Laman

Kamis, 25 Juni 2015

Keburu Deadline??







Hei..

Sering dapet pertanyaan "Kapan batasan waktunya?", "Kapan dilakukan?", "Kapan dikumpulin?", bahkan "Kapan wisuda? Kapan nargetin nikah? Kapan punya anak? Kapan ini, kapan itu????"

Pertanyaan-pertanyaan serupa semakin gencar dilontarkan dari berbagai pihak tentang deadline hidup kita, baik yg terlibat secara langsung sampai yang tidak terlibat sama sekali. 

Terus, apa yang kalian lakukan jika sudah terkena pertanyaan pamungkas seperti itu? Beberapa ada yang meringis jleb, ada yang santai berasa makan petai, ada yang dengan siap dan tegas ngejawab rencananya.

Dan mungkin berbagai lontaran pertanyaan serupa seperti itu sekarang akan lebih banyak saya respon spontan dengan... meringis jleb.

Manusia menang berencana yang terbaik versi dia. Tapi, menurutmu apa yang bisa diperbuat jika Tuhan punya rencana beda? 

Orang-orang yang mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin awalnya hanya bertujuan iseng, niat rapport aja, gak butuh jawaban yang sebenernya. Tapi, bagi yang ditanyain, bisa jadi itu hal yang mungkin...emm..bisa dibilang agak privasi dan sensitif, dengan berbagai alasan.

Saya gak bikin pembelaan buat pihak yg terkena bombardir pertanyaan tentang deadline itu, tapi itulah kenyataan. 

Sering kita terburu deadline bukan karena deadline itu sendiri, tapi karena takut dihujani dengan berbagai pertanyaan deadline dalam hidup. 

Dan akhirnya kita gak menikmati proses, cemas sendiri, gak enjoy, padahal semua proses kita yang ngejalanin, orang lain cuma sebuah bagian luar yang mungkin gak banyak berkontribusi, bahkan cuma ISENG nanya.

Padahal penting untuk menjaga kesehatan mental dengan menikmati ritme hidupmu, bukan semata karena terburu ini, terburu itu. Yaaa dijalani, dikerjakan, diusahakan sebaik mungkin, tapi bukan berarti menekan keadaan mentalmu berlebihan, bisa-bisa tidak selesai, tidak terealisasi, malah merusak kesehatan mentalmu karena ketidakrealistisanmu dengan kondisi.

Lalu, masihkah kamu terburu deadline (mu sendiri atau yang diberikan orang lain) ?
Nikmatilah irama hidupmu dengan menikmati rencana-rencanamu, bukan rencana yang iseng dipasang sama orang lain. Nikmati pasang surutnya berproses, ambillah pelajaran di setiap detik hikmah yang tersajikan dalam harapan dan realisasiNya. Enjoy aja~

Minggu, 21 Juni 2015

Surat Untuk Ayah

When everyone can say a fathers day to their father, i just can make a wish that my father can get better soon.





Yap..ini tanggal 21 Juni. Hari dimana para insan bisa mengucapkan bahwa ada hari istimewa juga dalam keluarga, selain hari ibu dan hari lahir serta hari jadi. 

Berbanggalah kalian yang pernah merasakan jatuh cinta pertama kali di saat usia kalian masih belia, bukan..bukan pada lelaki asing, tapi pada lelaki yang kalian panggil pertama kalinya sejak kalian menatap senyum dunia.

Berbahagialah kalian yang pernah melihat sosok perkasa dan bertanggung jawab selama nafas kalian terhembus, bukan..bukan pada superhero layaknya batman atau ultraman, tapi pada lelaki yang mulai menua dengan diiringi kematangan jiwanya di keluarga kalian.

Bersukalah kalian yang pernah berada di atas punggung atau merasakan kehangatan, kecupan, pelukan, dan kasih sayang sejak pertama kali kalian melihat warna kehidupan hingga detik ini, bukan..bukan seorang
suami kalian kelak atau kini, tapi pada lelaki yang setia menanti hadirnya kalian dari perut ibu kalian.

Bergembiralah kalian yang pernah diperjuangkan masa depannya, dengan pengorbanan kebahagiaan, waktu, serta bulir peluh di masa mudanya hingga masa senjanya, sampai pada waktu kalian diserahkan pada lelaki kedua yang dipercaya untuk menjaga sisa hidup kalian selanjutnya, bukan..bukan seorang petugas relawan yang tak dibayar pada sebuah peristiwa bencana, tapi oleh lelaki yang kalian lantunkan dengan,  Ayah.

Karena tak semua ayah memiliki kesempatan untuk membuktikan pada buah hatinya, bahwa ia pantas menjadi kebanggaan keluarga. 

Ayah, seperti apapun engkau saat ini, yang kami ingat hanyalah ketika menghabiskan waktu denganmu, kemudian menatap usiamu yang tak lagi muda, lalu saling berbagi tawa. Semoga Tuhan selalu memberikan kebaikan dan kesehatan. untukmu, selalu.