Malam ini begitu dingin. Jalanan mulai sepi, sunyi, dan tak seorang pun yang lewat. Tempatku tinggal sejak sore tadi cukup berbeda dengan kemarin. Bahkan sangat berbeda. Malam ini tak ada bisingnya kendaraan, tak ada penatnya lalu lintas, tak ada lampu-lampu semarak gedung pencakar langit. Malam ini hanya ada berisiknya jangkrik yang terus-terusan bersahutan mencoba menyemarakkan suasana malam, kumpulan bintang yang terus bermain mata denganku, secangkir mocacino hangat, dan beberapa batang stik coklat. Sungguh suasana yang cukup jarang untukku. Terhitung jari untukku dapat menemui suasana selengkap ini. Aku menyebutnya dengan Me Time.
Mungkin Me Timeku kali ini sedikit berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Malam ini tak ada layar 14 inchi, tak ada Air Conditioner, dan tak ada gadget-gadet canggihku yang sudah jadi barang biasa untuk mengisi hari-hariku. Aku bisa menikmati hari-hari seperti ini hanya sebentar saja, 3 hari. Ya, 3 hari saja aku bisa memilikinya, tak lebih. Padahal, Me Time seperti inilah yang ku tunggu dari dulu. Segalanya boleh tak ada, namun jangan untuk satu hal, ya.. batangan stik coklatku. Banyak yang mengidentikkanku dengan batangan stik coklatku. Aku dan batangan-batangan stik coklatku.
"Riri..." panggil nenek dari pintu ruang tamu.
"Oh, iya, Ni."sahutku segera. Ya, Me Timeku kali ini adalah di rumah nenek. Tak ada yang lebih menyenangkan untukku ketimbang kembali ke kampung halaman, di rumah nenek, sebuah desa di kawasan Cibiru, Bandung.
"Nini kira kamu dimana, Neng, Ieu cauna geus asak, didahar heula, Neng. Keburu dingin." terang nenek.
Nenek selalu tahu, selain menikmati batangan stik coklat, aku juga suka sekali menghabiskan malam dengan menikmati potongan pisang goreng buatannya. Pisangnya yang bahkan hasil dari kebun sendiri.
"Iya, Ni." sahutku sembari tersenyum senang. Segera saja ku lahap sebuah pisang goreng yang masih mengepul panas. Nikmat sekali. Masih sangat renyah dan manisnya yang cukup, semanis suasana malam ini.
Tiiitiiiitiiiiitt.....
Tetiba saja nada dering ponselku berbunyi. Sial! Aku lupa mematikan ponselku. deringnya membuatku sangat terganggu, terlebih aku sudah menduga siapa yang menelponku saat ini. Dengan mulut yang masih mengunyah bongkahan pisang di mulut dan tangan yang masih memegang pisang berbalut tissue, aku hanya menengok layar ponsel yang ku letakkan tepat di meja sampingku untuk memastikan siapa yang berani mengganggu Me Timeku malam ini.
Fernando_office
Ah, jelaslah dugaanku, tepat sekali. Pasti dia, Malas sekali rasanya menjawab panggilan darinya. Sudah pasti dia hanya akan membahas masalah kontrak dengan klien, desain di project selanjutnya, dan bla bla bla. Di dalam otakku kembali berimajinasi obrolan seperti apa yang akan terjadi jika aku menjawab panggilan itu. Sama sekali tak asik!
"Kok gak dijawab, Neng?" tanya Nenek keheranan.
"Mbung, Ni. Pasti rek ngomong masalah kantor deui. " sahutku santai.
Masih dengan mulut yang penuh dengan pisang goreng yang belum tergerus habis. Nenek hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum dan mengelus kepalaku. Mungkin ia berbicara dalam batin mengenai perilakuku yang satu ini. "Kabur" dari kantor dan rumah. Hal yang sudah 3 kali ini aku lakukan saat aku benar-benar sangat tidak tahu akan membenamkan diriku kemana lagi. Rumah nenek untukku tak hanya sekedar rumah, namun sama seperti batangan stik coklatku. Sangat manis, walaupun kecil, namun ia seperti magis, seketika dapat membuatku lupa akan hidupku di kota yang benar-benar sudah terhitung sumpek. Rumah nenek yang seperti batangan stik coklatku, selalu mampu mengembalikan moodku dan menjadi tempat pelarian di saat aku sudah sangat kacau dengan kehidupan di Jakarta. Seperti saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar