Laman

Jumat, 28 Agustus 2015

Catatan di sudut ruang kecil

Pagi ini tak banyak aktivitas dalam hidupku.

Hanya menunggu. Menunggu...

Ya.. menunggu. Menunggu dalam rangka berjuang.

Ini bagian dari tawakkal..


Kadang memang selalu saja ada emosi negatif yang muncul di sela menunggu.

Ada gundah, gelisah, resah, dan bahkan sedikit amarah.

Ya, amarah..

Amarah karena serasa semuanya bersamaan,

Terjadi dalam sekaligus..


Mereka,

Mana ada yang mau tahu.

Aku hanya bagian minoritas di antara mayoritas.

Aku bukan sedang belajar tentang statistik.

Tapi mengenai kepekaan di antara yang kebal.


Aku menjadi bagian yang peka,

Lapisan yang mudah tergesek oleh sedikit sentuhan.

Menjengkelkan memang menjadi pribadi seperti ini.

Tapi, entah kenapa, aku mencintai pribadiku pada bagian ini.


Mungkin orang bilang ini sebagai bentuk pertahanan egoku,

Terhadap hal yang tak menyenangkan bagiku.

Namun, inilah aku.

Aku mencintai diriku,

Aku mencintai sepiku.

Yang awalnya sebagai situasi termuakkan olehku.


Aku mencintai tawaku,

Aku mencintai tangisku,

Aku mencintai bahagiaku,

Aku mencintai senduku.


Mungkin mereka bilang,

"Aku terlalu baper, terlalu cengeng"

Tapi, apakah mereka tahu juga,

Dari apa aku terbentuk?

Dari situasi apa aku dibesarkan?


Tak ada yang tahu.

Yang mereka tahu adalah aku yang sekarang.

AKu yang harus memasang muka poker,

Memasang wajah si sanguin,

Dengan mengabaikan si melankolik.


Aku bilang, aku mencintai semua pribadiku.

Si melankolik, si koleris,

Si sanguin yang terkadang muncul

Si plegmatis yang meminta perhatian.


Ah, rupanya aku terlalu jauh dan ruwet sendiri pagi ini.

Terlalu menelaah dengan berbagai bahan bacaan yang terpatri dalam otakku.


Wahai diri,

Jangan pernah khawatir, aku akan selalu mencintai apapun yang terjadi,

Apapun yang kau rasa,

Tanpa menyalahkanmu sedikitpun.

Karena kita adalah satu, melebur dalam jiwa dan raga.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar