Pernah pada suatu masa,
Saya menikmati rangkaian kata yang tertulis dalam kumpulan barisan sajak.
Kenikmatan itu, lama-lama menjadi sebuah candu bagi saya,
Candu untuk kemudian semakin mencari tahu bagian selanjutnya.
Candu untuk bisa membebaskan angan, untuk kemudian menerbangkan segala kata yang tak mampu terlisan.
Saya ternyata menikmati tiap diksi yang disuguhkan olehnya di tiap kisah.
Ada pilu, patah hati, ucap yang tak tersampaikan, dan segala rupa kenangan.
Namun, ada juga bahagia, penguatan, sorak ramai, dan euforia yang juga tersirat
dan hanya mampu dirasakan bagi yang mampu memaknainya.
Rupanya, tulisan-tulisannya itu saya temui secara pasti,
Saat saya harus merepresentasikan sajak ciptaannya dalam sebuah pentas.
Kali itu, ada sajak wajib dan sajak pilihan,
Dan saya memilih satu sajaknya.
Sajaknya yang sampai saat ini saya sangat ingat sekali maknanya.
Iya, hanya judul, pemilik, dan maknanya saja yang saya ingat,
karena ingatan saya memang tak sebagus itu.
Melalui sajaknya, saya mampu meraih sebuah mimpi lama saya kala itu.
Yang bahkan saya tidak pernah berani bermimpi untuk naik ke atas pentas,
Menjadi wakil institusi pendidikan saya kala itu,
Yang bahkan diudarakan secara langsung di salah satu radio negeri di kota saya tinggal.
Yang kemudian, akhirnya saya menjadi seorang juara.
Iya, juara baca puisi.
Saya ingat sekali,
Saya bahkan bukan yang terbaik sebelumnya di antara yang terbaik.
Saya bak sebuah jarum putih, yang tak pernah menjadi alasan bagi orang lain,
bahkan untuk melirik apa yang ada dalam diri saya.
Namun, entah Tuhan sedang ingin menerbangkan saya atau apa,
Kala itu, saya punya keberanian yang entah juga darimana,
untuk ikut dalam seleksi yang diikuti oleh beberapa nama,
yang sebelumnya menjadi terbaik bagi wakil sekolah saya.
Tak ada harapan tinggi,
hanya sebuah keinginan saya mencari penyaluran atas ketakutan yang selama ini saya simpan, untuk berani menunjukkan diri.
Dan sekali lagi,
Tuhan kala itu ingin membuat saya terbuai atau apa,
Saya ditunjuk sebagai salah satu wakil dari institusi sekolah saya.
Kemudian hanya cukup berlatih dalam waktu 2 hari saja untuk mematangkan semuanya.
Saya hanya belajar dari apa yang pernah saya dengar, saya lihat, saya temui.
Selebihnya, hanya dari intuisi saya saja untuk membawakannya.
Dan siapa sangka,
Keberanian yang tak ada harap lebih itu,
menjadi sebuah titik balik bagi masa saya bersekolah dan hidup.
Meski saat ini saya tak bisa menjadi seorang pujangga besar,
Namun kecintaan saya pada puisi,
adalah sebuah bara yang tak pernah padam dalam diri.
Saya masih sering mengalami bulu kuduk berdiri,
saat mendengar sajak lama.
Saya pun masih sangat suka meluapkan rasa dan imajinasi saya dalam larik.
Meski saya juga yang menjadi penikmatnya.
Tak apa,
Mungkin setelah saya tiada,
Apa yang saya tuangkan mungkin bisa dinikmati setidaknya,
Bagi orang-orang yang saya tinggalkan,
Yang ingin tahu tentang saya.
Terima kasih atas buah cintamu, Eyang Sapardi Djoko Damono.
Karena buah cintamulah, saya mampu mendengarkan bisik yang tak mampu saya utarakan, meski pada angin sekalipun.
Karena buah tulisanmu, saya mampu jatuh cinta yang mendalam untuk berkali-kali,
Pada satu-satunya hal yang masih bisa saya lakukan, saat lidah terasa kelu.
Terima kasih,
dan selamat Jalan, Eyang.
Doa Para Pelaut yang Tabah darimu,
akan selalu menjadi sajak paling kecintaan bagi diri saya.
Sebabmulah, saya berani mewujudkan mimpi saya,
Meski sejenak.
