Angan-angan yang tergambar di langit-langit kamar mulai buyar. Tak bersisa, bahkan satu bayangan pun. Merasakan bahwa sinar matahari yang memasuki celah dari lubang angin-angin kamarku mulai terasa panas, aku memutuskan untuk segera bangkit. Kembali pada rutinitas biasa, berangkat ke kantor.
"Zinda .. Zi.." sebuah suara memanggilku dari balik daun pintu kamar. Belum puas dengan panggilannya, suara itu terus memanggilku sambil mengetuk pintu kamar.Tok tok tok tok ....
"Zinda .. elu uda bangun belum, sih?"
"Anita. Ah.. kenapa selalu dia, sih yang bangunin gue tiap pagi? Uda ngalah-ngalahin mak gue aja dia." gerutuku kesal.
"Iya, iya, Nit. I'd woke up, Nit."sahutku keras. Segera saja aku terbangun dari tempat tidur dan merapikan selimut serta sprei dan bantal guling. Yah, tak begitu berantakan sebenarnya karena perilaku tidurku yang kata orang-orang gak sebanyak waktu bangun. Ya wajar, sih. Orang namanya tidur ya anteng. Seusai merapikan tempat tidur, ku buka pintu kamar yang dari tadi jadi pusat tempatnya keberisikan pagi ini di kamarku.
"Elu uda bangun dari tadi?" tanya Anita. Perempuan berkulit kuning langsat dan berambut pendek sebahu ini cukup cerewet kalau berbicara masalah kedisiplinan. Karena itulah dia jadi tukang bangunin anak-anak di kostan ini.
"Gak juga, sih. Gue bangun sekitar setengah jam yang lalu. Emang kenapa?"
"Lhah, uda bangun dari setengah jam lalu, kenapa elu masih acak-acakan gini mukanya? Elu kagak ngantor?"
"Ya ngantor, Nit. Ini kan hari Senin." jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Yaudah, elu nunggu apalagi sekarang? Kan elu masuk jam 9, masih aja belom siap-siap."
"Iya, iya baweeeeelll." ucapku seraya mencubit pipi tembem Anita. Perempuan di depanku ini sebenarnya berusia hampir sama denganku, hanya terpaut 3 bulan di bawahku. Tahun ini menginjak seperempat abad. Tapi beruntungnya dia, wajahnya masih seperti anak baru lulus SMP. Aku menyebutnya Cubi-cubi lalalalililii. Lucu memang.
****
Sial! Benar kata Anita, gak akan bisa cukup waktu untuk berangkat ke kantor jika aku bangun saja jam 7.30. Terlebih, aku yang tak langsung mandi, melainkan masih menjalankan sebuah kegiatan yang... Ah, kembali teringat lagi. Lebih sial lagi. Kenapa di saat crowded di bis kayak gini aku harus teringat mimpiku semalam. Harusnya yang ada di kepalaku saat ini hanya satu kata. Kantor.
Tak beberapa lama setelah proses teringat mimpi semalam di bis, aku merasa menikmati munculnya ingatan-ingatan semasa 12 tahun silam yang bahkan tak pernah sedetik pun terusik, sampai mimpi semalam yang benar-benar membuatku berpikir. Tak biasanya aku memimpikan hal yang tak pernah aku pikirkan sebelum tidur.
"Mbak, karcis."
Aku bahkan tak sadar ada seorang petugas karcis yang berjalan di sampingku untuk menarik karcis penumpang. Segera saja aku merogoh uang di saku tas paling depan. Seperti biasa, sudah kusiapkan uang kecil untuk membayar karcis dan memberikan sedikit recehan pada penyanyi jalanan di bis.
"Ini, Pak."
"Tumben agak siang, Mbak?"tanya petugas karcis di sampingku seraya melemparkan senyumnya yang terlihat sangat tulus.
"Eh, iya, Pak. Kesiangan bangun, hehe." jawabku seraya meringis malu. Sudah 1 tahun lebih bis kota ini jadi langgananku untuk menuju kantor. Tak ayal, bapak berusia sekitar 50 tahunan di sampingku ini sampai menghapalku dan jam-jam aku berangkat kerja.
Sembari menunggu uang kembalian membayar bis, aku mengalihkan pandangan mataku di bangku depan sambil melihat-lihat keadaan jalan raya di depan. Bolak-balik ku putar arah pandangan mataku, sampai aku menemukan sesosok lelaki berbaju biru muda, lebih tepatnya mengenakan hem biru muda dan memiliki potongan rambut yang cukup rapi untuk dilihat dari sisi belakang.
Melihat pemandangan itu, aku mengernyitkan dahiku sambil berpikir siapa lelaki yang ada di depan itu. Aku merasa familiar dengan potongannya. Namun, logikaku berpikir bahwa yang memiliki potongan seperti itu mungkin bukan hanya dia saja, tapi hampir semua lelaki berbaju kerah resmi seperti itu, dituntut untuk memiliki potongan rambut yang agak rapi. Tak urakan.
"Ini, Mbak, kembaliannya."
"Eh, oh, iya, Pak. Terima Kasih, Pak." sahutku dengan gelagapan. Ya. Gelagapan karena terlalu asyik aku menanggapi hadirnya sosok lelaki familiar di bangku paling depan bis.
"Ah, pasti bukan dia. Mana mungkin dia di sini. Mana mungkin saat ini aku bisa bertemu dia. Dan, mana mungkin ..." batinku bergumam, bertanya, dan ingin tahu, siapa pemilik baju berkerah warna biru yang duduk tenang di bangku depan itu. Mungkin...
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar