Kotak
kecil biruku masih tersudut di sana, di pojok tempat tidur. Telah lama sebenarnya aku tahu ia hanya akan
terpojok di sana, karena pada akhirnya, aku telah kalah oleh waktu.
“Harusnya
kamu dulu terima tawaran Rian untuk bekerja di Jakarta, banyak yang akan kau
dapat di sana nanti.” Ucap Fatin.
“Aku hanya
ingin menjadi apa yang aku mau dari kecilku, Tin. Bukan menjadi apa yang
diinginkan orang lain. Menjadi penulis adalah impian terbesar dan tergilaku.
Aku tahu, tak banyak hal yang bisa menjanjikan kesuksesanku nanti.” terangku kesal.
Masih
dengan kotak biruku, penuh dengan berbagai macam buku tulis yang berisikan
tulisan tangan dari semua cerita yang aku ciptakan sendiri dalam khayalku sejak
usia bangku Sekolah Dasar. Bangku yang cukup belia untuk memulai melantik diri
sebagai seorang penulis. Konsisten. Setidaknya itulah sifat impianku. Aku tak
mau kalah oleh apa yang orang lain paksakan padaku.
“Nan,
kau harus realistis, dunia gak akan kau kuasai hanya dengan menjadi seorang
penulis. Kau lihat sendiri, betapa banyaknya penulis yang dengan bangga
mendeklarasikan bahwa ia adalah penulis handal. Namun apa, kau lihat? Tak
banyak yang akhirnya bisa benar-benar bisa memenangkan pertarungannya.” Tukas Fatin
“Aku
tahu, itulah yang harus aku ubah, Tin. Aku tahu aku pemula. Di sinilah titik
perjuanganku untuk bisa menjadi di antara mereka. Dan aku pasti bisa menjadi di
antara mereka!” ucapku dengan penuh kesal.
Masih
terngiang-ngiang apa yang Fatin katakan padaku satu tahun yang lalu. Ia sama
saja dengan Rian, lebih memilih untuk menyuruhku menjadi seorang pegawai kantoran yang stagnan dengan tumpukan
laporan dan proposal. Namun, hari ini aku kembali memikirkan apa yang Fatin
katakan padaku. Memang, tak seharusnya aku gegabah untuk sok bisa meraih apa
yang tidak mudah. Terbukti, kali ini aku kalah. Aku kalah oleh waktu. Aku kalah
karena idealismeku.
Masih
ku raba kotak biruku. Berpikir untuk menjadikan apa isi dari tumpukan itu?
Sudah banyak penerbit telah menolaknya. Dan kini mataku mulai terbelalak
terhadap realita.
Braaakkkkk!!!
Ku
jatuhkan kotak biru itu dengan sengaja di lantai. Aku tahu, saat ini pun
mimpiku terjatuh dengan bebas, sangat bebas, demi mempertahankan isi kotak
biruku yang non sense. Ah, entahlah.
Aku harus bermimpi apalagi setelah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar