Salam,
Wahh, lama gak ngeblog nih. Ini kali kedua setelah sekian lama blog jadi usang selama beberapa bulan. Bukan alasan sih, tapi memang beberapa waktu terakhir ini jadi agak susah buat nyari "me time". Biasa, mahasiswa lagi kebanjiran tugas, hehe. Yahh hari ini meski jadwal padat merayap dari pagi, saya berusaha maksain diri sendiri buat ngeluangin sedikit waktu buat share lagi buat readers blog ini. Kali ini bahasan kita adalah sesuai dengan gambar yang saya postkan di atas. Bener banget, ngebahas masalah feeling dan thinking. 2 kata di atas ini sering saya bahas tiap pertemuan kuliah pastinya. Hayo, sapa yang tahu makna dari 2 kata di atas? 2 Kata itu pastinya hampir kita pakai dalam berkomunikasi sehari-hari secara sadar atau gak.
Dimulai dari kata pertama, yaitu feeling. Menurut Chaplin(1972), feeling atau perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi yang berasal dari stimulus, baik internal maupun eksternal. Gampangannya, feeling adalah aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan perasaan. Sifat dari feeling itu sendiri adalah subyektif berdasarkan pengalaman masing-masing individu. Oleh karena itu, erat kaitan antara feeling dan emosi. Biasanya nih ya, biasanya, orang yang sangat penuh dengan perasaan selalu beraktivitas dengan mempertimbangkan perasaan diri sendiri dan orang lain, bener gak?hehe *maksa*
Berbeda dengan feeling, thinking adalah aktivitas mental yang melibatkan kerja organ otak kita. Nah, biasanya orang yang beraktivitas ini lebih dominan menggunakan logika-logika dalam menemukan penyelesaian sebuah masalah atau problem atau bahkan ketika ia akan melakukan aktivitas tertentu. Berbicara mengenai thinking, otak memiliki mekanisme kerja tertentu lho, siapa yang tahu bahwa awal mulanya, manusia hanya memiliki 1 sel saja, yakni stem cell. berangkat dari 1 sel yang berisi sifat-sifat genetik ayah dan ibunya inilah terjadi perkembangan menuju kepada terbentuknya manusia dengan kompleksitas yang tinggi. Melalui 1 sel ini, akhirnya membelah menjadi 2 sel, kemudian 4 sel, lalu 8 sel, dan begitulah seterusnya sampai bermilyar-milyar sel di tubuh manusia yang memiliki fungsi yang bervariasi. Dari struktur otak kita aja uda bisa tahu kalo otak kita itu jauh luar biasa daripada komputer atau gadget manapun yang sophisticated. Nah, di sinilah kita menggunakan satu organ tubuh kita untuk berpikir. untuk itu, gak ada alasan buat kita untuk gak bisa mikir, yang ada mah males buat mikir, hehe.
Feeling dan thinking memiliki peranan masing-masing dalam kehidupan sehari-hari kita karena kedua hal tersebut adalah cara kita memahami diri sendiri dan sekitar kita. kedua hal tersebut adalah fungsi dasar dari tiap individu. Oleh karena itu, kita gak bisa ngebedain apakah lebih penting feeling atau lebih penting thinking. Kalo kita memandang bahwa feeling itu gak penting, bagaimana kita bisa menentukan harus bersikap seperti apakah kita terhadap orang lain, apa yang harus kita lakukan ketika orang lain sedang mengalami sebuah kesusahan tertentu, atau bahkan kita tidak memiliki kepekaan pada diri kita sendiri. Begitu pula dengan pentingnya thinking, kita tidak akan pernah menemukan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan yang kita ajukan setiap hari. Bayangin aja, kita lagi ada masalah berat, terus kita males mikir, apa jadinya? Pasti masalah kita gak bakalan kelar-kelar. Nah, contoh nyata nih, kalo kita ujian semesteran, kita gak pake belajar(karena belajar juga melibatkan aktivitas thinking), apa jadinya nilai ujian kita? Pasti uda ketebak lah ya. Yah, uda bisa dibayangin, apa jadinya kalo kita gak pernah menggunakan 2 aktivitas mental tersebut, bakal gak jauh beda sama zombie lah kita, hehe
Berkaitan dengan pilihan kita mau menggunakan yang mana, mana yang mendominasi, itu tergantung kita lagi. Kita lebih bisa mengkondisikan pada yang mana. Yaaah bisa lah dinamakan kontekstual, tergantung kita nya butuhnya yang mana. Salah satu contohnya, seorang psikolog yang sedang menangani klien, klien bercerita tentang masalahnya ke psikolog tersebut. Eeehh tiba-tiba si psikolognya bengong nyimak doank, tanpa menampakkan perasaannya(ya gak lebai ala-ala sinetron juga sih, hhe), apa yang bakal terjadi? Yang ada kita tidak bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh klien, bagaimana perasaannya ketika ia sedang mengalami masalah tersebut. Begitu juga dengan thinking. Kalau ada klien datang ke psikolog minta sebuah penyelesaian dari masalahnya, eehh psikolognya cuman diem sambil ngedengerin cerita kilen dan akhirnya ceritanya cuman sekedar lewat aja di kuping kanan/kiri, gimana tuh? bahasa gaulnya: ZOOONK banged kan?! hehehe..
Menyadari pentingnya dua aktivitas mental di atas, banyak yang harusnya kita ketahui supaya kita bisa jauh mengoptimalkan apa yang Tuhan berikan pada kita selama ini. Jangan pernah sia-siakan atau menyepelekan kebermanfaatan kedua kata di atas. Yap, sepeti kata orang bijak, gunakanlah logikamu ketika kau berhadapan dengan diri sendiri, dan gunakanlah hatimu untuk bisa berhadapan dengan orang lain".
Salam ,
*FYI: kalo pengen iseng-iseng baca buku di atas, bisa mengunjungi perpustakaan UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA karena buku itu lagi bertengger di sana :)

