Laman

Kamis, 09 September 2021

Tentang Memaafkan

 



Beberapa hari lalu ada seorang kenalan yang datang ke rumah dan mencoba menceritakan keluh kesahnya pada saya. 

Seorang perempuan yang kira-kira seusia saya 5 tahun lalu. Awal mula dia mengadu perkara kisah cintanya yang ada di ujung tanduk. Tema-tema tentang romantic relantionship memang tema menarik bagi saya. Tak bisa dikatakan saya seorang petualang cinta, namun masa lalu yang banyak mengajarkan saya berbagai hal untuk menjalani sebuah hubungan romantis yang sehat, versi saya. 

Setelah mencoba mendengarkan rangkaian ceritanya, banyak hal yang menjadi pertanyaan di benak saya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tak langsung saya tanyakan di sela jedanya bercerita. Saya mencoba mencerna, merunut ulang tentang timeline yang dia kemukakan. Iya, banyak cerita yang dia ceritakan tidak runut waktunya.

Setelah mencoba menempatkan diri saya di posisinya, saya paham sekali perasaannya. Bagaimana dia mencoba keras untuk bahkan berani bercerita pada orang asing, saya. Pada dasarnya, dia orang yang tertutup. Namun, keadaan membuatnya terpaksa mencari bantuan dan jawaban melalui point of view orang lain. 

Yang saya simpulkan, banyak sekali perilakunya yang muncul adalah asbabnya kejadian di masa lalunya yang membuat dia kecewa, marah, dan merasa sendiri. Dia adalah seorang anak yang lahir di keluarga broken. Ayahnya dan ibunya telah melakukan perselingkuhan ketika menjalani pernikahan. Beberapa perilaku ayahnya pun yang suka mabuk-mabukan bahkan membuat dia sangat muak dengan alkohol. Menurut ceritanya, meski dia berada dalam circle yang bebas dalam bergaul, dia memiliki pendirian kuat untuk tidak meminum alkohol dan melakukan hubungan pra nikah. 

Lagi-lagi masih dari sudut pandang dia, anggapan bahwa apa yang terjadi saat ini padanya pun adalah sebuah rantai yang masih bersambungan dengan masa lalunya. Ya benar, tiap perilaku kita bisa jadi salah satu respon dari apa yang telah kita alami sebelumnya. 

Sebenarnya, jika posisi saya adalah seorang teman baginya, mungkin banyak kata yang meluncur yang kurang enak untuknya dari saya. Namun, saya sadar, jika posisi saya adalah sebagai seorang yang berusaha untuk objektif meski dengan segala cerita yang menurut saya masih hanya dari satu sisi saja. 

Yang ingin saya ambil benang merahnya dari apa yang dialaminya adalah bahwa We deserve a better life. Ya, semua orang pasti punya masa lalu masing-masing. Dan di antaranya pasti ada beberapa yang mungkin meninggalkan luka dan emosi negatif bagi kita. Namun, kadang karena kita sering kali menengok pada yang telah lalu, bahkan telah selesai, akhirnya kita lupa bahwa ada lebih banyak masa depan yang akan kita hadapi nantinya. Masa depan yang pastinya ingin kita rancang lebih baik dari yang telah lalu. Tapi lagi-lagi, kadang tanpa sadar, unconscious kita banyak berperan dalam merespon situasi saat ini. 

Apa yang perlu kita lakukan untuk membuat masa depan kita lebih baik meskipun ada banyak luka yang berusaha kita sembunyikan? Ibarat seusai perang, ada banyak bekas sayatan pedang atau sajam di badan kita, apa yang harus kita lakukan untuk melangkah ke depan?

Ya, pertama kali adalah memaafkan.

Jika berbicara tentang memaafkan, banyak sekali hal yang bisa kita perbincangkan. Apakah benar kita sudah memaafkan sepenuhnya? Apakah pantas kita memaafkannya? Bagaimana proses memaafkan itu sendiri? Apa dampaknya jika kita melakukan pemaafan dibandingkan jika kita tidak memaafkan? Banyak sekali bahasannya. 

Namun yang jelas, memaafkan itu sebenarnya adalah proses panjang, proses yang justru kita harus berdamai dan selesai dengan luka kita sendiri. Ya, karena justru itu yang terjadi saat kita terluka. Memaafkan itu justru untuk ketenangan diri kita dan ego kita sendiri, bukan untuk orang lain, apalagi untuk orang yang telah membuat luka tersebut. 

Bertahun saya juga bergelut dengan luka dan proses memaafkan dalam hidup saya, akhirnya saya berada pada titik bahwa memaafkan itu bisa menjadi proses seumur hidup bahkan. Itulah sebabnya ikhlas itu sulit sekali tingkatannya. 

Dan memaafkan itu, 

adalah kesadaran awal kita bahwasanya kita harus lebih peduli pada diri kita dan kebahagiaan kita sendiri nantinya. Coba cek kembali, sudahkah kita benar-benar memaafkan hal yang melukai kita di masa lalu? 

Senin, 20 Juli 2020

Jatuh Cinta untuk Kesekian Kali

Pernah pada suatu masa,
Saya menikmati rangkaian kata yang tertulis dalam kumpulan barisan sajak.
Kenikmatan itu, lama-lama menjadi sebuah candu bagi saya,
Candu untuk kemudian semakin mencari tahu bagian selanjutnya.
Candu untuk bisa membebaskan angan, untuk kemudian menerbangkan segala kata yang tak mampu terlisan.

Saya ternyata menikmati tiap diksi yang disuguhkan olehnya di tiap kisah.
Ada pilu, patah hati, ucap yang tak tersampaikan, dan segala rupa kenangan.
Namun, ada juga bahagia, penguatan, sorak ramai, dan euforia yang juga tersirat 
dan hanya mampu dirasakan bagi yang mampu memaknainya.

Rupanya, tulisan-tulisannya itu saya temui secara pasti,
Saat saya harus merepresentasikan sajak ciptaannya dalam sebuah pentas.
Kali itu, ada sajak wajib dan sajak pilihan, 
Dan saya memilih satu sajaknya.
Sajaknya yang sampai saat ini saya sangat ingat sekali maknanya.
Iya, hanya judul, pemilik, dan maknanya saja yang saya ingat,
karena ingatan saya memang tak sebagus itu.

Melalui sajaknya, saya mampu meraih sebuah mimpi lama saya kala itu.
Yang bahkan saya tidak pernah berani bermimpi untuk naik ke atas pentas,
Menjadi wakil institusi pendidikan saya kala itu,
Yang bahkan diudarakan secara langsung di salah satu radio negeri di kota saya tinggal.
Yang kemudian, akhirnya saya menjadi seorang juara.
Iya, juara baca puisi.

Saya ingat sekali, 
Saya bahkan bukan yang terbaik sebelumnya di antara yang terbaik. 
Saya bak sebuah jarum putih, yang tak pernah menjadi alasan bagi orang lain,
bahkan untuk melirik apa yang ada dalam diri saya.
Namun, entah Tuhan sedang ingin menerbangkan saya atau apa,
Kala itu, saya punya keberanian yang entah juga darimana, 
untuk ikut dalam seleksi yang diikuti oleh beberapa nama,
yang sebelumnya menjadi terbaik bagi wakil sekolah saya.
Tak ada harapan tinggi, 
hanya sebuah keinginan saya mencari penyaluran atas ketakutan yang selama ini saya simpan, untuk berani menunjukkan diri.

Dan sekali lagi, 
Tuhan kala itu ingin membuat saya terbuai atau apa,
Saya ditunjuk sebagai salah satu wakil dari institusi sekolah saya.
Kemudian hanya cukup berlatih dalam waktu 2 hari saja untuk mematangkan semuanya.
Saya hanya belajar dari apa yang pernah saya dengar, saya lihat, saya temui. 
Selebihnya, hanya dari intuisi saya saja untuk membawakannya.

Dan siapa sangka, 
Keberanian yang tak ada harap lebih itu, 
menjadi sebuah titik balik bagi masa saya bersekolah dan hidup.
Meski saat ini saya tak bisa menjadi seorang pujangga besar,
Namun kecintaan saya pada puisi, 
adalah sebuah bara yang tak pernah padam dalam diri.
Saya masih sering mengalami bulu kuduk berdiri,
saat mendengar sajak lama.
Saya pun masih sangat suka meluapkan rasa dan imajinasi saya dalam larik.
Meski saya juga yang menjadi penikmatnya.

Tak apa,
Mungkin setelah saya tiada,
Apa yang saya tuangkan mungkin bisa dinikmati setidaknya, 
Bagi orang-orang yang saya tinggalkan,
Yang ingin tahu tentang saya.

Terima kasih atas buah cintamu, Eyang Sapardi Djoko Damono.
Karena buah cintamulah, saya mampu mendengarkan bisik yang tak mampu saya utarakan, meski pada angin sekalipun.
Karena buah tulisanmu, saya mampu jatuh cinta yang mendalam untuk berkali-kali, 
Pada satu-satunya hal yang masih bisa saya lakukan, saat lidah terasa kelu.
Terima kasih, 
dan selamat Jalan, Eyang.
Doa Para Pelaut yang Tabah darimu, 
akan selalu menjadi sajak paling kecintaan bagi diri saya.
Sebabmulah, saya berani mewujudkan mimpi saya, 
Meski sejenak.


Puisi penyisian fl2sn 2017

Jumat, 10 April 2020

Bintang Tlah Pergi

Kemarin,

Terdengar kabar duka dari seorang bintang besar di negeri ini.

Dia adalah sosok yang cukup berperan dalam perkembangan diri saya.

Sosok yang menemani sebagian perjalanan hidup,

lewat karya-karyanya dalam playlist harian saya.



Sosok ini dulunya selalu menemani buncah bahagia saya,

ketika ada seseorang yang menghampiri hidup dan cinta saya.

Sosok ini dulunya selalu menemani hari-hari saya,

untuk dapat sekedar melewati cerita saya yang begitu biasa saja dulu,

Hingga sosok ini dulunya menjadi perwakilan terbaik saya,

untuk mengungkapkan rasa remuk dalam hati saya,

yang tak bisa saya ungkapkan kemanapun,

karena dia telah pergi dari hidup saya.


Dan bahkan sosok ini,

yang menjadi pelatar bagi saya dan pendamping hidup saya,

yang menyaksikan betapa bahagianya saya,

melalui alat pemutar musik yang saya punya,

saat akan memutuskan untuk hidup berdua dengannya.


Untuk kemudian yang terakhir,

sosok ini pun menjadi pengingat bagi saya,

untuk selalu memberikan usaha terbaik,

dalam rangka memelihara cinta yang telah saya pilih,

sebelumnya.



Terima kasih, Bung.

tanpa sadar, kau telah memasuki banyak ruang cerita,

bagi kami, para penikmat setia nada dan lirikmu.

terima kasih telah membantu kami,

untuk meninggalkan jejak,

bagi tiap segmen cerita hidup kami,

yang mungkin biasa saja,

namun menjadi luar biasa,

karena selalu ada karyamu,

yang menemani kami.



Bahagialah, kau di sana, Bung.





Nb: 
Ini adalah satu-satunya lagu terpatah hati bagi saya saat itu. Mendengarkannya saja, sudah mampu membuat saya teringat kenangan-kenangan yang membuat sedih. Never ending sad song :')

Sabtu, 01 September 2018

But Still

Pagi itu, 

Seperti biasa. 

Kembali menyeleksi calon kandidat, 

Memberikan rentetan pertanyaan,

Mengulik,

Dan memberikan penilaian atas perbincangan dengan kandidat. 


Namun, pagi itu ada yg berbeda.

Kali itu dimulai dengan berbincang dengan seorang kandidat pertama di hari itu. Seorang lelaki muda, dengan usia pertengahan 20an. 
Mulanya bisa ku lihat, dari bahasa tubuhnya yang terkesan sedikit gemulai, caranya bertutur kata yang sangat manis seperti seorang perempuan, serta dandanan yang rapi namun ada kesan feminim dalam berdandan. 

Penafsiran pertama, saya rasa dia ada kecenderungan seksual yang berbeda. 
Namun pertanyaan saya masih mencoba netral, masih mengarah pada ketentuan dalam pekerjaannya nanti.

Hingga tiba untuk muncul pertanyaan mengenai rencana pernikahannya yang sudah ada atau belum dalam jangka waktu tertentu ke depan, sehubungan dengan kaitan pekerjaannya nanti dengan perusahaan. 

Secara gamblang pun dia menjawab bahwa dia belum ada rencana menikah karena baru saja berpisah dengan kekasih hatinya. 
Spontan melihat kesempatan itu, saya mencoba mencari celah untuk bercanda dengan melemparkan sebuah pertanyaan yang terang-terangan. 

“Pacarmu cowok apa cewek?”

Kemudian sembari masih menuliskan penilaian di form penilaian, dia pun menjawab dengan sangat lugas. 

“Cowok.”

“Hah? Serius pacar kamu cowok?”

“Iya bu. “

Sontak mendengar jawabannya, aku pun menghentikan aktivitas menulisku. Menarik! Sangat menarik!

Aku pun tak ingin segera kehilangan kesempatan, langsung mengkonfirmasi apa adanya mengenai jawabannya dan kondisi hidupnya. 

Tak ku sangka, ada seorang yang memiliki permasalahan orientasi seksual, dan dia mengakuinya dengan orang baru yang belum ada 5 menit baru saja dia temui. 

Singkat cerita, tanpa banyak aku memberikan pertanyaan, dia bercerita sendiri mengenai keadaannya, 

Berdasarkan cerita darinya, dia menjadi seorang gay, karena memiliki latar belakang yang menyedihkan rupanya. Saat usianya masih kecil, orangtuanya menitipkan dia pada seseorang (ini yg belum terkonfirmasi ada hubungan kerabat apa dia dengan pelaku). Ketika dirawat oleh pelaku itulah dia mengalami kekerasan seksual saat usianya masih kecil. Entah berapa kali dan detilnya seperti apa juga aku belum sempat mendengar kisah lengkapnya. Namun dia tahu, hal itulah yang membuat orientasi seksualnya berbeda saat ini. 

Dia mengakui, bahwa awalnya ketika pelaku tersebut melakukan pelecehan itu, dia sangat menderita. Namun, seiring berjalannya waktu, justru dia menemukan kenyamanan dengan perlakuan si pelaku tersebut! Dia menyukai perlakuan itu! 

Dear God, 
Ini bener-bener gila! Seperti itu batinku berteriak.
Coba bayangin, dari menderita, hingga dia merasa nyaman! Semacam guilty pleasure!
Hingga akhirnya ketika dewasa saat ini,dia memutuskan untuk merantau ke luar kota. Mungkin ingin menemukan hidup barunya di kota ini.

Dia juga bercerita, bahwa dia pernah mencoba untuk menjalin hubungan romantis dengan perempuan, namun dia tak menemukan kenyamanan seperti dia menjalin hubungan itu dengan lelaki. Dia belum berhasil dari situasi itu!

Oh God...


Mendengar kisah singkat itu, aku tak bisa banyak berkata, hanya diam dan kaget. 

Ini kasus pertama yang ku dengar langsung pengakuannya dari yang mengalaminya sendiri. 

Langsung spontan aku apresiasi keberaniannya untuk mengakui itu. Ku tanya padanya, kenapa dia begitu berani mengakui permasalahannya tersebut.

Dia pun menjelaskan bahwa dia mencoba untuk menjadi dirinya sendiri dan tak menutupinya dari orang lain, sehingga orang lain nyaman untuk berinteraksi dengannya. That’s sounds good. But, still ...


Tak lupa aku pun memberikan rekomendasi baginya untuk mencoba mencari bantuan orang lain yang ahli jika dia ingin mengembalikan orientasinya sesuai dengan norma yang ada.

Dia pun tahu dan sangat tahu bahwa apa yang dialaminya memang tidak benar. 

Aku sempat bertanya padanya bahwa sulit juga baginya jika dia ingin melangsungkan pernikahan sesama jenis di Indonesia, dia harus ke luar negeri untuk melegalkan pernikahan itu.

Namun, dia mengatakan bahwa jika untuk rencana pernikahan, dia ingin sekali melakukannya dengan perempuan, bukan dengan laki-laki. Great! 
Keinginan itulah yang membuatnya bersikap jujur jika ada orang yang bertanya mengenai kehidupan romannya. Dia mengatakan bahwa dia ingin perempuan yang dinikahinya tahu seluk beluknya, apa yang dialaminya, dan apa yang dia inginkan ke depannya tanpa menjadi orang lain. Nice goal!

But still.. thats not so easy dude... 
Ada luka yang harus disembuhkan terlebih dahulu dari masa lalumu,
Ada kebiasaan yang harus diubah juga dari yang biasanya,
Dan ada keberanian juga yang harus diperjuangkan masa depannya.. 
but still,...






Nb;

Beberapa hari kemudian ada sebuah fenomena yang terjadi pada atlit pebulu tangkis, si Jojo, yang bener-bener viral di media sosial, mengenai komentar-komentar para fansnya yang secara tidak langsung melakukan sexual harrasment di instagramnya. Hmm.. rupanya makin kesini, korban seperti ini memang juga banyak dialami oleh lelaki, meski dengan hal sepele pun.. 

Senin, 20 Agustus 2018

Wanita: Karir dan Keluarga (1)

 Kerap kali sebagai kaum perempuan, menjadi perdebatan antara peran-perannya dalam keseharian.

Di satu sisi, mereka ingin berkarya, menghasilkan, dan mungkin hanya sekedar memuaskan rasa sepi dan jengah saat di rumah dengan bermacam rutinitas yang dilaluinya.

Namun, di sisi lain, tak jarang yang bahkan memilih membiarkan jiwanya yang haus akan pengakuan di luar, kemudian mengerjakan apa yang mestinya bagi sebagian orang menganggap hal tersebut kodrati untuk tetap di rumah, merawat, menjaga, dan mengurus keluarga dan rumah.

Beberapa waktu lalu, sebelum saya bisa menjalani peran sebagai seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan, yang bahkan tak menjadi tujuan utama saya sebelumnya untuk bekerja di bidang perusahaan, saya sempat merasakan hari-hari saya menjadi seorang istri yang bekerja di rumah.

Iya, saya sempat merasakan hal tersebut.

Pada awalnya, bagi saya menyenangkan sekali untuk dapat mengurus suami, keperluannya, dan beberapa keperluan rumah tangga kami. Senang sekali rasanya bisa mengantarkan suami sampai di depan pintu ketika dia akan berangkat bekerja, dan menyambutnya saat pulang dari kantor.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa gersang.

Bukan,

Bukan saya merasa tak bersyukur,

Namun,

Ada satu rasa dimana saya kosong. Hidup yang saya jalani belum begitu kompleks karena belum juga hadir seorang buah hati di keluarga kecil saya. Hanya ada suami, dan saya saja.

Iya, saya bahagia bisa menghandle keperluan suami tanpa bantuan ART.

Iya, saya bagahia bisa menyambutnya pulang, membukakan pintu dan menyiapkan hidangan serta keperluannya di rumah.

Namun,

Rasa bahagia saya rupanya masih ada yang belum lengkap.

Setelah suami berangkat bekerja, yang saya lakukan hanya membersihkan rumah dan memasak. Sederhana. Hal itu bisa dikerjakan hanya sampai siang hari, dan setelah itu, saya tidak berkegiatan apa-apa.

Saya tidak punya kawan, tak punya organisasi, tak ada hal yang menjadi rutinitas tambahan bagi saya mengisi kekosongan waktu.

Yang saya lakukan, hanya menulis.

Menulis, berimaji, dan sisanya hanya istirahat tidur.

Selain itu, tak ada.

Saya tak mengenal dunia luar.

Saya bahkan tak jua menghafal jalanan dari rumah menuju beberapa tempat yang sebenarnya cukup mudah untuk dihafal.

Iya, saya bukan penghafal yang baik memang.

Beberapa pikiran negatif kemudian menghinggapi diri saya,

Merasa tak berguna sebagai seorang lulusan S2, merasa tak ada hal bermanfaat lain yang bisa saya berikan, bahkan untuk saya hasilkan. Hingga saya berpikir, membantu suami secara materi pun saya tak bisa (saat itu keadaan ekonomi kami memang sangat harus disederhanakan).

Menuju tahun kedua dari pernikahan, saya melamar-lamar lagi,

Kali itu memang, bukan di bidang yang saya ingini sejak awal,

Saya pun akhirnya banting setir untuk mencoba peruntungan di bidang yang sedikit berseberangan dengan minat saya.

Dan ternyata, Tuhan menjawabnya!

Sangat mudah jalan yang Tuhan berikan untuk saya bisa diterima di pekerjaan ini.

Saya pun mencoba menjalaninya, dan berpikir, mungkin ini saatnya saya belajar mencintai apa yang tidak saya sukai.

Kemudian, saya juga belajar untuk menyesuaikan diri, dengan lingkungan kerja, dengan jadwal suami, saya mulai banyak belajar mengenai hal-hal yang saya rasa selama ini saya buta.

Banyak hal dan pengalaman serta wawasan yang tak saya peroleh ketika saya bekerja di rumah, terutama mengenai dunia kerja.

Dunia kerja yang selama ini saya rasa indah, ternyata tak seindah itu.



*Note: kemungkinan ini akan menjadi catatan harian saya kembali setelah diblokirnya situs tumblr yang selama ini menjadi sarana saya berbagi dengan dunia mengenai hidup. Yah, baiklah, mari kita mulai kembali. Menulis.



Selasa, 25 Juli 2017

CN BLUE BETWEEN US JAKARTA 2017. Finally got there!!

Kyaaa....

Itu teriakan yang pertama keluar dari mulut saya.

Betapa tidak, saya salah seorang fans dari band korea CN Blue yang sering disebut Boice, baru kali ini partisipasi di konser mereka. Konser Between Us ini diambil dari album baru mereka di tahun ini juga. Konser ini pun digelar pada tanggal 15 Juli 2017 di International Convention Exhibitionist (ICE) di BSD City Tangerang.

Unbelievable!

Saya emang paling anti sama antrian, terutama setelah baca review di konser WT BTS kemaren yang sempet geger gara-gara pihak promotornya si IME yang bener-bener kacau waktu proses konsernya, jadi bikin saya mikir berjam-jam untuk ambil konser Between us ini apa tidak. Takut bakalan pingsan sebelum nonton konsernya gara-gara ticketingnya yang kacau balau.

Sempet nanya sana-sini, demi memberikan pandangan dan kemantaban hati saya. Karena ini bakalan jadi konser pertama yang akan saya ikuti dengan harga yang gak murah juga :'). Dan akhirnyaa.... saya pun memutuskan untuk beli tiketnya dengan segala kemungkinan resikonya pas pelaksanaan konser, termasuk pembatalan konser (mengingat dulu waktu CN Blue pas pertama kali mau konser di Indonesia juga batal :')).

Mulai nyari kenalan sana-sini, bahkan masuk di grup whatsapp yang isinya nyari temen buat dateng ke konser, berangkat seusai subuh, sampai antrian 2 jam demi dapet tiket, saya jabanin juga dah. Padahal kalau diinget-inget lagi, di usia segini, mungkin saya termasuk telat buat girang-girangnya dengan konser musik. Yaa..maklumlah, dulunya kan waktu saya remaja, saya tinggal di daerah yang jarang dijamah konser-konser musisi. Mentok-mentok, pertama kalinya saya nonton konser ya konsernya Kahitna-Yovie Nuno. Itupun gratis dan beruntungnya, saya dapat barisan paling depan :))). Saya juga nonton konser ini karena saya sudah alpha di konser mereka sebelumnya, sekitar 4 tahun lalu karena saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin al kitab saya (re: skripsi). Saya saat itu bertekad, apapun yang terjadi, kalau mereka konser ke Indonesia lagi, saya akan berusaha gimana pun caranya supaya bisa nonton. Alhamdulillah nya... konser kali ini saya sudah berpindah domisili di Tangerang, sehingga tidak jauh-jauh untuk saya pergi ke tempat konsernya, sekitar sejam 15 menit dari rumah (Memperminimkan biaya akomodasi deh :p). 

Pengalaman yang saya rasakan, ternyata di konser ini, bener-bener kerasa euforianya. Animo penontonnya, histerisnya para Boice pas CN Bluenya show. Bener-bener unforgetable untuk saya. Saya yang tadinya nungguin mbambung menjelang jam mulainya konser, pas konser gak kerasa pegelnya teriak-teriak, semacam dapet energizer dari mereka. Haha..alai sih, but precious thing!

Pas konser berakhir pun, saya merasa gak rela. Beberapa lagu yang saya pikir bakalan dibawakan, ternyata enggak, termasuk satu-satunya lagu yang masih mau didengerin sama suami saya, Loner. Tapi, bener-bener what a night dah sama konser mereka! Si Jung Yonghwa (Vokalis) yang gak bisa diem selama konser, lari-larian kesana kesini, atraksi jatuh juga, belum lagi suaranya yang membahana, si Lee Jonghyun yang tumbenan jadi pemalu (beda juga ama di Instagramnya) dan suaranya yang halus bener kayak cewek, si Lee Jungshin yang ayu mencoba melawak dengan sapaan-sapaan ke penonton dan dengan betotan basnya yang super kece, dan si maknae Kang Minhyuk yang gak seberapa banyak ngomong gara-gara posisinya di belakang tapi tetep keren dengan energinya gebukin drum :))). Ah.. masih belum bisa move on sampai sekarang.

Sempet ngoreksi beberapa situasi di saat konser ini yang masih dirasa kurang baik. Seperti waktu ticketing, dimana penukaran tiket fisik yang cuma diadakan pas hari H, dimana di pemberitahuan sebelumnya, akan diadakan penukaran tiket fisik di H-1, sehingga yang udah rencana jauh-jauh hari, bahkan bolos kerja di hari Jumat dan booking hotel 2 hari supaya bisa nuker tiket lebih awal pun, harus rela gitu aja, karena ternyata hari Jumat tidak ada kegiatan apa-apa. Pengumumannya pun dilakukan di waktu yang mepet dengan pelaksanaan konser. Masih persoalan penukaran tiket, pelaksanaan teknis mereka juga masih kurang memadai, sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa keluar dari barisan antrian. Hal yang menjengkelkan lagi, pembukaan booth penukaran tiket pun tidak on time, telat sejam lebih. Padahal, ada yang sudah antri dari jam 4 pagi coba ya :))). Pas saya datang pun, saya sudah jadi antrian yang berada di tengah karena sudah banyak yang antri. Fiuuuhh... Ada 1 hal lagi yang bikin saya kesel juga, ternyata yang beli tiket di saat sejam menuju konser, dapet harga sepertiganya dari tiket yang saya beli, itupun dapet VIP tepat di depan CN Blue :((( (Oke, kali ini saya kurang beruntung).

And the last comment... plis, masa mudamu jangan cuma ngadep buku aja deh. Seriously, rugi banget gak merasakan pengalaman bertemu dengan musisi idola di usiamu yang masih kuat buat berdiri berjam-jam, berkeringetan dan gak peduli dengan baju basah dan bau badan, masih penuh energi untuk menerjang rimbunan penonton (kalau tiketnya beli yang VIP), yang jelas dengan stamina yang masih keren untuk bisa memperjuangan diri menyaksikan konser musisi favorit kamu. Karena kalau di usia yang sudah begini, selain uda malu sama umur, badan uda gak kuat diajakin euforia deh :))). Kalaupun di usia muda masih berat karena alasan duit, kan bisa diakali dengan nabung. Yakin pasti masih bisa deh :D.

Meskipun dengan beberapa kondisi yang melelahkan waktu berjuang untuk nonton konser ini, tapi saya jadi ketagihan guys! Masih belum percaya juga saya jadi salah satu orang yang berada di barisan pengantri konser para kpopers :))). Pulang-pulang langsung teler gara-gara badan pegel semua bawa tas dan berdiri berjam-jam. Well, Berharap bisa nonton lagi konser mereka, meskipun masih lama karena mereka pada mau berangkat wamil sih. Sukses ya CN Blue! Semoga makin terdepan dengan karya-karya kalian :).





















Minggu, 10 Januari 2016

Bukan Tentang Pergi ke Dokter

Siapa di sini yang memiliki ketakutan untuk pergi ke dokter?
Bukan, bukan dokternya yang menakutkan.
Dokter, di mataku tergolong pekerjaan mulia.
Dia adalah salah satu uluran tangan Tuhan,
Yang mengabdikan hidup untuk membantu sesama.
Ladang pahalanya besar.

Ini bukan tentang dokter.
Melainkan, tentang sebuah ketakutan,
Dari apa yang akan dikatakan oleh dokter,
Mengenai sebuah diagnosa penyakit pasiennya.
Karena mungkin tak banyak orang yang tau,
Akan jadi seperti apa hidup seseorang pasien, pasca dia mendengar diagnosa dokter tersebut.
Ini, tentang keputusan masa depan seseorang.
Ini, tentang kebermaknaan hidup seseorang.

Bertahun saya belajar ilmu psikologi.
Bertahun saya menghadapi manusia dengan kemungkinan-kemungkinan responnya terhadap situasi.
Tak ada yang sama.
Ada yang positif, ada yang negatif.
Tapi, bagaimana jika situasi itu menyangkut masa depannya?
Bagaimana jika situasi itu menyangkut akan seperti apa dia menjalani hari-hari berikutnya?
Bukan sekedar sakitnya, tapi makna hidupnya,
Yang mungkin akan ada perbedaan.

Dokter bukan Tuhan, tapi,
Tuhan adalah dokter terbaik.
Jadi, apapun yang akan dikatakan oleh dokter, harusnya aku lebih percaya pada Tuhan.
Dia yang akan memberikan hal-hal terbaik bagi manusia,
Meski apapun yang akan terjadi esok.