Laman

Sabtu, 01 September 2018

But Still

Pagi itu, 

Seperti biasa. 

Kembali menyeleksi calon kandidat, 

Memberikan rentetan pertanyaan,

Mengulik,

Dan memberikan penilaian atas perbincangan dengan kandidat. 


Namun, pagi itu ada yg berbeda.

Kali itu dimulai dengan berbincang dengan seorang kandidat pertama di hari itu. Seorang lelaki muda, dengan usia pertengahan 20an. 
Mulanya bisa ku lihat, dari bahasa tubuhnya yang terkesan sedikit gemulai, caranya bertutur kata yang sangat manis seperti seorang perempuan, serta dandanan yang rapi namun ada kesan feminim dalam berdandan. 

Penafsiran pertama, saya rasa dia ada kecenderungan seksual yang berbeda. 
Namun pertanyaan saya masih mencoba netral, masih mengarah pada ketentuan dalam pekerjaannya nanti.

Hingga tiba untuk muncul pertanyaan mengenai rencana pernikahannya yang sudah ada atau belum dalam jangka waktu tertentu ke depan, sehubungan dengan kaitan pekerjaannya nanti dengan perusahaan. 

Secara gamblang pun dia menjawab bahwa dia belum ada rencana menikah karena baru saja berpisah dengan kekasih hatinya. 
Spontan melihat kesempatan itu, saya mencoba mencari celah untuk bercanda dengan melemparkan sebuah pertanyaan yang terang-terangan. 

“Pacarmu cowok apa cewek?”

Kemudian sembari masih menuliskan penilaian di form penilaian, dia pun menjawab dengan sangat lugas. 

“Cowok.”

“Hah? Serius pacar kamu cowok?”

“Iya bu. “

Sontak mendengar jawabannya, aku pun menghentikan aktivitas menulisku. Menarik! Sangat menarik!

Aku pun tak ingin segera kehilangan kesempatan, langsung mengkonfirmasi apa adanya mengenai jawabannya dan kondisi hidupnya. 

Tak ku sangka, ada seorang yang memiliki permasalahan orientasi seksual, dan dia mengakuinya dengan orang baru yang belum ada 5 menit baru saja dia temui. 

Singkat cerita, tanpa banyak aku memberikan pertanyaan, dia bercerita sendiri mengenai keadaannya, 

Berdasarkan cerita darinya, dia menjadi seorang gay, karena memiliki latar belakang yang menyedihkan rupanya. Saat usianya masih kecil, orangtuanya menitipkan dia pada seseorang (ini yg belum terkonfirmasi ada hubungan kerabat apa dia dengan pelaku). Ketika dirawat oleh pelaku itulah dia mengalami kekerasan seksual saat usianya masih kecil. Entah berapa kali dan detilnya seperti apa juga aku belum sempat mendengar kisah lengkapnya. Namun dia tahu, hal itulah yang membuat orientasi seksualnya berbeda saat ini. 

Dia mengakui, bahwa awalnya ketika pelaku tersebut melakukan pelecehan itu, dia sangat menderita. Namun, seiring berjalannya waktu, justru dia menemukan kenyamanan dengan perlakuan si pelaku tersebut! Dia menyukai perlakuan itu! 

Dear God, 
Ini bener-bener gila! Seperti itu batinku berteriak.
Coba bayangin, dari menderita, hingga dia merasa nyaman! Semacam guilty pleasure!
Hingga akhirnya ketika dewasa saat ini,dia memutuskan untuk merantau ke luar kota. Mungkin ingin menemukan hidup barunya di kota ini.

Dia juga bercerita, bahwa dia pernah mencoba untuk menjalin hubungan romantis dengan perempuan, namun dia tak menemukan kenyamanan seperti dia menjalin hubungan itu dengan lelaki. Dia belum berhasil dari situasi itu!

Oh God...


Mendengar kisah singkat itu, aku tak bisa banyak berkata, hanya diam dan kaget. 

Ini kasus pertama yang ku dengar langsung pengakuannya dari yang mengalaminya sendiri. 

Langsung spontan aku apresiasi keberaniannya untuk mengakui itu. Ku tanya padanya, kenapa dia begitu berani mengakui permasalahannya tersebut.

Dia pun menjelaskan bahwa dia mencoba untuk menjadi dirinya sendiri dan tak menutupinya dari orang lain, sehingga orang lain nyaman untuk berinteraksi dengannya. That’s sounds good. But, still ...


Tak lupa aku pun memberikan rekomendasi baginya untuk mencoba mencari bantuan orang lain yang ahli jika dia ingin mengembalikan orientasinya sesuai dengan norma yang ada.

Dia pun tahu dan sangat tahu bahwa apa yang dialaminya memang tidak benar. 

Aku sempat bertanya padanya bahwa sulit juga baginya jika dia ingin melangsungkan pernikahan sesama jenis di Indonesia, dia harus ke luar negeri untuk melegalkan pernikahan itu.

Namun, dia mengatakan bahwa jika untuk rencana pernikahan, dia ingin sekali melakukannya dengan perempuan, bukan dengan laki-laki. Great! 
Keinginan itulah yang membuatnya bersikap jujur jika ada orang yang bertanya mengenai kehidupan romannya. Dia mengatakan bahwa dia ingin perempuan yang dinikahinya tahu seluk beluknya, apa yang dialaminya, dan apa yang dia inginkan ke depannya tanpa menjadi orang lain. Nice goal!

But still.. thats not so easy dude... 
Ada luka yang harus disembuhkan terlebih dahulu dari masa lalumu,
Ada kebiasaan yang harus diubah juga dari yang biasanya,
Dan ada keberanian juga yang harus diperjuangkan masa depannya.. 
but still,...






Nb;

Beberapa hari kemudian ada sebuah fenomena yang terjadi pada atlit pebulu tangkis, si Jojo, yang bener-bener viral di media sosial, mengenai komentar-komentar para fansnya yang secara tidak langsung melakukan sexual harrasment di instagramnya. Hmm.. rupanya makin kesini, korban seperti ini memang juga banyak dialami oleh lelaki, meski dengan hal sepele pun.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar