Beberapa hari lalu ada seorang kenalan yang datang ke rumah dan mencoba menceritakan keluh kesahnya pada saya.
Seorang perempuan yang kira-kira seusia saya 5 tahun lalu. Awal mula dia mengadu perkara kisah cintanya yang ada di ujung tanduk. Tema-tema tentang romantic relantionship memang tema menarik bagi saya. Tak bisa dikatakan saya seorang petualang cinta, namun masa lalu yang banyak mengajarkan saya berbagai hal untuk menjalani sebuah hubungan romantis yang sehat, versi saya.
Setelah mencoba mendengarkan rangkaian ceritanya, banyak hal yang menjadi pertanyaan di benak saya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tak langsung saya tanyakan di sela jedanya bercerita. Saya mencoba mencerna, merunut ulang tentang timeline yang dia kemukakan. Iya, banyak cerita yang dia ceritakan tidak runut waktunya.
Setelah mencoba menempatkan diri saya di posisinya, saya paham sekali perasaannya. Bagaimana dia mencoba keras untuk bahkan berani bercerita pada orang asing, saya. Pada dasarnya, dia orang yang tertutup. Namun, keadaan membuatnya terpaksa mencari bantuan dan jawaban melalui point of view orang lain.
Yang saya simpulkan, banyak sekali perilakunya yang muncul adalah asbabnya kejadian di masa lalunya yang membuat dia kecewa, marah, dan merasa sendiri. Dia adalah seorang anak yang lahir di keluarga broken. Ayahnya dan ibunya telah melakukan perselingkuhan ketika menjalani pernikahan. Beberapa perilaku ayahnya pun yang suka mabuk-mabukan bahkan membuat dia sangat muak dengan alkohol. Menurut ceritanya, meski dia berada dalam circle yang bebas dalam bergaul, dia memiliki pendirian kuat untuk tidak meminum alkohol dan melakukan hubungan pra nikah.
Lagi-lagi masih dari sudut pandang dia, anggapan bahwa apa yang terjadi saat ini padanya pun adalah sebuah rantai yang masih bersambungan dengan masa lalunya. Ya benar, tiap perilaku kita bisa jadi salah satu respon dari apa yang telah kita alami sebelumnya.
Sebenarnya, jika posisi saya adalah seorang teman baginya, mungkin banyak kata yang meluncur yang kurang enak untuknya dari saya. Namun, saya sadar, jika posisi saya adalah sebagai seorang yang berusaha untuk objektif meski dengan segala cerita yang menurut saya masih hanya dari satu sisi saja.
Yang ingin saya ambil benang merahnya dari apa yang dialaminya adalah bahwa We deserve a better life. Ya, semua orang pasti punya masa lalu masing-masing. Dan di antaranya pasti ada beberapa yang mungkin meninggalkan luka dan emosi negatif bagi kita. Namun, kadang karena kita sering kali menengok pada yang telah lalu, bahkan telah selesai, akhirnya kita lupa bahwa ada lebih banyak masa depan yang akan kita hadapi nantinya. Masa depan yang pastinya ingin kita rancang lebih baik dari yang telah lalu. Tapi lagi-lagi, kadang tanpa sadar, unconscious kita banyak berperan dalam merespon situasi saat ini.
Apa yang perlu kita lakukan untuk membuat masa depan kita lebih baik meskipun ada banyak luka yang berusaha kita sembunyikan? Ibarat seusai perang, ada banyak bekas sayatan pedang atau sajam di badan kita, apa yang harus kita lakukan untuk melangkah ke depan?
Ya, pertama kali adalah memaafkan.
Jika berbicara tentang memaafkan, banyak sekali hal yang bisa kita perbincangkan. Apakah benar kita sudah memaafkan sepenuhnya? Apakah pantas kita memaafkannya? Bagaimana proses memaafkan itu sendiri? Apa dampaknya jika kita melakukan pemaafan dibandingkan jika kita tidak memaafkan? Banyak sekali bahasannya.
Namun yang jelas, memaafkan itu sebenarnya adalah proses panjang, proses yang justru kita harus berdamai dan selesai dengan luka kita sendiri. Ya, karena justru itu yang terjadi saat kita terluka. Memaafkan itu justru untuk ketenangan diri kita dan ego kita sendiri, bukan untuk orang lain, apalagi untuk orang yang telah membuat luka tersebut.
Bertahun saya juga bergelut dengan luka dan proses memaafkan dalam hidup saya, akhirnya saya berada pada titik bahwa memaafkan itu bisa menjadi proses seumur hidup bahkan. Itulah sebabnya ikhlas itu sulit sekali tingkatannya.
Dan memaafkan itu,
adalah kesadaran awal kita bahwasanya kita harus lebih peduli pada diri kita dan kebahagiaan kita sendiri nantinya. Coba cek kembali, sudahkah kita benar-benar memaafkan hal yang melukai kita di masa lalu?









