Kerap kali sebagai kaum perempuan, menjadi perdebatan antara peran-perannya dalam keseharian.
Di satu sisi, mereka ingin berkarya, menghasilkan, dan mungkin hanya sekedar memuaskan rasa sepi dan jengah saat di rumah dengan bermacam rutinitas yang dilaluinya.
Namun, di sisi lain, tak jarang yang bahkan memilih membiarkan jiwanya yang haus akan pengakuan di luar, kemudian mengerjakan apa yang mestinya bagi sebagian orang menganggap hal tersebut kodrati untuk tetap di rumah, merawat, menjaga, dan mengurus keluarga dan rumah.
Beberapa waktu lalu, sebelum saya bisa menjalani peran sebagai seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan, yang bahkan tak menjadi tujuan utama saya sebelumnya untuk bekerja di bidang perusahaan, saya sempat merasakan hari-hari saya menjadi seorang istri yang bekerja di rumah.
Iya, saya sempat merasakan hal tersebut.
Pada awalnya, bagi saya menyenangkan sekali untuk dapat mengurus suami, keperluannya, dan beberapa keperluan rumah tangga kami. Senang sekali rasanya bisa mengantarkan suami sampai di depan pintu ketika dia akan berangkat bekerja, dan menyambutnya saat pulang dari kantor.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa gersang.
Bukan,
Bukan saya merasa tak bersyukur,
Namun,
Ada satu rasa dimana saya kosong. Hidup yang saya jalani belum begitu kompleks karena belum juga hadir seorang buah hati di keluarga kecil saya. Hanya ada suami, dan saya saja.
Iya, saya bahagia bisa menghandle keperluan suami tanpa bantuan ART.
Iya, saya bagahia bisa menyambutnya pulang, membukakan pintu dan menyiapkan hidangan serta keperluannya di rumah.
Namun,
Rasa bahagia saya rupanya masih ada yang belum lengkap.
Setelah suami berangkat bekerja, yang saya lakukan hanya membersihkan rumah dan memasak. Sederhana. Hal itu bisa dikerjakan hanya sampai siang hari, dan setelah itu, saya tidak berkegiatan apa-apa.
Saya tidak punya kawan, tak punya organisasi, tak ada hal yang menjadi rutinitas tambahan bagi saya mengisi kekosongan waktu.
Yang saya lakukan, hanya menulis.
Menulis, berimaji, dan sisanya hanya istirahat tidur.
Selain itu, tak ada.
Saya tak mengenal dunia luar.
Saya bahkan tak jua menghafal jalanan dari rumah menuju beberapa tempat yang sebenarnya cukup mudah untuk dihafal.
Iya, saya bukan penghafal yang baik memang.
Beberapa pikiran negatif kemudian menghinggapi diri saya,
Merasa tak berguna sebagai seorang lulusan S2, merasa tak ada hal bermanfaat lain yang bisa saya berikan, bahkan untuk saya hasilkan. Hingga saya berpikir, membantu suami secara materi pun saya tak bisa (saat itu keadaan ekonomi kami memang sangat harus disederhanakan).
Menuju tahun kedua dari pernikahan, saya melamar-lamar lagi,
Kali itu memang, bukan di bidang yang saya ingini sejak awal,
Saya pun akhirnya banting setir untuk mencoba peruntungan di bidang yang sedikit berseberangan dengan minat saya.
Dan ternyata, Tuhan menjawabnya!
Sangat mudah jalan yang Tuhan berikan untuk saya bisa diterima di pekerjaan ini.
Saya pun mencoba menjalaninya, dan berpikir, mungkin ini saatnya saya belajar mencintai apa yang tidak saya sukai.
Kemudian, saya juga belajar untuk menyesuaikan diri, dengan lingkungan kerja, dengan jadwal suami, saya mulai banyak belajar mengenai hal-hal yang saya rasa selama ini saya buta.
Banyak hal dan pengalaman serta wawasan yang tak saya peroleh ketika saya bekerja di rumah, terutama mengenai dunia kerja.
Dunia kerja yang selama ini saya rasa indah, ternyata tak seindah itu.
*Note: kemungkinan ini akan menjadi catatan harian saya kembali setelah diblokirnya situs tumblr yang selama ini menjadi sarana saya berbagi dengan dunia mengenai hidup. Yah, baiklah, mari kita mulai kembali. Menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar