Laman

Rabu, 21 Oktober 2015

Mocca dan Senja



               Masih dengan senja dan gerimis. Masih dengan secangkir mocca di depanku yang belum tersentuh sedikitpun. Mocca yang telah ku pesan lebih dari sejam yang lalu. Aku tahu mocca ini akan mendingin, terlebih ruangan ini yang berudara jauh lebih dingin dari di luar. Mocca yang cantik, unik, dan sayang untuk ku rusak demi memperbaiki moodku sore ini. Ya, mood yang rusak hanya gara-gara deadline yang kurang beberapa hari lagi. Lagi-lagi bermain kucing-kucingan dengan pihak penerbit demi tulisan terbaruku yang bahkan aku belum memiliki ide sedikitpun. Kembali ku lirik mocca cantikku, kemudian ku pindahkan lirikanku di ujung pintu kafe.
               Ujung kafe kali ini berhasil membuatku terdiam. Ku lihat sesosok lelaki muda yang tubuhnya sedikit basah karena terkena gerimis dari luar. Ia berkaca mata, rambut ikal, dan... akhirnya ku dapati sorot mata itu. Sorot mata yang sejak 12 tahun lalu pernah menjadi sorot mata yang menghantui tidurku. Sorot matanya teramat  sederhana, hangat, dan mungkin sedikit menyemburatkan sebuah kemantaban hati. Sorot mata itu milik Handi! Aku hanya diam terpaku seraya menahan napas. Ku ikuti kemana sosok itu mengambil tempat duduk dengan kedua mataku. Tetiba saja, kedua matanya seakan tahu bahwa ada mata liar yang sedang membuntut di belakang tubuhnya. Pada hitungan detik, kemudian kedua mata itu menukikkan tajam padaku. Ia pun terdiam sambil mengernyitkan dahinya yang agak lebar. Tak lama, ia tersenyum padaku. Kemudian, ia secara spontan berdiri dan mengambil tempat duduk di depanku. Sosok itu sekarang tepat berada di depanku.
               “Hai, Silvi!” ia menyapaku dengan gayanya yang lembut. Persis dengan sapaannya di 8 tahun yang lalu.
               “Ha..ha..hai, Mas Han!” Aku tergagap membalas sapaannya. Sedikit malu, namun aku tak pernah menyangka setelah 8 tahun, pertemuanku kembali dengannya terjadi di kafe ini, di kota ini.
               Beberapa menit kemudian kami lalui dengan percakapan mengenai kabar dan kehidupan kami kini. Terakhir kali aku mengetahuinya bahwa ia telah memiliki ‘pasukan’ kecil dalam keluarga kecilnya bersama ‘bidadari surga’nya. Melalui ceritanya, aku tahu bahwa ternyata selama setelah pernikahannya dan kelahiran ‘pasukan kecil’nya, ia melalui peristiwa berat. ‘Bidadari surga’nya telah pergi ketika ‘pasukan kecil’nya masih berusia beberapa bulan. Ia bercerita bahwa ‘bidadari surga’nya telah meninggal 3 tahun yang lalu karena menderita kanker payudara stadium akhir.
               “Rasanya terpukul sekali, Vi. Aku tahu dia akan pergi, tapi aku tak pernah menyangka secepat itu. Setelah Endin pergi, aku merasa setengah nyawaku ikut terkubur. Aku harus melalui hari-hari beratku hanya berdua dengan Rava. Sekarang usia Rava sudah menginjak 5 tahun ” ujarnya
                Aku tahu, ia merasa kehilangan yang teramat dalam karena aku tahu sebelumnya bahwa Endin adalah gadis yang baik, cantik, dan cerdas. Selain itu, Endin bersedia mengabdikan hidupnya untuk hidup berdua dengan Handi di usia yang masih cukup muda. Keputusan yang tidak mudah bagi perempuan-perempuan saat ini, begitu pun bagiku. Pantaslah Handi memilihnya sebagai ‘bidadari surga’ untuk sepanjang hidupnya. Ia pantas mendampingi Handi yang dulu juga begitu sempurna di mataku. Bahkan sama sekali tidak berubah hingga saat ini.
               “Mas, aku turut sedih mendengar musibahmu. Selama ini aku mengira kamu telah hidup bahagia bersama keluarga kecilmu. Aku tahu dia pantas bagimu, dan wajar jika kamu memang merasa sangat kehilangan.” ucapku berusaha membesarkan hatinya. Namun, tanpa ku sadari ada yang mengganjal di hatiku. Ada perasaan sedih, kecewa. Bukan, bukan untuk peristiwa dukanya, tapi untuk hal lain, dan aku berusaha menjauhkan perasaan itu jauh di sana.
               “Lalu, kamu sendiri bagaimana? Bukankah dulu kamu bercerita bahwa ada laki-laki yang menyukaimu?” tanya Handy penasaran. Tiba-tiba aku terhenyak dengan pertanyaannya itu. Rupanya ia masih mengingat cerita 8 tahun yang lalu itu. Aku memang pernah menceritakan tentang Gading, pacarku dulu dan sampai saat ini. Aku bercerita padanya, karena saat itu Gading merasa bahwa aku akan kembali dengan Handi.
               “E..e...ya, baik-baik saja, Mas.” aku hanya berani memberikan jawaban seperti itu. Aku tidak berani menjawab hal yang sebenarnya bahwa beberapa bulan lagi,  aku dan Gading berencana untuk bertunangan. Perasaan itu kembali bergemuruh, seakan memintaku untuk diam, tak memberitahu apa rencanaku dan Gading dalam waktu dekat ini. Aku bahkan belum siap untuk menjawabnya kembali, terlebih baru saja aku mendengar kabarnya yang sudah sendiri lagi. Namun, rupanya ia menangkap kegelisahanku.
               “Ada apa, Vi? Apa sesuatu terjadi pada kalian?“ tanya Handi lagi. Kali ini nadanya menyiratkan semakin ingin tahu bagaimana hubunganku dengan Gading.
               “E.. tidak ada apa-apa, Mas. Aku dan Gading..baik-baik saja.” ucapku lirih.
               “Dari matamu, aku tak melihat itu.” ujarnya singkat. Masih tetap seperti yang dulu. Ia masih mampu mengenaliku. Kembali tergambarkan saat-saat dulu dengannya yang teramat singkat.
               :”Aku dan Gading...akan...bertunangan beberapa bulan lagi.” ucapku terbata-bata. Seketika itu juga, aku melihat ada sinar matanya yang tak lagi tenang seperti dulu. Sinar matanya kini menggambarkan betapa kagetnya ia mendengar berita itu. Walaupun usahanya yang mencoba bersikap tenang, namun aku tahu, itu bohong.
               “Baguslah, aku tahu kalian akan bersatu nantinya.” ucapnya sambil tersenyum.  Aku tahu, bahkan sangat tahu, senyumnya sangat terpaksa.
               ‘Tolong, tolong jangan kau bersikap seperti itu. Aku tahu kau tak suka mendengar kabar itu, Mas. Katakan padaku bahwa kau tak suka.’ teriakku dalam hati. Akhirnya aku mencoba untuk memberanikan diri mengatakan hal itu.
               “Mas, andaikan dulu...”
               “Sudah, sudahlah, Vi...”
               “Aku tahu kau menyesal hingga aku memilih perempuan lain. Namun saat ini kita tak mampu berbuat banyak. Kau sebentar lagi akan bertunangan dan menikah.” ujarnya tenang. Tiba-tiba ada yang mengembang bening di sudut kelopak mataku. Kemudian satu persatu menuruni pipiku yang lebih cembung dari 8 tahun yang lalu.
               12 Tahun lalu...
               Tak pernah sengaja aku bermaksud untuk mengenal sesosok laki-laki yang sempurna seperti Handi. Sebuah peristiwa menyakitkan ketika SMP membuatku memutuskan untuk membuat komitmen dengan diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menjalin hubungan lebih dari teman dengan lelaki manapun hingga aku dinyatakan lulus SMP.
               Acara Masa Orientasi Siswa SMA untukku hanya akan menjadi sebuah acara yang biasa saja. Aku hanya mengenal beberapa teman saja, itu pun merupakan teman-teman baikku ketika SMP sebelumnya. Aku sama sekali tidak mengharapkan akan mendapatkan wajah-wajah baru untuk ku jadikan pujaan seperti teman-temanku yang lainnya. Maklum, siswa baru, sedikit banyak akan mencari kenalan baru, dan mungkin kekasih baru.
               Pada pertengahan acara penggemblengan siswa baru itu, aku dan seorang teman baikku sempat banyak bercerita mengenai acara-acara itu. Tak terkecuali mengenai laki-laki yang menarik hatinya. Baru beberapa hari di sini, Nanda, teman baikku bercerita bahwa ia menyukai salah seorang kakak kelasku, yakni Handi. Nanda menyukainya karena Handi dikenal sebagai siswa yang smart, sabar, dan alim. Tapi bagiku, ia sama saja dengan laki-laki lainnya. Sama sekali aku tak tertarik untuk mengenalnya.
               “Vi, itu tuh, cowok yang aku bilang kemarin.” ucap Nanda padaku sambil berbisik-bisik di kantin sekolah.
               “Mana, sih, Nan?” tanyaku.
               “Itu yang pake kacamata.” Jawab Nanda sambil menunjuk ke arah pintu kantin. Seketika aku tahu laki-laki itu. Tak ada yang menarik darinya.
               “Oh, itu.”
               “Iya, kenapa?Lumayan, kan?”
               “Biasa aja, Nan. Iya, sih, wajahnya keliatan smart. Kacamatanya, tuh, yang bikin keliatan pinter.hehe..” celetukku. Memang, tak ada yang menarik untuk ku perhatikan saat itu.
               Tiriiiiiiririiiitt...Tiririiiriiitt...
               22.22 ..
               Ah, malam-malam seperti ini ponselku berbunyi. Nada ringtone yang khas dari ponselku mengagetkan konsentrasiku dalam menyelesaikan tugas sekolah. Ku raih ponselku di atas tempat tidur. Aku melihat ada nomor asing di panggilan tidak terjawabku.
               “Siapa, sih, ini? Apa gak tahu sudah malam gini.” ujarku kesal. Kemudian aku menjawab panggilan itu dengan pesan singkat yang hanya mempertanyakan siapa pemilik nomor itu. Lalu ku letakkan kembali ponselku di samping buku-buku di meja belajarku. Aku kembali menekuni buku-buku di depanku. Tidak lama kemudian aku melirik ponselku. Tidak ada jawaban. Hal ini membuatku semakin kesal dan penasaran. Selama beberapa hari ini aku tak pernah memberikan nomor ponselku pada siapapun kecuali pada teman-teman sekelasku. Aku berpikir kembali sambil mengingat-ingat. Perasaanku mengatakan bahwa ada orang asing yang tak kukenallah yang menelponku. 
               ‘Sudahlah. Lebih baik aku kembali menyelesaikan tugasku daripada mengurusi orang yang gak jelas.’ gerutuku dalam hati.
               Beberapa hari berikutnya, aku sempat bertanya temanku, mungkin ada yang tahu siapa pemilik nomor itu. Alhasil, ada seorang teman baikku di kelas yang kemungkinan mengetahui siapa orang itu. Ia menduga bahwa itu adalah milik salah seorang kakak kelas kita sendiri. Setelah ia mengecek di ponselnya, ternyata benar, nomor itu milik kakak kelas, Handi.
               Beberapa kali aku sempat mendesaknya dalam pesan singkat untuk mengakui namanya. Namun, ia tak pernah mengakuinya secara tersurat. Dari beberapa pesan yang diberikannya, tanpa sadar ia mengakui siapa dirinya. Dia adalah Handi. Aku sempat terheran, untuk apa Handi menghubungiku. Aku bahkan tidak pernah berkenalan dengannya sama sekali sebelumnya. Dan... darimana ia mengetahui nomor ponselku?Entahlah. Yang aku tahu, semakin hari kami sering mengirimkan pesan singkat satu sama lain. Kemudian aku sempat teringat bahwa temanku, Nanda sangat menyukainya. Aku pun memanfaatkan itu untuk mencari informasi mengenai Handi untuk Nanda, bukan karena aku memang menyukainya.
               Beberapa bulan dari perkenalan melalui pesan singkat itu, aku merasa terbiasa untuk mengirimkan pesan singkat tiap hari padanya, begitu pun dia. Aku merasa ada yang kurang bila sehari saja tidak mendapat sapaannya melalui pesan singkat itu, meskipun setiap bertemu dengannya di sekolah selalu berusaha menghindar dan tidak menyapa. Akhirnya, aku bercerita pada Nanda mengenai Handi dan kebiasaan kami.
               “Sudah, gak apa-apa kalau kamu memang mau mendekatinya, Vi. Aku menyukainya hanya sebatas kagum saja karena dia pintar dan baik. Itu saja, bukan karena aku punya perasaan lebih padanya.” tutur Nanda sambil tersenyum. Aku tahu dia jujur. Wajahnya tidak menyiratkan bahwa ia keberatan. Aku membalasnya dengan senyuman lega.
               5 bulan berlalu..
               Sudah 5 bulan sejak perkenalan kami yang cukup unik. Namun hubunganku dengan Handi sama seperti bulan-bulan sebelumnya, tidak ada yang berubah. Kami tidak mengikat sebuah hubungan khusus. Aku tahu, aku mulai merasakan apa itu cinta, mulai merasakan kehadirannya yang lebih dalam hidupku. Namun, sebagai perempuan, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku merasa, sebagai seorang perempuan hanya patut menunggu ungkapan dari laki-laki, tidak lebih. Sudah 5 bulan perkenalan, ia sama sekali tidak menyatakan perasaannya secara jelas. Apalagi menyatakan untuk memiliki sebuah hubungan khusus.
               Namun ada yang mengganjal, beberapa hari ini ia mulai mengirim puisi-puisi yang menurutku tidak pantas untuk dikirimkan kepada seorang teman biasa. Ya, teman biasa. Aku hanya menenangkan pikiranku, bahwa ia hanya menganggapku sebagai teman biasa, karena ia selama ini tak pernah menyatakan apapun padaku. Sering sekali perasaanku bergejolak, gelisah. Apa yang harus aku lakukan sebagai seorang perempuan dalam posisi kali ini?Haruskah aku memulai terlebih dahulu untuk mengungkapkannya.
               Keluargaku bukan tipe keluarga yang terlalu terbuka terhadap perasaan, terlebih pada pihak perempuan. Keluargaku menanamkan nilai ‘nerimo’. Tidak pantas bagi perempuan untuk mendahului atau memulai sesuatu, terlebih sebuah hubungan dengan lawan jenis. Inilah yang akhirnya membuatku memutuskan untuk memilih diam daripada mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Handi. Aku memilih untuk menyimpannya rapat-rapat tanpa ada yang tahu, kecuali buku harianku. Bahkan teman-teman sering menggodaiku bahwa sebenarnya Handi punya perasaan padaku. Aku hanya bisa menyangkal perkataan teman-teman, dan.. perasaanku.
               “Vi..” panggil Handi lembut. Lamunan panjangku seketika terbuyar begitu saja. Lamunan 12 tahun yang lalu.
               “i..iya, Mas Han.” sahutku sambil menyeka air mataku yang sedari tadi mencoba menembus ke dalam pipiku.
               “Aku..aku minta maaf.. Aku minta maaf karena dulu sama sekali tak mencoba mempertahankanmu. Maafkan aku yang akhirnya meninggalkanmu begitu saja. Aku tahu kau terluka, aku tahu kau terjatuh, namun aku sudah terlanjur menjatuhkan pilihanku pada Endin. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya aku tahu bahwa kau juga sangat mencintaiku dulu...”
               “Bahkan..sampai detik ini, Mas Han...” sahutku begitu saja. Entah apa yang membuatku begitu berani menjawabnya dengan jujur. Bahkan menjelang detik-detik pertunanganku yang tinggal beberapa bulan lagi, aku masih menyimpan rasa itu. Rasa yang ingin meledak bagai sebuah bom yang ku buang dalam dada.
               “Mas.. saat itu aku tidak berani jujur dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya padamu, bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku hanya terbelenggu dengan posisiku sebagai perempuan. Perempuan yang tidak berhak untuk memulai. Yang katanya seorang perempuan hanya boleh menunggu dan menerima..”   
               “Vi, kejujuran itu milik siapapun. Kalau kau suka, katakan. Kalau tidak, katakan. Tidak selamanya perempuan harus menunggu, Vi. Kau punya hak atas perasaanmu. Siapapun punya hak atas perasaannya, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Saat itu, sesungguhnya aku juga sedang menunggu respon darimu. Namun, pada akhirnya kau lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun tentang perasaanmu.” tutur Handi dengan tenang. Ia bahkan masih sangat tenang di keadaannya sekarang. Pipiku kembali berurai air mata. Deras. Sederas hujan yang kian menjadi saat ini.
               “Andaikan..andaikan saat itu, Mas..”
               Beberapa hari ini hubunganku sedang tidak baik dengan Handi. Pertengkaran lewat pesan singkat terjadi, padahal sudah beberapa hari berlalu.
               Tittit..titit..titititit...
               Aku membuka pesan singkat itu. Handi. Besok pagi ia ingin bertemu denganku di dekat mushola sekolah. Aku pun membalasnya dengan singkat, bahwa ia bisa menjelaskan lewat pesan saja, tak perlu bertemu. Ia pun menolak. Ia mengatakan padaku, apabila ia ingin tahu mengapa ia bersikap aneh akhir-akhir ini, aku harus menemuinya di dekat mushola besok sepulang sekolah.
               Keesokan harinya, aku menuruti permintaannya. Tanpa basa-basi, aku bertanya padanya.
               “Ada apa kau memintaku datang ke sini?” tanyaku dengan berdiri tanpa melihat wajahnya.
               “Perlu kamu ketahui, aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu atas sikapku beberapa hari ini. Aku bersikap seperti itu karena aku punya alasan.”jawabnya sambil berdiri dan menatap wajahku tanpa berhenti.
               “Halah, sudahlah. Aku tahu niatmu hanya mempermainkan aku saja selama ini. Bisa, ya, kamu bersikap begitu padaku?”
               “Vi, kamu tahu, apa alasanku begitu padamu?”
               “Tidak.” jawabku ketus. Aku masih memalingkan wajahku darinya.
               “Vi, asal kamu tahu. Aku bersikap begitu, karena... karena..”
               “Karena apa? Hah?”
               “Karena aku tak mau kau tahu kalau aku suka padamu.” jawabnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, kemudian hatiku berdegup kencang sekali. Aku sama sekali tak percaya yang ia katakan. Aku pun bingung apa yang harus aku katakan. Tetiba saja meluncur kata-kata singkat dari bibirku.
               “Sudah?Gak ada yang mau kamu katakan lagi?”
               “Iya.”
               “Baik, silakan pulang. Aku juga mau pulang dan istirahat.” ucapku sambil nggeloyor tanpa memperhatikannya lagi.
               Sejak kejadian itu, aku semakin dekat dengan Handi. Semakin hari Handi semakin sering mengungkapkan rindunya padaku, meskipun ia masih belum sekalipun menawarkan hubungan khusus padaku. Masih berteman. Lagi-lagi aku terbentur sebuah pertahanan komitmenku. Kegalauan antara logika dan hati. Antara norma dan perasaan. Selama itu, aku hanya menjalani saja, menerima ungkapan-ungkapannya yang selalu coba ku tangkis dengan logikaku sebagai perempuan.
               ‘Malam ini,sinar bulan tak seperti biasa.Ia meredup terus.Begitupun aku, Vi.Mungkin aku sedang menderita missing syndrom.hehe’ Begitulah isi pesan singkat yang paling ku ingat. Ia selalu punya cara unik sendiri dalam mengungkapkan hatinya. Inilah yang membuat hatiku galau setiap malam, apakah aku harus mengungkapkan hal yang sama atau tidak. Aku pun takut terluka, berpikir apakah ini hanya permainannya saja. Mengungkapkan perasaannya tanpa mau terikat hubungan apapun.
               4 Tahun berlalu..
               Seperti dugaanku, sejak kelulusannya di bangku SMA dan keputusannya meneruskan kuliah di Bandung, hubunganku dengan Handi semakin renggang. Bahkan tidak ada komunikasi sama sekali. Aku sama sekali tidak berani menghubunginya, terlebih ku ketahui bahwa ia telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan Endin. Hingga saat menjelang keberangkatanku ke kota Bandung, aku sempat mengupdate status di salah satu media sosial yang aku punya. Tanpa ku sangka ia mereplynya. Ia menanyakan apakah benar aku akan ke Bandung. Aku hanya menjawab seadanya, tanpa berharap bertemu dengannya. Aku tahu, mustahil untuk bertemu dengannya di Bandung.
               Namun, entah kenapa, sesampainya aku di Bandung, aku menuliskan sebuah SMS padanya. Aku mengabarkan padanya bahwa aku sudah di Bandung. Saat itu, aku mengirimkan pesan tanpa berharap balasan, karena memang komunikasiku dengannya sudah terputus sejak lama. Yang sempat aku herankan, entah kenapa aku bertindak impulsif dengan menawarkannya mampir ke rumah tempat aku menginap. Namun, yang membuatku lebih kaget lagi, ia bersedia untuk mampir sebentar dan menemuiku pagi-pagi sebelum aku pulang ke Surabaya. Aku heran, bingung, sekaligus..senang.
               Pukul 8.00 ia memberitahukanku bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju tempatku menginap. Aku sempat menepis harapan bahwa sebaiknya ia tak datang karena hujan. Semalaman aku berharap bahwa akan ada hujan deras pagi ini, sehingga Handi tak perlu memenuhi janjinya. Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Aku masih menduga-duga, untuk apa ia memenuhi tawaranku itu. Apakah ia ingin menyampaikan sebuah hal penting untukku? Apakah ia ingin menyampaikan undangan pernikahannya? Atau..apakah ini tentang perasaannya yang dulu pernah ia ungkap padaku?Entahlah..yang jelas aku belum siap bertemu dengannya. Tak ku bayangkan akan seperti apa reaksiku bila bertemu dengannya. Tapi, ternyata harapanku pupus. Pukul 9 tepat ia suda di depan rumah tempatku menginap.
               “Hai, Vi. Lama kita gak ketemu. Kamu..apa kabar?” tanya Handi masih dengan wajahnya yang tenang, sama seperti 4 tahun lalu terakhir aku bertemu dengannya.
               “Baik. Kamu...sekarang sibuk apa?” balasku sambil menggenggamkan tanganku. Bahasa tubuhku yang cemas mulai nampak. Kami akhirnya ngobrol banyak. Dari sekian obrolan kami, ia hanya bertanya beberapa hal yang menurutku kurang penting dibandingkan dengan usahanya yang sulit untuk bisa menempuh jauhnya perjalanan ke tempatku menginap. Tak ada hal yang menarik untuk kita bahas. Bahkan aku dan Handi lebih banyak diam.
               Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sebelumnya, aku sempat meminta Handi untuk mengantarku ke kebun stroberi menyusul bibiku di sana. Kami pun berangkat menggunakan motor Handi. Sepanjang perjalanan, Handi banyak bercerita mengenai pengalamannya ketika dulu pernah mengunjungi daerah yang kami lewati. Aku baru saja teringat, ini adalah pertama kalinya aku dan Handi berboncengan setelah sekian lama kami berkenalan. Aku kikuk. Tak tahu akan mengatakan apa.
               “Aku langsung pulang, ya, Vi. Masih banyak tugas di kampus.” ucapnya sambil tersenyum. Apa? Hanya ini saja pertemuan kami? Kurang dari 2 jam saja kami bertemu, tanpa mengatakan hal yang berarti. Aku hanya bisa pasrah melepas kepergiannya. Aku pasrah atas pertemuan yang entah akan menjadi terakhir atau tidak.
*
               Mocca di depanku masih utuh dan semakin mendingin. Aku masih terdiam dan menatap wajah laki-laki yang sudah lebih dari 1 jam di depanku. Kami terdiam. Inilah saatnya untuk aku dan Handi menyatakan semuanya. Menyatakan apa yang selama ini tersudut usang jauh di batas antara perempuan dan laki-laki.
               “Mas, aku tahu waktu tidak akan berputar kembali seperti dulu. Namun, kali ini aku lega bisa bertemu denganmu kembali dan mengetahui bahwa semuanya masih seperti dulu. Sama seperti dulu.” ucapku lirih.
               “Vi, meski kita telah berbeda, dan tak akan lagi sama, namun satu yang masih tetap akan ku jaga. Tak akan pernah digantikan siapapun. Dan ingat, perempuan berhak mengatakan apapun yang ia rasakan, bukan hanya menunggu. Kau harus ingat itu, Vi.” Ucap Handi. Kali ini entah tetesan yang ke berapa kembangan bening yang dari tadi menerjuni pipiku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Mungkin memang ini lebih baik. Cukup begini. Tak ada harap. Hanya saling diam dan melihat. Dan…ya, tak seharusnya aku dulu terdiam seperti moccaku sore ini. Perempuan tak harus hanya diam saja. Ia punya hak untuk mengatakan apapun yang ia rasakan. Seperti gerimis yang terus bercerita pada senja ini.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar