Hai dear,
Pernah pakai topeng?
Atau sering bermain-main dengan menggunakan topeng?
Mungkin tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita menggunakannya, tapi kita menganggap itu hal biasa.
Gak ada yang salah dengan memakai topeng, hanya saja, setiap kita menjadikan hal tersebut 'lumrah'.
Ada beberapa pemandangan unik pagi ini.
Pagi ini 2 orang staf kampus menyapa dengan riang, sangat riang, bahkan memberikan kata-kata semangat pada setiap orang yang lewat di depannya dan menyapanya.
Mungkin, bagi orang yang berpikir positif, hal tersebut justru merupakan hal baik.
Sapaan dan ucapan semangat, yang berarti menyebarkan energi positif untuk memulai hari, memulai pagi dengan sebuah senyuman lebar.
Kemudian masuk ke sebuah ruangan di kampus, ada seorang teman yang juga menyapa. Kemudian bertukar kabar, bercanda semenit dua menit.
Lagi, di ruangan tersebut, sambil mengamati, beberapa orang berbagi sapa, bercanda satu sama lain, bercerita, melempar tawa.
Lagi, dan lagi, pandangan sebagai orang awam, tanpa berjubah dengan profesi.
Lucu sebenarnya melihat pemandangan-pemandangan tersebut.
Sebagai penikmat, ada tanya yang menggelitik geli,
Apakah benar gambaran wajah mereka yang ku lihat benar adanya dengan suasana hati mereka?
Kalau tidak, apakah dorongan yang membuat mereka begitu?
Hanya karena untuk menghindari konflik?
Hanya karena untuk make sure pada orang lain bahwa hidup sedang baik-baik saja?
Atau hanya untuk membuat image bahwa kita adalah orang yang riang, tanpa ada sisi sendu?
Entah apapun alasan itu,
Yang jelas, apapun topeng yang dikenakan, harusnya tak jauh-jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sepertinya sudah biasa semua orang mengenakan topeng satu sama lain,
Topeng sabar?
Topeng emotionless?
Topeng penuh senyum?
Topeng baik-baik saja?
Laman
Jumat, 13 November 2015
Jumat, 06 November 2015
Drama?
Menyedihkan,
Ketika kita punya orang-orang terdekat, tapi kita tidak bisa menceritakan apa yang ingin kita ungkapkan karena berbagai hal alasannya.
Bukan,
Bukan menutup diri, tapi karena ada sebuah tembok pembatas yang terciptakan, entah mereka, situasi, atau diri kita sendiri yang menciptakan tembok tersebut.
Pembatas,
Privasi,
Semua berhak memiliki dua hal itu.
Semua berhak menciptakannya kepada siapapun dan apapun
Tak terkecuali orang-orang terdekatku padaku.
Entah,
Apa alasannya.
Namun,
Seorang yang pernah menjadi orang terdekatku, mengatakan bahwa,
Apapun pembatas yang terciptakan,
Aku harus tetap berpikir positif.
Aku harus tetap membuka diriku.
Dengan begitu, aku tidak akan menganggap diriku sendiri,
Menjadi orang terbodoh di antara mereka.
Atau,
Boleh jadi,
Aku menganggap mereka orang terdekatku,
Tapi,
Apakah mereka sebaliknya juga begitu?
Itulah yang harusnya aku pikirkan.
Harusnya tak boleh aku menjadikan diriku sebagai pusat,
Tapi orang lain.
Ah,
Siang ini aku mungkin terlalu drama dengan sepenggal teriknya matahari.
Ketika kita punya orang-orang terdekat, tapi kita tidak bisa menceritakan apa yang ingin kita ungkapkan karena berbagai hal alasannya.
Bukan,
Bukan menutup diri, tapi karena ada sebuah tembok pembatas yang terciptakan, entah mereka, situasi, atau diri kita sendiri yang menciptakan tembok tersebut.
Pembatas,
Privasi,
Semua berhak memiliki dua hal itu.
Semua berhak menciptakannya kepada siapapun dan apapun
Tak terkecuali orang-orang terdekatku padaku.
Entah,
Apa alasannya.
Namun,
Seorang yang pernah menjadi orang terdekatku, mengatakan bahwa,
Apapun pembatas yang terciptakan,
Aku harus tetap berpikir positif.
Aku harus tetap membuka diriku.
Dengan begitu, aku tidak akan menganggap diriku sendiri,
Menjadi orang terbodoh di antara mereka.
Atau,
Boleh jadi,
Aku menganggap mereka orang terdekatku,
Tapi,
Apakah mereka sebaliknya juga begitu?
Itulah yang harusnya aku pikirkan.
Harusnya tak boleh aku menjadikan diriku sebagai pusat,
Tapi orang lain.
Ah,
Siang ini aku mungkin terlalu drama dengan sepenggal teriknya matahari.
Langganan:
Postingan (Atom)

