Laman

Rabu, 22 Mei 2013

Sekotak Mimpi Besarku

                Kotak kecil biruku masih tersudut di sana, di pojok tempat tidur.  Telah lama sebenarnya aku tahu ia hanya akan terpojok di sana, karena pada akhirnya, aku telah kalah oleh waktu.
                “Harusnya kamu dulu terima tawaran Rian untuk bekerja di Jakarta, banyak yang akan kau dapat di sana nanti.” Ucap Fatin.
                “Aku hanya ingin menjadi apa yang aku mau dari kecilku, Tin. Bukan menjadi apa yang diinginkan orang lain. Menjadi penulis adalah impian terbesar dan tergilaku. Aku tahu, tak banyak hal yang bisa menjanjikan kesuksesanku nanti.” terangku kesal.
                Masih dengan kotak biruku, penuh dengan berbagai macam buku tulis yang berisikan tulisan tangan dari semua cerita yang aku ciptakan sendiri dalam khayalku sejak usia bangku Sekolah Dasar. Bangku yang cukup belia untuk memulai melantik diri sebagai seorang penulis. Konsisten. Setidaknya itulah sifat impianku. Aku tak mau kalah oleh apa yang orang lain paksakan padaku.
                “Nan, kau harus realistis, dunia gak akan kau kuasai hanya dengan menjadi seorang penulis. Kau lihat sendiri, betapa banyaknya penulis yang dengan bangga mendeklarasikan bahwa ia adalah penulis handal. Namun apa, kau lihat? Tak banyak yang akhirnya bisa benar-benar bisa memenangkan pertarungannya.” Tukas Fatin
                “Aku tahu, itulah yang harus aku ubah, Tin. Aku tahu aku pemula. Di sinilah titik perjuanganku untuk bisa menjadi di antara mereka. Dan aku pasti bisa menjadi di antara mereka!” ucapku dengan penuh kesal.
                Masih terngiang-ngiang apa yang Fatin katakan padaku satu tahun yang lalu. Ia sama saja dengan Rian, lebih memilih untuk menyuruhku menjadi seorang  pegawai kantoran yang stagnan dengan tumpukan laporan dan proposal. Namun, hari ini aku kembali memikirkan apa yang Fatin katakan padaku. Memang, tak seharusnya aku gegabah untuk sok bisa meraih apa yang tidak mudah. Terbukti, kali ini aku kalah. Aku kalah oleh waktu. Aku kalah karena idealismeku.
                Masih ku raba kotak biruku. Berpikir untuk menjadikan apa isi dari tumpukan itu? Sudah banyak penerbit telah menolaknya. Dan kini mataku mulai terbelalak terhadap realita.
                Braaakkkkk!!!
                Ku jatuhkan kotak biru itu dengan sengaja di lantai. Aku tahu, saat ini pun mimpiku terjatuh dengan bebas, sangat bebas, demi mempertahankan isi kotak biruku yang non sense. Ah, entahlah. Aku harus bermimpi apalagi setelah ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar