Hujan
masih mengalun sunyi di luar. Deras sekali. Tak ada yang bergerak
di luar. Mungkin mereka enggan berkejar-kejaran dengan air hujan, atau mungkin bahkan
ada yang alergi untuk sedikit berbagi cerita dengan hujan.
“Ema,
apapun yang terjadi, aku masih akan tetap menunggumu. Kapanpun kau butuh, aku
akan tetap berada di sampingmu. Mungkin memang, aku tidak bisa menjadi seperti
Rama, lelaki yang kau idamkan selama ini. Namun, aku akan buktikan bahwa aku
sangat mencintaimu.” papar Indra.
Aku
ingat terakhir kali saat Indra mengatakan apa yang ingin diungkapkannya selama
ini. Tak ada yang salah dengan Indra. Ia lelaki yang baik, sabar, mapan. Bahkan
semua wanita di kampus memuja dan mengejarnya. Bahkan ada yang sampai rela
bertahun-tahun menunggunya dan memberi perhatian padanya hanya demi dapat
memenangkan hatinya.
Saat
ini, Indra menjatuhkan pilihannya padaku. Seorang perempuan yang bahkan tak
pernah memilihnya untuk menjadi pendamping hatinya. Aku bahkan tak sebanding
dengannya. Ia terlalu sempurna.
“Maaf,
Ndra. Tapi aku tetap tak bisa memilihmu. Kamu tahu, betapa aku mencintai Rama.
Aku sangat mencintainya melebihi cintaku pada diriku sendiri.”ucapku
“Aku
tahu, Ma. Aku mungkin tak dapat memenangkan hatimu.”
“Maaf,
Ndra.”
“Tak
apa, Ma. Aku hanya ingin kamu mengetahui bahwa aku tak sedikitpun berpaling
darimu. Karena sejak pertama bertemu, aku telah memilihmu.”
Hujan
masih terus mendongeng di luar sana. Menyerbu hatiku seperti cara Indra
mencintaiku. Seperti tak lelahnya Indra untuk meyakinkan hatiku bahwa ia yang
terbaik untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar