Laman

Jumat, 18 Desember 2015

Catatan Diskusi Bedah Buku “Tubanku, Tubanmu, Tuban Kita”



Tanggal 15 Desember 2015,

Hari Selasa,

Perpustakaan Umum Tuban



Ketiga setting tersebut adalah kali pertama saya berdiri di depan banyak masyarakat di luar dari kompetensi yang sebenarnya kurang sesuai dengan background pendidikan saya. Hari itu, secara tanpa terencana, ada seorang teman menawarkan saya untuk menjadi seorang pembawa materi di acara mereka untuk membahas tentang tulisan artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu yang bertemakan Minat Baca Masyarakat Tuban.


Singkat saja,

Saya tak banyak membahas dalam tulisan tersebut, karena ini pertama kalinya saya menulis sebuah artikel untuk dipublikasi secara cetak. Pada akhirnya, karena aku terbiasa menulis fiksi, maka saya sedikit mengalami kesulitan untuk menyusun artikel yang baik itu seperti apa. Tapi, saya anggap ini sebuah tantangan, karena itu pula saya tidak memilih untuk menulis cerpen. saya beranikan diri untuk keluar dari “zona amanku” yang terbiasa dengan berbagai khayalan yang tak nyata, untuk kemudian menulis sebuah tulisan yang lebih ilmiah. Sejak kecil, saya selalu mencoba menghindari tulisan ilmiah, karena menurut saya, tanggung jawabnya lebih besar. Saya harus banyak melahap materi yang sifatnya riil daripada menuliskan apa yang menjadi rekaan bayangan saya saja.



Yap, akhirnya terkirim sudah tulisan tersebut, dengan segala kurang lebihnya (sadar sih, banyak kurangnya ketimbang lebihnya, hehehe).
Kemudian, tanpa direncanakan, akhirnya tawaran tersebut tiba. Sempat bimbang, untuk menerima atau menolak, karena saya sempat minder dengan kapasitas diri saya untuk memberikan materi yang bukan menjadi keahlian saya. Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya saya menerima, dengan alasan, lagi-lagi ini opportunity dan challenge untuk diriku. Saya tak pernah tahu, apa yang akan terjadi setelah kemunculan saya di permukaan (berasa ikan aja nih!). Alhasil, dengan segenap kemantaban, saya menyanggupinya.


Pada saatnya tiba, saya mencoba menyiapkan materi sebaik mungkin (menurut saya, karena ini pertama kali saya menyiapkan materi di luar bidang yang saya pelajari di bangku pendidikan). Dan... tibalah hari itu. Sempat gentar saat menjelang diskusi. Tapi, anehnya, setelah diskusi berjalan, saya merasa full me got there!. Entah kemana hilangnya rasa canggung yang sebelumnya menguasai diri. Sensasinya seperti lepas. Malah kebablasan! Hehe. Sampai-sampai salah seorang panitia mengingatkan bahwa over time (ngetzzzz! Hehe... maafkan kekhilafan saya ya panitia :P).


Pengalaman pertama, ternyata tak semenakutkan itu, justru banyak sekali pelajaran yang saya dapat di hari itu. Banyak gagasan, ide, yang justru belum terpikirkan di kepala, tiba-tiba keluar begitu saja dari peserta lainnya. Banyak masukan brilliant. Dalam hati bahkan kagum. Ternyata orang-orang Tuban sebenarnya secara intelektual penuh dengan kreativitas. Hanya saja, mungkin berbagai faktor yang menjadi penghalang bagi terealisasinya ide mereka itu.


Ada satu slentingan buat saya yang jadi pelajaran untuk saya, yaitu mengenai pembanding yang saya gunakan untuk menyajikan sebuah fakta, yaitu Surabaya dan Tuban. Tanpa saya sadari, saya sudah tersurabayai selama ini. Surabaya banyak mengubah diri dan pola pikir saya. Yaa, ini saya akui karena saya sudah 7 tahun belajar di Surabaya, sehingga yaa.. Surabaya banyak mempengaruhi saya. Namun, sebenarnya bukan Surabayanya yang saya tekankan. Melainkan, semangat dan motivasi perubahan untuk menjadi kota yang lebih siap untuk menyambut MEA itu yang saya ingin tonjolkan. Karena pastinya untuk menjadi lebih baik, pembandingnya juga harus lebih baik. Kalau kita terlalu melihat yang memang setara atau di bawah, yaa jadinya kita akan merasa aman-aman saja dengan situasi seperti ini, tanpa ada motivasi untuk pencapaian yang lebih baik. 


Saya rasa, Tuban punya banyak potensi, baik secara Sumber Daya Manusia, maupun Sumber Daya Alamnya. Dan bahkan, jika sebenarnya dibandingkan lagi, Tuban memiliki potensi yang lebih unggul dari Surabaya sebenarnya. Hanya saja... lagi-lagi berbagai faktor yang menjadi kendala yang juga membuat Tuban dianggap sebelah mata oleh masyarakat lain. Saya yakin, bila masyarakat Tuban punya daya saing dan daya juang yang lebih tinggi dari sekarang, Tuban bisa menjadi kota yang lebih maju dari saat ini.


Sekali lagi, saya lahir di Tuban, saya mencintai Tuban, dan saya ingin Tuban menjadi kota yang lebih baik dari sekarang. Karena Tuban bukan Surabaya, bukan Malang, dan bukan Yogyakarta. Tuban adalah Tuban dengan segala potensi yang dimiliki.



Salam hangat,




Tuban, 18 Desember 2015.









Beginilah kira-kira saat saya mencoba keluar dari zona aman saya :D











Bergantian pemateri, supaya lebih asyik diskusinya :)











Dan inilah orang-orang yang menginspirasi saya minggu ini :)