Ku buka mataku dengan sedikit malas. Ya, kali ini pagi menjemputku kembali dengan sinarnya yang sudah sangat terang untuk gelapnya dunia mimpiku. Seperti biasa, masih ku gulatkan tubuhku dengan kasur empukku dan guling yang sedari malam lalu berada tepat di sampingku. Ku peluk erat-erat sembari mengumpulkan kesadaranku dari mimpiku.
Mimpi. Yap. Aku teringat kembali rangkaian cerita apalagi yang menghiasi mimpiku semalaman. Singkat sekali durasinya, hingga aku sampai tak sadar bahwa aku harus segera melanjutkan rutinitasku pagi ini. Masih terpekur dalam proses mengingat. Mataku menerawang jauh di langit-langit kamar mengharapkan aku dapat mengingat kembali apa yang menjadi bunga tidurku semalam.
Rupanya kali ini usahaku berhasil! Ya, aku mengingatnya. Semua cerita dalam mimpi yang telah terekam dalam ingatan, mendadak terproyeksi jelas tepat di putihnya langit-langit kamarku.
Reihan. Ya, Reihan Firdaus Pambudi. Ternyata dia yang menjadi tokoh sampingan dalam mimpiku semalam. Aku mengingat lagi, cerita apa yang terangkai dengannya semalam dalam bunga tidurku.
****
Entah apa yang membuat Reihan berani melamarku. Aku yang bahkan seorang perempuan yang terlalu biasa baginya. Dia seorang pemimpi yang hebat. Salah seorang pemimpi yang juga mampu membuat setiap mimpinya menjadi nyata. Pendeknya, aku mengenalnya karena dia adalah salah seorang temanku di bangku SMP. Namun, tak ada yang menyangka bahwa aku memiliki tendensi yang berbeda dengan kebanyakan teman sekelasnya. Ya, aku mengaguminya. Bukan, aku bahkan sudah menyukainya. Perasaan lebih dari seorang teman sejak aku mengenalnya untuk pertama kali.
Tak pernah ku sangka, kali ini ia berani datang ke rumahku untuk mengajakku menikah. Menikah? Ku pikir, kapan aku memiliki hubungan khusus dengannya? Bahkan kemungkinan besar, dia tak tahu perasaanku yang sebenarnya padanya. Anehnya, tetiba saja dia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Ah, bodo amat. Bukankah ini yang aku inginkan dari dulu.
"Seriously, I just want to marry u, Zi. Ini adalah mimpiku sedari dulu. Aku menunggu saat-saat seperti ini dari dulu."
"Wait. Dari dulu?"
Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil padaku. Ah, senyumnya yang begitu manis. Senyumnya yang membuat hatiku serasa tergetar ketika aku berusia 13 tahun. Meski hanya dengan mengingat senyumnya, dapat membuatku tersenyum juga, dulu.
"Sejak kapan, Rei?"
"Sejak kita menjadi teman sekelas. Ya, sejak saat itu, aku begitu teracuni oleh keceriaanmu. Keceriaan seorang gadis berusia 13 tahun yang sedikit tomboi. Keceriaan yang membuatku berani untuk bermimpi sampai saat ini."
Kali ini wajahku kembali memerah. Sumpah, ungkapannya kali ini membuatku bahagia sekali. Tak pernah sekalipun aku merasa seperti ini. Aku merasa ini bukan hanya sebuah rayuan manis lelaki biasa. Ini adalah ungkapan tulus darinya. Aku tahu siapa dia, tak mungkin ia mengeluarkan kata-kata seperti itu jika tak benar-benar merasakannya.
"Jadi, kamu pun merasakannya dari dulu?"
"Iya,Zi."
Aku tersenyum kembali. Tapi tunggu, ini... bukan mimpi, kan? Aku menepuk pipiku
beberapa kali.
"Awww..."
*****
Ya, akhirnya aku mengingatnya. Cerita singkat semalam. Cerita singkat selama 2 jam tidurku. Sialnya aku terbangun sebelum aku tahu endingnya. Tapi, entah kenapa sebangun tidur, cerita berkesan itu malah hampir terlupakan begitu saja.
"Ah, harusnya aku tidak bangun sebelum aku tahu akhirnya.. ahhhh... Sekarang, mana bisa mimpi itu terulang bahkan sesuai dengan yang ku mau.." gerutuku kesal sambil mengusap-usap rambutku.
Mimpi semalam, benar-benar sebuah harapan palsu bagiku. Aku berharap itu menjadi nyata karena hanya di mimpi itulah aku bisa bertemu dengan sosok lelaki berkulit sawo matang, bermata tajam, beralis tebal, sedikit cuek, yang bernama Reihan itu. Rasanya ada sedikit harapan bahwa dia benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku dulu. Tapi, untuk apa? Untuk mengenang bahwa aku pernah memenangkan hati lelaki berhati beku itu. Ah.. sayang, itu hanya mimpi.
"Poor me.." ucapku lirih.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar