptop unguku. Tidak biasanya aku membiarkan "PR" kantor sampai berhari-hari belum ku selesaikan. Padahal, menurut orang-orang di kantor, aku adalah salah seorang pegawai yang cukup rajin dalam menyelesaikan laporan-laporan. Tapi kali ini, mungkin jabatan itu sementara harus ku tanggalkan dulu demi sebuah rasa penasaran yang terus menghantuiku sejak 3 hari yang lalu.
    "Lhaaaa......ternyata yaaa..." Terlalu asyiknya aku larut dalam dunia penasaranku, membuatku tak sadar bahwa Anita ternyata sudah tepat berada di sampingku.
       "Haduuuh. Elu ini kenapa bikin kaget orang aja, sih?"tanyaku kesal sembari merapikan serakan kertas laporan yang sudah entah seperti apa bentuk berantakannya saat ini.
        "Lha elu, gue panggil dari tadi dari pintu kamar lu yang kebuka, elu kagak juga nyautin gue. Kan gue pengen tahu, elu lagi ngerjain apa'an sampe gak denger gue panggil-panggil dari tadi." papar Anita.
        "Eh, enggak, gue bingung sama kerjaan gue ini. Biasa, kebanyakan "PR", hehe."sahutku sambil meringis.
       "Bentar, sejak kapan elu punya banyak "PR" kayak gini, sih? Setahu gue, bukannya elu termasuk pegawai yang dielu-elukan karena kerajinan elu, ya?"
         "Hehehe..."aku tak sanggup menjawab. Ada rasa sungkan untuk menjelaskan penyebab menimbunnya "PR"ku kali ini. Tiba-tiba tatapan Anita berubah. Ia mulai menyadari bahwa ada yang aku sembunyikan dari dia. 
       "Hmmm...Gue tahu, gue tahu. Elu lagi ada sesuatu yang elu pikirin, ya? Kenapa, sih? Cerita, donk. Gue pengen tahu, nih. Apa yang bisa ngebikin elu gak fokus gini sama kerjaan elu. Sampe segitunya." Anita terus mendesakku untuk menceritakan apa yang sebenarnya aku alami beberapa hari ini.
      Memang benar apa yang dikatakan Anita. Gak semestinya aku memikirkan hal yang bahkan sebenarnya sama sekali tidak jelas. Entahlah. Hal yang aku pikirkan berhari-hari ini cukup mengganggu rutinitasku. Beberapa laporan terpaksa harus aku bawa pulang karena aku tak cukup fokus mengerjakannya di kantor. Anita pun ternyata bisa mengamati perubahanku 3 hari ini. Itu artinya, dengan terpaksa, aku menceritakan apa yang aku alami sejak 3 hari lalu. Tak terkecuali mimpi aneh yang sempat menghampiriku. 
         "Ya ampun, Zinda sayang. Jadi selama beberapa hari ini kamu kepikiran hal kayak gitu? Elah, Zi, gue bilangin, ya. Itu cuman mimpi, Zi, bunganya tidur doank. Gak lebih. Elu selalu make feeling elu mulu, sih. Forget that, girl. Gak ada gunanya. "tutur Anita.
       "Iya, gue tahu, Nit. Tapi.. Ah, gue gak bisa jelasin. Firasat gue bilang, akan ada sebuah kejadian yang bisa ngerubah hidup gue sebentar lagi."tukasku.
       "Ya, semua  hidup orang bakalan berubah kali, Zindaaaa."
      "Aaahh... Elu kagak paham, sih. Makanya elu bisa ngomong gitu."
       "Oke, sekarang kamu maunya gimana? Kamu mau cuman mikirin ini doank? Mikirin terus sapa cowok yang elu liatin di bis itu?"
       "Gak, gue harus berbuat sesuatu."
      "Berbuat apa'an?"
      "Let's see tomorrow morning, yah." sahutku sambil tersenyum menggoda Anita.
       "Aaahh.. elu mesti gitu. Apa'an, sih?"
      "Misi rahasia gue donk."ucapku sambil tersenyum lebar.
                "Aaaaahh Zindaaa, kasih tauuuuu..."
      Tiba-tiba saja suasana malam itu menjadi berubah. Seakan aku menemukan sebuah cara untuk menjawab rasa ingin tahuku yang cukup tinggi ini. Ya, besok pagi lah yang akan menjawabnya.


****

      7.30.
     Bukan. Kali ini bukan baru saja aku terbangun dari tidur. Tapi kali ini aku bahkan sudah siap untuk berangkat ke kantor.  Berdandan lebih rapi dari hari-hari sebelumnya. Lengkap dengan memakai setelan hem berlengan pendek, blazer hitam, dan celana panjang hitam. Pakaian paling rapiku dalam seminggu ini ku persembahkan di hari ini, hari Jumat. Hari terakhir ngantor untuk minggu ini. 
    Kali ini aku berangkat lebih awal ke arah halte bis di depan gang rumah kostku. Tak jauh, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk bisa sampai di halte depan. Sesampai di halte, aku sempat merasa aneh sendiri. Tidak biasanya aku berangkat agak lebih pagi. Biasanya, aku mengambil waktu berangkat yang cukup mepet dengan masuk jam kantor. Tapi hari ini, khusus hari ini, aku melakukan sebuah usaha lain selain tujuan tidak terlambat ke kantor. Ya, hal yang paling menghantuiku 4 hari yang lalu. Aku ingin segera mengetahui siapa lelaki itu.
    Bis yang biasanya ku tumpangi ke kantor akhirnya lewat juga. Segera saja ku rapikan rambut dan bajuku. Setelah itu segera aku masuk ke dalam bis itu. Kali ini aku melihat kepala itu lagi. Tak banyak berpikir, aku segera mengambil tempat duduk ketiga dari depan. Bukan karena tempat itu yang dekat dari si pemilik kepala itu saja, tapi hanya itu saja kursi yang masih tersisa di bis.
      Masih dengan perasaan ingin tahu. Ku lemparkan pandanganku terus kepada lelaki yang memakai hem abu-abu di bangku paling depan itu. Hatiku masih terus bertanya-tanya.
      'Tuhan, ijinkan aku untuk memastikan siapa lelaki itu. Kalaupun dia bukan lelaki yang ku maksud, aku mohon, ijinkan aku memastikannya.' gumamku dalam hati. 
       Entah kenapa, beberapa saat setelah aku bergumam seperti itu, tiba-tiba saja lelaki yang sedari tadi aku amati, memutarkan tubuhnya 45 derajat ke kiri. Rupanya desakan dari seorang lelaki bertubuh besar yang berdiri di samping kirinya membuatnya tak nyaman, karena itulah ia memutarkan tubuhnya untuk melihat lelaki yang membuatnya tak nyaman itu. 
       Samar-samar aku menengarai wajah lelaki berbaju abu-abu itu. Dan.. tiba-tiba saja mataku terbelalak spontan. Jantungku berdegup semakin kencang. Mulutku tiba-tiba menganga kecil. Aku merasa sangat mengenal siapa lelaki itu. Dia .. Tuhan. Rupanya dia.

**** 

Minggu, 16 Juni 2013

Mimpi Itu .. (second part)


      Angan-angan yang tergambar di langit-langit kamar mulai buyar. Tak bersisa, bahkan satu bayangan pun. Merasakan bahwa sinar matahari yang memasuki celah dari lubang angin-angin kamarku mulai terasa panas, aku memutuskan untuk segera bangkit. Kembali pada rutinitas biasa, berangkat ke kantor. 
     "Zinda .. Zi.." sebuah suara memanggilku dari balik daun pintu kamar. Belum puas dengan panggilannya, suara itu terus memanggilku sambil mengetuk pintu kamar.
                  Tok tok tok tok ....

                  "Zinda .. elu uda bangun belum, sih?"
        "Anita. Ah.. kenapa selalu dia, sih yang bangunin gue tiap pagi? Uda ngalah-ngalahin mak gue aja dia." gerutuku kesal.
       "Iya, iya, Nit. I'd woke up, Nit."sahutku keras. Segera saja aku terbangun dari tempat tidur dan merapikan selimut serta sprei dan bantal guling. Yah, tak begitu berantakan sebenarnya karena perilaku tidurku yang kata orang-orang gak sebanyak waktu bangun. Ya wajar, sih. Orang namanya tidur ya anteng. Seusai merapikan tempat tidur, ku buka pintu kamar yang dari tadi jadi pusat tempatnya keberisikan pagi ini di kamarku.
        "Elu uda bangun dari tadi?" tanya Anita. Perempuan berkulit kuning langsat dan berambut pendek sebahu ini cukup cerewet kalau berbicara masalah kedisiplinan. Karena itulah dia jadi tukang bangunin anak-anak di kostan ini.
        "Gak juga, sih. Gue bangun sekitar setengah jam yang lalu. Emang kenapa?"
       "Lhah, uda bangun dari setengah jam lalu, kenapa elu masih acak-acakan gini mukanya? Elu kagak ngantor?"
      "Ya ngantor, Nit. Ini kan hari Senin." jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.
        "Yaudah, elu nunggu apalagi sekarang? Kan elu masuk jam 9, masih aja belom siap-siap."
       "Iya, iya baweeeeelll." ucapku seraya mencubit pipi tembem Anita. Perempuan di depanku ini sebenarnya berusia hampir sama denganku, hanya terpaut 3 bulan di bawahku. Tahun ini menginjak seperempat abad. Tapi beruntungnya dia, wajahnya masih seperti anak baru lulus SMP. Aku menyebutnya Cubi-cubi lalalalililii. Lucu memang.

 ****
       Sial! Benar kata Anita, gak akan bisa cukup waktu untuk berangkat ke kantor jika aku bangun saja jam 7.30. Terlebih, aku yang tak langsung mandi, melainkan masih menjalankan sebuah kegiatan yang... Ah, kembali teringat lagi. Lebih sial lagi. Kenapa di saat crowded di bis kayak gini aku harus teringat mimpiku semalam. Harusnya yang ada di kepalaku saat ini hanya satu kata. Kantor.
       Tak beberapa lama setelah proses teringat mimpi semalam di bis, aku merasa menikmati munculnya ingatan-ingatan semasa 12 tahun silam yang bahkan tak pernah sedetik pun terusik, sampai mimpi semalam yang benar-benar membuatku berpikir. Tak biasanya aku memimpikan hal yang tak pernah aku pikirkan sebelum tidur. 
        "Mbak, karcis."
       Aku bahkan tak sadar ada seorang petugas karcis yang berjalan di sampingku untuk menarik karcis penumpang. Segera saja aku merogoh uang di saku tas paling depan. Seperti biasa, sudah kusiapkan uang kecil untuk membayar karcis dan memberikan sedikit recehan pada penyanyi jalanan di bis. 
         "Ini, Pak."
         "Tumben agak siang, Mbak?"tanya petugas karcis di sampingku seraya melemparkan senyumnya yang terlihat sangat tulus. 
       "Eh, iya, Pak. Kesiangan bangun, hehe." jawabku seraya meringis malu. Sudah 1 tahun lebih bis kota ini jadi langgananku untuk menuju kantor. Tak ayal, bapak berusia sekitar 50 tahunan di sampingku ini sampai menghapalku dan jam-jam aku berangkat kerja. 
        Sembari menunggu uang kembalian membayar bis, aku mengalihkan pandangan mataku di bangku depan sambil melihat-lihat keadaan jalan raya di depan. Bolak-balik ku putar arah pandangan mataku, sampai aku menemukan sesosok lelaki berbaju biru muda, lebih tepatnya mengenakan hem biru muda dan memiliki potongan rambut yang cukup rapi untuk dilihat dari  sisi belakang.
        Melihat pemandangan itu, aku mengernyitkan dahiku sambil berpikir siapa lelaki yang ada di depan itu. Aku merasa familiar dengan potongannya. Namun, logikaku berpikir bahwa yang memiliki potongan seperti itu mungkin bukan hanya dia saja, tapi hampir semua lelaki berbaju kerah resmi seperti itu, dituntut untuk memiliki potongan rambut yang agak rapi. Tak urakan.
      "Ini, Mbak, kembaliannya." 
       "Eh, oh, iya, Pak. Terima Kasih, Pak." sahutku dengan gelagapan. Ya. Gelagapan karena terlalu asyik aku menanggapi hadirnya sosok lelaki familiar di bangku paling depan bis.
       "Ah, pasti bukan dia. Mana mungkin dia di sini. Mana mungkin saat ini aku bisa bertemu dia. Dan, mana mungkin ..." batinku bergumam, bertanya, dan ingin tahu, siapa pemilik baju berkerah warna biru yang duduk tenang di bangku depan itu. Mungkin... 
 ****

Mimpi Itu

             07.30.
        Ku buka mataku dengan sedikit malas. Ya, kali ini pagi menjemputku kembali dengan sinarnya yang sudah sangat terang untuk gelapnya dunia mimpiku. Seperti biasa, masih ku gulatkan tubuhku dengan kasur empukku dan guling yang sedari malam lalu berada tepat di sampingku. Ku peluk erat-erat sembari mengumpulkan kesadaranku dari mimpiku. 
         Mimpi. Yap. Aku teringat kembali rangkaian cerita apalagi yang menghiasi mimpiku semalaman. Singkat sekali durasinya, hingga aku sampai tak sadar bahwa aku harus segera melanjutkan rutinitasku pagi ini. Masih terpekur dalam proses mengingat. Mataku menerawang jauh di langit-langit kamar mengharapkan aku dapat mengingat kembali apa yang menjadi bunga tidurku semalam.
          Rupanya kali ini usahaku berhasil! Ya, aku mengingatnya. Semua cerita dalam mimpi yang telah terekam dalam ingatan, mendadak terproyeksi jelas tepat di putihnya langit-langit kamarku.
         Reihan. Ya, Reihan Firdaus Pambudi. Ternyata dia yang menjadi tokoh sampingan dalam mimpiku semalam. Aku mengingat lagi, cerita apa yang terangkai dengannya semalam dalam bunga tidurku. 

****

        Entah apa yang membuat Reihan berani melamarku. Aku yang bahkan seorang perempuan yang terlalu biasa baginya. Dia seorang pemimpi yang hebat. Salah seorang pemimpi yang juga mampu membuat setiap mimpinya menjadi nyata. Pendeknya, aku mengenalnya karena dia adalah salah seorang temanku di bangku SMP. Namun, tak ada yang menyangka bahwa aku memiliki tendensi yang berbeda dengan kebanyakan teman sekelasnya. Ya, aku mengaguminya. Bukan, aku bahkan sudah menyukainya. Perasaan lebih dari seorang teman sejak aku mengenalnya untuk pertama kali. 
           Tak pernah ku sangka, kali ini ia berani datang ke rumahku untuk mengajakku menikah. Menikah? Ku pikir, kapan aku memiliki hubungan khusus dengannya? Bahkan kemungkinan besar, dia tak tahu perasaanku yang sebenarnya padanya. Anehnya, tetiba saja dia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Ah, bodo amat. Bukankah ini yang aku inginkan dari dulu. 
       
          "Hei, kamu serius?
         
         "Seriously, I just want to marry u, Zi. Ini adalah mimpiku sedari dulu. Aku menunggu saat-saat seperti ini dari dulu."
          "Wait. Dari dulu?"
         
         Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil padaku. Ah, senyumnya yang begitu manis. Senyumnya yang membuat hatiku serasa tergetar ketika aku berusia 13 tahun. Meski hanya dengan mengingat senyumnya, dapat membuatku tersenyum juga, dulu. 
          "Sejak kapan, Rei?"
        "Sejak kita menjadi teman sekelas. Ya, sejak saat itu, aku begitu teracuni oleh keceriaanmu. Keceriaan seorang gadis berusia 13 tahun yang sedikit tomboi. Keceriaan yang membuatku berani untuk bermimpi sampai saat ini."
     Kali ini wajahku kembali memerah. Sumpah, ungkapannya kali ini membuatku bahagia sekali. Tak pernah sekalipun aku merasa seperti ini. Aku merasa ini bukan hanya sebuah rayuan manis lelaki biasa. Ini adalah ungkapan tulus darinya. Aku tahu siapa dia, tak mungkin ia mengeluarkan kata-kata seperti itu jika tak benar-benar merasakannya.
       "Jadi, kamu pun merasakannya dari dulu?"
       "Iya,Zi."
       Aku tersenyum kembali. Tapi tunggu, ini... bukan mimpi, kan? Aku menepuk pipiku
       beberapa kali. 
       "Awww..."

*****

     Ya, akhirnya aku mengingatnya. Cerita singkat semalam. Cerita singkat selama 2 jam tidurku. Sialnya aku terbangun sebelum aku tahu endingnya. Tapi, entah kenapa sebangun tidur, cerita berkesan itu malah hampir terlupakan begitu saja. 
        "Ah, harusnya aku tidak bangun sebelum aku tahu akhirnya.. ahhhh... Sekarang, mana  bisa mimpi itu terulang bahkan sesuai dengan yang ku mau.." gerutuku kesal sambil mengusap-usap rambutku. 
      Mimpi semalam, benar-benar sebuah harapan palsu bagiku. Aku berharap itu menjadi nyata karena hanya di mimpi itulah aku bisa bertemu dengan sosok lelaki berkulit sawo matang, bermata tajam, beralis tebal, sedikit cuek, yang bernama Reihan itu. Rasanya ada sedikit harapan bahwa dia benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku dulu. Tapi, untuk apa? Untuk mengenang bahwa aku pernah memenangkan hati lelaki berhati beku itu. Ah.. sayang, itu hanya mimpi.
        "Poor me.." ucapku lirih.


*****