Laman

Jumat, 13 November 2015

When the mask scattered in everywhere

Hai dear,



Pernah pakai topeng?

Atau sering bermain-main dengan menggunakan topeng?


Mungkin tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita menggunakannya, tapi kita menganggap itu hal biasa.

Gak ada yang salah dengan memakai topeng, hanya saja, setiap kita menjadikan hal tersebut 'lumrah'.







Ada beberapa pemandangan unik pagi ini.

Pagi ini 2 orang staf kampus menyapa dengan riang, sangat riang, bahkan memberikan kata-kata semangat pada setiap orang yang lewat di depannya dan menyapanya.

Mungkin, bagi orang yang berpikir positif, hal tersebut justru merupakan hal baik.

Sapaan dan ucapan semangat, yang berarti menyebarkan energi  positif untuk memulai hari, memulai pagi dengan sebuah senyuman lebar.

Kemudian masuk ke sebuah ruangan di kampus, ada seorang teman yang juga menyapa. Kemudian bertukar kabar, bercanda semenit dua menit.

Lagi, di ruangan tersebut, sambil mengamati, beberapa orang berbagi sapa, bercanda satu sama lain, bercerita, melempar tawa.


Lagi, dan lagi, pandangan sebagai orang awam, tanpa berjubah dengan profesi.

Lucu sebenarnya melihat pemandangan-pemandangan tersebut.

Sebagai penikmat, ada tanya yang menggelitik geli,

Apakah benar gambaran wajah mereka yang ku lihat benar adanya dengan suasana hati mereka?


Kalau tidak, apakah dorongan yang membuat mereka begitu?

Hanya karena untuk menghindari konflik?

Hanya karena untuk make sure pada orang lain bahwa hidup sedang baik-baik saja?

Atau hanya untuk membuat image bahwa kita adalah orang yang riang, tanpa ada sisi sendu?


Entah apapun alasan itu,

Yang jelas, apapun topeng yang dikenakan, harusnya tak jauh-jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, sepertinya sudah biasa semua orang mengenakan topeng satu sama lain,

Topeng sabar?

Topeng emotionless?

Topeng penuh senyum?

Topeng baik-baik saja?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar