Sudah 3 hari berturut-turut ini aku bertemu dengan lelaki yang sama di bis itu. Sejak 3 hari yang lalu, bahkan aku masih mengenalinya walaupun ia mengenakan warna baju yang berbeda. Punggungnya yang cukup tegap, postur tubuhnya yang agak tinggi, dan potongan rambutnya yang rapi, menjadi sebuah ciri yang sudah terpatri dalam ingatanku. Hanya satu yang ku sayangkan, aku masih belum mampu melihat wajahnya dari depan, terlebih mengetahui namanya.
"Ah, siapa, sih, dia? Apa memang dia benar-benar... Ah, tidak mungkin. Tapi, sapa yang bisa menjamin itu bukan dia. Aaaahhh.. tauk ah. Pusing malahan kepalaku kalo mikirin siapa dia." gerutuku kesal. Pikiranku masih saja melayang di antara tumpukan kertas laporan dan laptop unguku. Tidak biasanya aku membiarkan "PR" kantor sampai berhari-hari belum ku selesaikan. Padahal, menurut orang-orang di kantor, aku adalah salah seorang pegawai yang cukup rajin dalam menyelesaikan laporan-laporan. Tapi kali ini, mungkin jabatan itu sementara harus ku tanggalkan dulu demi sebuah rasa penasaran yang terus menghantuiku sejak 3 hari yang lalu.
"Lhaaaa......ternyata yaaa..." Terlalu asyiknya aku larut dalam dunia penasaranku, membuatku tak sadar bahwa Anita ternyata sudah tepat berada di sampingku.
"Haduuuh. Elu ini kenapa bikin kaget orang aja, sih?"tanyaku kesal sembari merapikan serakan kertas laporan yang sudah entah seperti apa bentuk berantakannya saat ini.
"Lha elu, gue panggil dari tadi dari pintu kamar lu yang kebuka, elu kagak juga nyautin gue. Kan gue pengen tahu, elu lagi ngerjain apa'an sampe gak denger gue panggil-panggil dari tadi." papar Anita.
"Eh, enggak, gue bingung sama kerjaan gue ini. Biasa, kebanyakan "PR", hehe."sahutku sambil meringis.
"Bentar, sejak kapan elu punya banyak "PR" kayak gini, sih? Setahu gue, bukannya elu termasuk pegawai yang dielu-elukan karena kerajinan elu, ya?"
"Hehehe..."aku tak sanggup menjawab. Ada rasa sungkan untuk menjelaskan penyebab menimbunnya "PR"ku kali ini. Tiba-tiba tatapan Anita berubah. Ia mulai menyadari bahwa ada yang aku sembunyikan dari dia.
"Hmmm...Gue tahu, gue tahu. Elu lagi ada sesuatu yang elu pikirin, ya? Kenapa, sih? Cerita, donk. Gue pengen tahu, nih. Apa yang bisa ngebikin elu gak fokus gini sama kerjaan elu. Sampe segitunya." Anita terus mendesakku untuk menceritakan apa yang sebenarnya aku alami beberapa hari ini.
Memang benar apa yang dikatakan Anita. Gak semestinya aku memikirkan hal yang bahkan sebenarnya sama sekali tidak jelas. Entahlah. Hal yang aku pikirkan berhari-hari ini cukup mengganggu rutinitasku. Beberapa laporan terpaksa harus aku bawa pulang karena aku tak cukup fokus mengerjakannya di kantor. Anita pun ternyata bisa mengamati perubahanku 3 hari ini. Itu artinya, dengan terpaksa, aku menceritakan apa yang aku alami sejak 3 hari lalu. Tak terkecuali mimpi aneh yang sempat menghampiriku.
"Ya ampun, Zinda sayang. Jadi selama beberapa hari ini kamu kepikiran hal kayak gitu? Elah, Zi, gue bilangin, ya. Itu cuman mimpi, Zi, bunganya tidur doank. Gak lebih. Elu selalu make feeling elu mulu, sih. Forget that, girl. Gak ada gunanya. "tutur Anita.
"Iya, gue tahu, Nit. Tapi.. Ah, gue gak bisa jelasin. Firasat gue bilang, akan ada sebuah kejadian yang bisa ngerubah hidup gue sebentar lagi."tukasku.
"Ya, semua hidup orang bakalan berubah kali, Zindaaaa."
"Aaahh... Elu kagak paham, sih. Makanya elu bisa ngomong gitu."
"Oke, sekarang kamu maunya gimana? Kamu mau cuman mikirin ini doank? Mikirin terus sapa cowok yang elu liatin di bis itu?"
"Gak, gue harus berbuat sesuatu."
"Berbuat apa'an?"
"Let's see tomorrow morning, yah." sahutku sambil tersenyum menggoda Anita.
"Aaahh.. elu mesti gitu. Apa'an, sih?"
"Misi rahasia gue donk."ucapku sambil tersenyum lebar.
"Aaaaahh Zindaaa, kasih tauuuuu..."
Tiba-tiba saja suasana malam itu menjadi berubah. Seakan aku menemukan sebuah cara untuk menjawab rasa ingin tahuku yang cukup tinggi ini. Ya, besok pagi lah yang akan menjawabnya.
****
7.30.
Bukan. Kali ini bukan baru saja aku terbangun dari tidur. Tapi kali ini aku bahkan sudah siap untuk berangkat ke kantor. Berdandan lebih rapi dari hari-hari sebelumnya. Lengkap dengan memakai setelan hem berlengan pendek, blazer hitam, dan celana panjang hitam. Pakaian paling rapiku dalam seminggu ini ku persembahkan di hari ini, hari Jumat. Hari terakhir ngantor untuk minggu ini.
Kali ini aku berangkat lebih awal ke arah halte bis di depan gang rumah kostku. Tak jauh, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk bisa sampai di halte depan. Sesampai di halte, aku sempat merasa aneh sendiri. Tidak biasanya aku berangkat agak lebih pagi. Biasanya, aku mengambil waktu berangkat yang cukup mepet dengan masuk jam kantor. Tapi hari ini, khusus hari ini, aku melakukan sebuah usaha lain selain tujuan tidak terlambat ke kantor. Ya, hal yang paling menghantuiku 4 hari yang lalu. Aku ingin segera mengetahui siapa lelaki itu.
Bis yang biasanya ku tumpangi ke kantor akhirnya lewat juga. Segera saja ku rapikan rambut dan bajuku. Setelah itu segera aku masuk ke dalam bis itu. Kali ini aku melihat kepala itu lagi. Tak banyak berpikir, aku segera mengambil tempat duduk ketiga dari depan. Bukan karena tempat itu yang dekat dari si pemilik kepala itu saja, tapi hanya itu saja kursi yang masih tersisa di bis.
Masih dengan perasaan ingin tahu. Ku lemparkan pandanganku terus kepada lelaki yang memakai hem abu-abu di bangku paling depan itu. Hatiku masih terus bertanya-tanya.
'Tuhan, ijinkan aku untuk memastikan siapa lelaki itu. Kalaupun dia bukan lelaki yang ku maksud, aku mohon, ijinkan aku memastikannya.' gumamku dalam hati.
Entah kenapa, beberapa saat setelah aku bergumam seperti itu, tiba-tiba saja lelaki yang sedari tadi aku amati, memutarkan tubuhnya 45 derajat ke kiri. Rupanya desakan dari seorang lelaki bertubuh besar yang berdiri di samping kirinya membuatnya tak nyaman, karena itulah ia memutarkan tubuhnya untuk melihat lelaki yang membuatnya tak nyaman itu.
Samar-samar aku menengarai wajah lelaki berbaju abu-abu itu. Dan.. tiba-tiba saja mataku terbelalak spontan. Jantungku berdegup semakin kencang. Mulutku tiba-tiba menganga kecil. Aku merasa sangat mengenal siapa lelaki itu. Dia .. Tuhan. Rupanya dia.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar