Tak pernah sekalipun aku punya bayangan untuk mengenalnya.
Ya, Emil. Sebuah nama pendek yang selama 3 tahun ini menghiasi relung hatiku.
Sayang, aku tak pernah tahu apakah hal itu terjadi sebaliknya atau tidak.
“Nir, aku punya sesuatu untukmu.”ucap Emil.
“Apa, Mil?”
“Ini, undangan pernikahanku dengan Ratna.” Jawab Emil.
Deg! Undangan pernikahan? Secepat ini? Bahkan…
“E.. memangnya, kapan kalian akan menikah?” tanyaku.
“Minggu depan.” sahutnya pelan.
Aku tahu, perasaan senang tak dapat dia sembunyikan dari
semburat wajahnya.
Hal yang berlainan dengan hatiku. Tak sedikitpun dia tahu,
betapa hati ini serasa tak berbentuk. Sakit. Sakit sekali. Perasaan yang selama
ini tersembunyikan rapi dan selalu ku sangkal, sudah tak dapat ku simpan lagi.
Sejak detik ini. Sejak undangan biru ini melayang di tanganku.
“Kau akan datang, kan, Nir?”tanya Emil sembari menatap
mataku.
Datang? Ke pernikahannya? Bukan hal yang mudah! Hal yang
hanya akan membuat hatiku semakin kacau. Bahkan sebelum ia tahu apa yang
sebenarnya terjadi.
Ah, sayapku mulai retak sedikit demi sedikit, dan... patah!
“Eh… “aku hanya menjawab sembari mengembangkan senyum dusta.
Ya, bagiku senyum dusta. Tak seorangpun yang tahu makna senyumku. Tak terkecuali
lelaki bertubuh tegap dan bermata teduh di depanku ini.
Entah apa yang harus aku lakukan. Mimpiku lenyap. Bahkan
sebelum aku mengembangkan sayapnya sedikitpun. Masih hanya tertahan di dahan.
Melengkapi perasaan yang akan usang sampai nanti, tanpa ada yang mengusiknya.
Sampai kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar