Masih dengan senja dan gerimis. Masih
dengan secangkir mocca di depanku yang belum tersentuh sedikitpun. Mocca yang
telah ku pesan lebih dari sejam yang lalu. Aku tahu mocca ini akan mendingin,
terlebih ruangan ini yang berudara jauh lebih dingin dari di luar. Mocca yang
cantik, unik, dan sayang untuk ku rusak demi memperbaiki moodku sore ini. Ya, mood
yang rusak hanya gara-gara deadline yang kurang beberapa hari lagi. Lagi-lagi
bermain kucing-kucingan dengan pihak penerbit demi tulisan terbaruku yang
bahkan aku belum memiliki ide sedikitpun. Kembali ku lirik mocca cantikku,
kemudian ku pindahkan lirikanku di ujung pintu kafe.
Ujung kafe kali ini berhasil
membuatku terdiam. Ku lihat sesosok lelaki muda yang tubuhnya sedikit basah
karena terkena gerimis dari luar. Ia berkaca mata, rambut ikal, dan... akhirnya
ku dapati sorot mata itu. Sorot mata yang sejak 12 tahun lalu pernah menjadi
sorot mata yang menghantui tidurku. Sorot matanya teramat sederhana, hangat, dan mungkin sedikit
menyemburatkan sebuah kemantaban hati. Sorot mata itu milik Handi! Aku hanya
diam terpaku seraya menahan napas. Ku ikuti kemana sosok itu mengambil tempat
duduk dengan kedua mataku. Tetiba saja, kedua matanya seakan tahu bahwa ada
mata liar yang sedang membuntut di belakang tubuhnya. Pada hitungan detik,
kemudian kedua mata itu menukikkan tajam padaku. Ia pun terdiam sambil
mengernyitkan dahinya yang agak lebar. Tak lama, ia tersenyum padaku. Kemudian,
ia secara spontan berdiri dan mengambil tempat duduk di depanku. Sosok itu
sekarang tepat berada di depanku.
“Hai, Silvi!” ia menyapaku dengan
gayanya yang lembut. Persis dengan sapaannya di 8 tahun yang lalu.
“Ha..ha..hai, Mas Han!” Aku
tergagap membalas sapaannya. Sedikit malu, namun aku tak pernah menyangka setelah
8 tahun, pertemuanku kembali dengannya terjadi di kafe ini, di kota ini.
Beberapa menit kemudian kami
lalui dengan percakapan mengenai kabar dan kehidupan kami kini. Terakhir kali
aku mengetahuinya bahwa ia telah memiliki ‘pasukan’ kecil dalam keluarga
kecilnya bersama ‘bidadari surga’nya. Melalui ceritanya, aku tahu bahwa
ternyata selama setelah pernikahannya dan kelahiran ‘pasukan kecil’nya, ia
melalui peristiwa berat. ‘Bidadari surga’nya telah pergi ketika ‘pasukan
kecil’nya masih berusia beberapa bulan. Ia bercerita bahwa ‘bidadari surga’nya
telah meninggal 3 tahun yang lalu karena menderita kanker payudara stadium
akhir.
“Rasanya terpukul sekali, Vi. Aku
tahu dia akan pergi, tapi aku tak pernah menyangka secepat itu. Setelah Endin
pergi, aku merasa setengah nyawaku ikut terkubur. Aku harus melalui hari-hari
beratku hanya berdua dengan Rava. Sekarang usia Rava sudah menginjak 5 tahun ”
ujarnya
Aku tahu, ia merasa kehilangan yang teramat
dalam karena aku tahu sebelumnya bahwa Endin adalah gadis yang baik, cantik,
dan cerdas. Selain itu, Endin bersedia mengabdikan hidupnya untuk hidup berdua
dengan Handi di usia yang masih cukup muda. Keputusan yang tidak mudah bagi
perempuan-perempuan saat ini, begitu pun bagiku. Pantaslah Handi memilihnya
sebagai ‘bidadari surga’ untuk sepanjang hidupnya. Ia pantas mendampingi Handi
yang dulu juga begitu sempurna di mataku. Bahkan sama sekali tidak berubah
hingga saat ini.
“Mas, aku turut sedih mendengar
musibahmu. Selama ini aku mengira kamu telah hidup bahagia bersama keluarga
kecilmu. Aku tahu dia pantas bagimu, dan wajar jika kamu memang merasa sangat
kehilangan.” ucapku berusaha membesarkan hatinya. Namun, tanpa ku sadari ada
yang mengganjal di hatiku. Ada perasaan sedih, kecewa. Bukan, bukan untuk
peristiwa dukanya, tapi untuk hal lain, dan aku berusaha menjauhkan perasaan
itu jauh di sana.
“Lalu, kamu sendiri bagaimana?
Bukankah dulu kamu bercerita bahwa ada laki-laki yang menyukaimu?” tanya Handy
penasaran. Tiba-tiba aku terhenyak dengan pertanyaannya itu. Rupanya ia masih
mengingat cerita 8 tahun yang lalu itu. Aku memang pernah menceritakan tentang
Gading, pacarku dulu dan sampai saat ini. Aku bercerita padanya, karena saat
itu Gading merasa bahwa aku akan kembali dengan Handi.
“E..e...ya, baik-baik saja, Mas.”
aku hanya berani memberikan jawaban seperti itu. Aku tidak berani menjawab hal
yang sebenarnya bahwa beberapa bulan lagi, aku dan Gading berencana untuk bertunangan. Perasaan
itu kembali bergemuruh, seakan memintaku untuk diam, tak memberitahu apa rencanaku
dan Gading dalam waktu dekat ini. Aku bahkan belum siap untuk menjawabnya
kembali, terlebih baru saja aku mendengar kabarnya yang sudah sendiri lagi. Namun,
rupanya ia menangkap kegelisahanku.
“Ada apa, Vi? Apa sesuatu terjadi
pada kalian?“ tanya Handi lagi. Kali ini nadanya menyiratkan semakin ingin tahu
bagaimana hubunganku dengan Gading.
“E.. tidak ada apa-apa, Mas. Aku dan
Gading..baik-baik saja.” ucapku lirih.
“Dari matamu, aku tak melihat
itu.” ujarnya singkat. Masih tetap seperti yang dulu. Ia masih mampu
mengenaliku. Kembali tergambarkan saat-saat dulu dengannya yang teramat
singkat.
:”Aku dan Gading...akan...bertunangan
beberapa bulan lagi.” ucapku terbata-bata. Seketika itu juga, aku melihat ada
sinar matanya yang tak lagi tenang seperti dulu. Sinar matanya kini
menggambarkan betapa kagetnya ia mendengar berita itu. Walaupun usahanya yang
mencoba bersikap tenang, namun aku tahu, itu bohong.
“Baguslah, aku tahu kalian akan
bersatu nantinya.” ucapnya sambil tersenyum.
Aku tahu, bahkan sangat tahu, senyumnya sangat terpaksa.
‘Tolong, tolong jangan kau
bersikap seperti itu. Aku tahu kau tak suka mendengar kabar itu, Mas. Katakan
padaku bahwa kau tak suka.’ teriakku dalam hati. Akhirnya aku mencoba untuk
memberanikan diri mengatakan hal itu.
“Mas, andaikan dulu...”
“Sudah, sudahlah, Vi...”
“Aku tahu kau menyesal hingga aku
memilih perempuan lain. Namun saat ini kita tak mampu berbuat banyak. Kau
sebentar lagi akan bertunangan dan menikah.” ujarnya tenang. Tiba-tiba ada yang
mengembang bening di sudut kelopak mataku. Kemudian satu persatu menuruni pipiku
yang lebih cembung dari 8 tahun yang lalu.
12 Tahun lalu...
Tak pernah sengaja aku bermaksud
untuk mengenal sesosok laki-laki yang sempurna seperti Handi. Sebuah peristiwa
menyakitkan ketika SMP membuatku memutuskan untuk membuat komitmen dengan
diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menjalin hubungan lebih dari teman
dengan lelaki manapun hingga aku dinyatakan lulus SMP.
Acara Masa Orientasi Siswa SMA
untukku hanya akan menjadi sebuah acara yang biasa saja. Aku hanya mengenal
beberapa teman saja, itu pun merupakan teman-teman baikku ketika SMP
sebelumnya. Aku sama sekali tidak mengharapkan akan mendapatkan wajah-wajah
baru untuk ku jadikan pujaan seperti teman-temanku yang lainnya. Maklum, siswa
baru, sedikit banyak akan mencari kenalan baru, dan mungkin kekasih baru.
Pada pertengahan acara
penggemblengan siswa baru itu, aku dan seorang teman baikku sempat banyak
bercerita mengenai acara-acara itu. Tak terkecuali mengenai laki-laki yang
menarik hatinya. Baru beberapa hari di sini, Nanda, teman baikku bercerita
bahwa ia menyukai salah seorang kakak kelasku, yakni Handi. Nanda menyukainya
karena Handi dikenal sebagai siswa yang smart,
sabar, dan alim. Tapi bagiku, ia sama saja dengan laki-laki lainnya. Sama
sekali aku tak tertarik untuk mengenalnya.
“Vi, itu tuh, cowok yang aku
bilang kemarin.” ucap Nanda padaku sambil berbisik-bisik di kantin sekolah.
“Mana, sih, Nan?” tanyaku.
“Itu yang pake kacamata.” Jawab
Nanda sambil menunjuk ke arah pintu kantin. Seketika aku tahu laki-laki itu.
Tak ada yang menarik darinya.
“Oh, itu.”
“Iya, kenapa?Lumayan, kan?”
“Biasa aja, Nan. Iya, sih,
wajahnya keliatan smart. Kacamatanya,
tuh, yang bikin keliatan pinter.hehe..” celetukku. Memang, tak ada yang menarik
untuk ku perhatikan saat itu.
Tiriiiiiiririiiitt...Tiririiiriiitt...
22.22 ..
Ah, malam-malam seperti ini
ponselku berbunyi. Nada ringtone yang khas dari ponselku mengagetkan
konsentrasiku dalam menyelesaikan tugas sekolah. Ku raih ponselku di atas
tempat tidur. Aku melihat ada nomor asing di panggilan tidak terjawabku.
“Siapa, sih, ini? Apa gak tahu
sudah malam gini.” ujarku kesal. Kemudian aku menjawab panggilan itu dengan
pesan singkat yang hanya mempertanyakan siapa pemilik nomor itu. Lalu ku
letakkan kembali ponselku di samping buku-buku di meja belajarku. Aku kembali
menekuni buku-buku di depanku. Tidak lama kemudian aku melirik ponselku. Tidak
ada jawaban. Hal ini membuatku semakin kesal dan penasaran. Selama beberapa hari
ini aku tak pernah memberikan nomor ponselku pada siapapun kecuali pada
teman-teman sekelasku. Aku berpikir kembali sambil mengingat-ingat. Perasaanku
mengatakan bahwa ada orang asing yang tak kukenallah yang menelponku.
‘Sudahlah. Lebih baik aku kembali
menyelesaikan tugasku daripada mengurusi orang yang gak jelas.’ gerutuku dalam
hati.
Beberapa hari berikutnya, aku
sempat bertanya temanku, mungkin ada yang tahu siapa pemilik nomor itu.
Alhasil, ada seorang teman baikku di kelas yang kemungkinan mengetahui siapa
orang itu. Ia menduga bahwa itu adalah milik salah seorang kakak kelas kita
sendiri. Setelah ia mengecek di ponselnya, ternyata benar, nomor itu milik
kakak kelas, Handi.
Beberapa kali aku sempat
mendesaknya dalam pesan singkat untuk mengakui namanya. Namun, ia tak pernah
mengakuinya secara tersurat. Dari beberapa pesan yang diberikannya, tanpa sadar
ia mengakui siapa dirinya. Dia adalah Handi. Aku sempat terheran, untuk apa
Handi menghubungiku. Aku bahkan tidak pernah berkenalan dengannya sama sekali
sebelumnya. Dan... darimana ia mengetahui nomor ponselku?Entahlah. Yang aku
tahu, semakin hari kami sering mengirimkan pesan singkat satu sama lain.
Kemudian aku sempat teringat bahwa temanku, Nanda sangat menyukainya. Aku pun
memanfaatkan itu untuk mencari informasi mengenai Handi untuk Nanda, bukan
karena aku memang menyukainya.
Beberapa bulan dari perkenalan
melalui pesan singkat itu, aku merasa terbiasa untuk mengirimkan pesan singkat
tiap hari padanya, begitu pun dia. Aku merasa ada yang kurang bila sehari saja
tidak mendapat sapaannya melalui pesan singkat itu, meskipun setiap bertemu
dengannya di sekolah selalu berusaha menghindar dan tidak menyapa. Akhirnya,
aku bercerita pada Nanda mengenai Handi dan kebiasaan kami.
“Sudah, gak apa-apa kalau kamu
memang mau mendekatinya, Vi. Aku menyukainya hanya sebatas kagum saja karena
dia pintar dan baik. Itu saja, bukan karena aku punya perasaan lebih padanya.”
tutur Nanda sambil tersenyum. Aku tahu dia jujur. Wajahnya tidak menyiratkan bahwa
ia keberatan. Aku membalasnya dengan senyuman lega.
5 bulan berlalu..
Sudah 5 bulan sejak perkenalan
kami yang cukup unik. Namun hubunganku dengan Handi sama seperti bulan-bulan
sebelumnya, tidak ada yang berubah. Kami tidak mengikat sebuah hubungan khusus.
Aku tahu, aku mulai merasakan apa itu cinta, mulai merasakan kehadirannya yang
lebih dalam hidupku. Namun, sebagai perempuan, aku tidak dapat berbuat apa-apa.
Aku merasa, sebagai seorang perempuan hanya patut menunggu ungkapan dari
laki-laki, tidak lebih. Sudah 5 bulan perkenalan, ia sama sekali tidak
menyatakan perasaannya secara jelas. Apalagi menyatakan untuk memiliki sebuah
hubungan khusus.
Namun ada yang mengganjal,
beberapa hari ini ia mulai mengirim puisi-puisi yang menurutku tidak pantas
untuk dikirimkan kepada seorang teman biasa. Ya, teman biasa. Aku hanya
menenangkan pikiranku, bahwa ia hanya menganggapku sebagai teman biasa, karena
ia selama ini tak pernah menyatakan apapun padaku. Sering sekali perasaanku
bergejolak, gelisah. Apa yang harus aku lakukan sebagai seorang perempuan dalam
posisi kali ini?Haruskah aku memulai terlebih dahulu untuk mengungkapkannya.
Keluargaku bukan tipe keluarga
yang terlalu terbuka terhadap perasaan, terlebih pada pihak perempuan.
Keluargaku menanamkan nilai ‘nerimo’. Tidak
pantas bagi perempuan untuk mendahului atau memulai sesuatu, terlebih sebuah
hubungan dengan lawan jenis. Inilah yang akhirnya membuatku memutuskan untuk
memilih diam daripada mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Handi. Aku
memilih untuk menyimpannya rapat-rapat tanpa ada yang tahu, kecuali buku
harianku. Bahkan teman-teman sering menggodaiku bahwa sebenarnya Handi punya
perasaan padaku. Aku hanya bisa menyangkal perkataan teman-teman, dan..
perasaanku.
“Vi..” panggil Handi lembut.
Lamunan panjangku seketika terbuyar begitu saja. Lamunan 12 tahun yang lalu.
“i..iya, Mas Han.” sahutku sambil
menyeka air mataku yang sedari tadi mencoba menembus ke dalam pipiku.
“Aku..aku minta maaf.. Aku minta
maaf karena dulu sama sekali tak mencoba mempertahankanmu. Maafkan aku yang
akhirnya meninggalkanmu begitu saja. Aku tahu kau terluka, aku tahu kau
terjatuh, namun aku sudah terlanjur menjatuhkan pilihanku pada Endin. Aku tidak
bisa berbuat apa-apa. Seandainya aku tahu bahwa kau juga sangat mencintaiku
dulu...”
“Bahkan..sampai detik ini, Mas
Han...” sahutku begitu saja. Entah apa yang membuatku begitu berani menjawabnya
dengan jujur. Bahkan menjelang detik-detik pertunanganku yang tinggal beberapa bulan lagi, aku masih menyimpan rasa itu. Rasa yang ingin meledak bagai sebuah
bom yang ku buang dalam dada.
“Mas.. saat itu aku tidak berani
jujur dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya padamu, bukan berarti aku tidak
mencintaimu. Aku hanya terbelenggu dengan posisiku sebagai perempuan. Perempuan
yang tidak berhak untuk memulai. Yang katanya seorang perempuan hanya boleh
menunggu dan menerima..”
“Vi, kejujuran itu milik
siapapun. Kalau kau suka, katakan. Kalau tidak, katakan. Tidak selamanya
perempuan harus menunggu, Vi. Kau punya hak atas perasaanmu. Siapapun punya hak
atas perasaannya, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Saat itu, sesungguhnya
aku juga sedang menunggu respon darimu. Namun, pada akhirnya kau lebih memilih
untuk tidak mengatakan apapun tentang perasaanmu.” tutur Handi dengan tenang.
Ia bahkan masih sangat tenang di keadaannya sekarang. Pipiku kembali berurai
air mata. Deras. Sederas hujan yang kian menjadi saat ini.
“Andaikan..andaikan saat itu,
Mas..”
Beberapa hari ini hubunganku
sedang tidak baik dengan Handi. Pertengkaran lewat pesan singkat terjadi,
padahal sudah beberapa hari berlalu.
Tittit..titit..titititit...
Aku membuka pesan singkat itu.
Handi. Besok pagi ia ingin bertemu denganku di dekat mushola sekolah. Aku pun
membalasnya dengan singkat, bahwa ia bisa menjelaskan lewat pesan saja, tak
perlu bertemu. Ia pun menolak. Ia mengatakan padaku, apabila ia ingin tahu
mengapa ia bersikap aneh akhir-akhir ini, aku harus menemuinya di dekat mushola
besok sepulang sekolah.
Keesokan harinya, aku menuruti
permintaannya. Tanpa basa-basi, aku bertanya padanya.
“Ada apa kau memintaku datang ke
sini?” tanyaku dengan berdiri tanpa melihat wajahnya.
“Perlu kamu ketahui, aku sama
sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu atas sikapku beberapa hari ini. Aku
bersikap seperti itu karena aku punya alasan.”jawabnya sambil berdiri dan
menatap wajahku tanpa berhenti.
“Halah, sudahlah. Aku tahu niatmu
hanya mempermainkan aku saja selama ini. Bisa, ya, kamu bersikap begitu
padaku?”
“Vi, kamu tahu, apa alasanku
begitu padamu?”
“Tidak.” jawabku ketus. Aku masih
memalingkan wajahku darinya.
“Vi, asal kamu tahu. Aku bersikap
begitu, karena... karena..”
“Karena apa? Hah?”
“Karena aku tak mau kau tahu
kalau aku suka padamu.” jawabnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, kemudian
hatiku berdegup kencang sekali. Aku sama sekali tak percaya yang ia katakan.
Aku pun bingung apa yang harus aku katakan. Tetiba saja meluncur kata-kata
singkat dari bibirku.
“Sudah?Gak ada yang mau kamu
katakan lagi?”
“Iya.”
“Baik, silakan pulang. Aku juga
mau pulang dan istirahat.” ucapku sambil nggeloyor tanpa memperhatikannya lagi.
Sejak kejadian itu, aku semakin
dekat dengan Handi. Semakin hari Handi semakin sering mengungkapkan rindunya
padaku, meskipun ia masih belum sekalipun menawarkan hubungan khusus padaku.
Masih berteman. Lagi-lagi aku terbentur sebuah pertahanan komitmenku. Kegalauan
antara logika dan hati. Antara norma dan perasaan. Selama itu, aku hanya
menjalani saja, menerima ungkapan-ungkapannya yang selalu coba ku tangkis dengan
logikaku sebagai perempuan.
‘Malam ini,sinar bulan tak seperti biasa.Ia meredup terus.Begitupun aku,
Vi.Mungkin aku sedang menderita missing syndrom.hehe’ Begitulah isi pesan
singkat yang paling ku ingat. Ia selalu punya cara unik sendiri dalam mengungkapkan
hatinya. Inilah yang membuat hatiku galau setiap malam, apakah aku harus
mengungkapkan hal yang sama atau tidak. Aku pun takut terluka, berpikir apakah
ini hanya permainannya saja. Mengungkapkan perasaannya tanpa mau terikat
hubungan apapun.
4 Tahun berlalu..
Seperti dugaanku, sejak
kelulusannya di bangku SMA dan keputusannya meneruskan kuliah di Bandung,
hubunganku dengan Handi semakin renggang. Bahkan tidak ada komunikasi sama
sekali. Aku sama sekali tidak berani menghubunginya, terlebih ku ketahui bahwa
ia telah menjalin sebuah hubungan khusus dengan Endin. Hingga saat menjelang
keberangkatanku ke kota Bandung, aku sempat mengupdate status di salah satu media sosial yang aku punya. Tanpa ku
sangka ia mereplynya. Ia menanyakan
apakah benar aku akan ke Bandung. Aku hanya menjawab seadanya, tanpa berharap
bertemu dengannya. Aku tahu, mustahil untuk bertemu dengannya di Bandung.
Namun, entah kenapa, sesampainya
aku di Bandung, aku menuliskan sebuah SMS
padanya. Aku mengabarkan padanya bahwa aku sudah di Bandung. Saat itu, aku
mengirimkan pesan tanpa berharap balasan, karena memang komunikasiku dengannya
sudah terputus sejak lama. Yang sempat aku herankan, entah kenapa aku bertindak
impulsif dengan menawarkannya mampir ke rumah tempat aku menginap. Namun, yang
membuatku lebih kaget lagi, ia bersedia untuk mampir sebentar dan menemuiku
pagi-pagi sebelum aku pulang ke Surabaya. Aku heran, bingung,
sekaligus..senang.
Pukul 8.00 ia memberitahukanku
bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju tempatku menginap. Aku sempat menepis
harapan bahwa sebaiknya ia tak datang karena hujan. Semalaman aku berharap
bahwa akan ada hujan deras pagi ini, sehingga Handi tak perlu memenuhi
janjinya. Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Aku masih menduga-duga, untuk
apa ia memenuhi tawaranku itu. Apakah ia ingin menyampaikan sebuah hal penting
untukku? Apakah ia ingin menyampaikan undangan pernikahannya? Atau..apakah ini
tentang perasaannya yang dulu pernah ia ungkap padaku?Entahlah..yang jelas aku
belum siap bertemu dengannya. Tak ku bayangkan akan seperti apa reaksiku bila
bertemu dengannya. Tapi, ternyata harapanku pupus. Pukul 9 tepat ia suda di
depan rumah tempatku menginap.
“Hai, Vi. Lama kita gak ketemu.
Kamu..apa kabar?” tanya Handi masih dengan wajahnya yang tenang, sama seperti 4
tahun lalu terakhir aku bertemu dengannya.
“Baik. Kamu...sekarang sibuk
apa?” balasku sambil menggenggamkan tanganku. Bahasa tubuhku yang cemas mulai
nampak. Kami akhirnya ngobrol banyak. Dari sekian obrolan kami, ia hanya
bertanya beberapa hal yang menurutku kurang penting dibandingkan dengan
usahanya yang sulit untuk bisa menempuh jauhnya perjalanan ke tempatku
menginap. Tak ada hal yang menarik untuk kita bahas. Bahkan aku dan Handi lebih
banyak diam.
Jam sudah menunjukkan pukul 10
pagi. Sebelumnya, aku sempat meminta Handi untuk mengantarku ke kebun stroberi
menyusul bibiku di sana. Kami pun berangkat menggunakan motor Handi. Sepanjang
perjalanan, Handi banyak bercerita mengenai pengalamannya ketika dulu pernah
mengunjungi daerah yang kami lewati. Aku baru saja teringat, ini adalah pertama
kalinya aku dan Handi berboncengan setelah sekian lama kami berkenalan. Aku
kikuk. Tak tahu akan mengatakan apa.
“Aku langsung pulang, ya, Vi.
Masih banyak tugas di kampus.” ucapnya sambil tersenyum. Apa? Hanya ini saja
pertemuan kami? Kurang dari 2 jam saja kami bertemu, tanpa mengatakan hal yang
berarti. Aku hanya bisa pasrah melepas kepergiannya. Aku pasrah atas pertemuan
yang entah akan menjadi terakhir atau tidak.
Mocca di depanku masih utuh dan
semakin mendingin. Aku masih terdiam dan menatap wajah laki-laki yang sudah
lebih dari 1 jam di depanku. Kami terdiam. Inilah saatnya untuk aku dan Handi
menyatakan semuanya. Menyatakan apa yang selama ini tersudut usang jauh di
batas antara perempuan dan laki-laki.
“Mas, aku tahu waktu tidak akan
berputar kembali seperti dulu. Namun, kali ini aku lega bisa bertemu denganmu
kembali dan mengetahui bahwa semuanya masih seperti dulu. Sama seperti dulu.”
ucapku lirih.
“Vi, meski kita telah berbeda,
dan tak akan lagi sama, namun satu yang masih tetap akan ku jaga. Tak akan
pernah digantikan siapapun. Dan ingat, perempuan berhak mengatakan apapun yang
ia rasakan, bukan hanya menunggu. Kau harus ingat itu, Vi.” Ucap Handi. Kali
ini entah tetesan yang ke berapa kembangan bening yang dari tadi menerjuni
pipiku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Mungkin memang ini lebih
baik. Cukup begini. Tak ada harap. Hanya saling diam dan melihat. Dan…ya, tak seharusnya aku dulu terdiam
seperti moccaku sore ini. Perempuan tak harus hanya diam saja. Ia punya hak
untuk mengatakan apapun yang ia rasakan. Seperti gerimis yang terus bercerita
pada senja ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar